Apakah ngidam makanan memang terbukti secara saintifik, atau hanya sebuah kebiasaan? Bisakah produsen makanan memainkan peran dalam menentukan pilihan makanan kita?

Sebenarnya, hal ini mungkin hanya sebuah pembenaran diri karena manusia terbiasa mengonsumsi jenis makanan tertentu dan terus mencari makanan tersebut, melihat hal ini produsen terus berusaha memenuhi selera mereka dan memperkuat hasrat tersebut.

'Titik kebahagiaan' – target produsen makanan

Menurut Howard Moskowitz, seorang psikolog eksperimental terlatih dari Harvard yang memelopori konsep dan peran mereka dalam pengembangan produk saat mulai menyaring jatah tentara pada tahun 1971, 'titik kebahagiaan' makanan adalah formulasi produk yang paling sesuai untuk konsumen.

Produsen melakukan penelitian ini secara sistematis, menghasilkan variasi sistematis dari jenis dan jumlah bahan dan/atau bumbu dalam produk makanan yang sama. Mungkin ada beberapa titik kebahagiaan yang berbeda untuk satu makanan, misalnya pada kopi – beberapa suka  rasa yang kuat sementara yang lain lebih suka rasa yang biasa atau lebih ringan.

Manusia pada dasarnya lebih suka makanan manis dan gurih, dan secara bertahap, titik kebahagiaan direkayasa bahkan untuk produk yang seharusnya tidak manis. Konsumen tidak lagi tahu rasa manis sebenarnya.

"Setiap generasi dari produsen makanan ingin meningkatkan penjualan produknya, dan cara termudah untuk melakukan ini adalah menambahkan gula ke dalam produknya," kata Moskowitz. Namun, hal ini membahayakan preferensi makanan konsumen – "tambahkan sedikit setiap kali produksi, sehingga setelah satu dekade, perubahannya akan menjadi lebih besar," katanya.

Rasa kenyang sensoris: Mengapa kita makan terlalu banyak

Terdapat aspek lain yang harus diperhatikan oleh produsen ketika konsumen merasa kenyang setelah mengonsumsi makanan tertentu. Hal ini terjadi karena rasa kenyang sensoris. Intinya, konsumen mengalami penurunan kenikmatan sementara karena mengonsumsi makanan tertentu, dan akibatnya nafsu makannya diperbarui saat ia mencoba rasa atau makanan baru.

Untuk mengatasi hal tersebut, produsen mengumpulkan pengalaman rasa yang diberikan, sehingga jika tingkat kepuasan sensoris turun, masih tetap berada di tingkat yang cukup tinggi bagi konsumen untuk tetap mengonsumsi produk tersebut hingga habis (atau bahkan setelah, yang mengarah pada makan untuk kedua kalinya). Hal ini dapat menyebabkan konsumen makan lebih banyak dari seharusnya.

Hal ini biasanya dilakukan dengan menambah berbagai bahan dalam satu produk makanan untuk memastikan tekstur dan variasi rasa, inilah yang menjadi sebab mengapa orang dapat merasa kenyang namun tetap memiliki ruang untuk pencuci mulut, yang memiliki rasa sangat berbeda.

Rasa kenyang sensoris mungkin merupakan mekanisme evolusioner pelindung diri untuk menghindari kelebihan sensorik, menurut Civille, dari Sensory Spectrum. "Dalam kasus makanan, adaptasi menyebabkan rasa kenyang."

Mengendalikan pola makan

Produk makanan dirancang untuk mengunguntungkan produsen, namun merugikan kesehatan konsumen, terutama bagi anak-anak, yang 'terprogram' untuk menyukai rasa manis – mereka menjadi sulit mengonsumsi makanan dengan kandungan nutrisi seperti brokoli dan tomat, yang memiliki rasa lain seperti pahit dan asam. Hal ini dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan seperti obesitas dan malnutrisi.

Bagaimanapun juga, Anda bisa mengendalikan pola makan untuk diri sendiri dan membantu pasien melakukan hal yang sama. Berikut adalah delapan tips sehat untuk melakukannya.

1. Konsumsi protein

Protein memiliki efek yang lebih mengenyangkan dibanding lemak atau karbohidrat. Penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan asupan protein dapat mengurangi nafsu makan hingga 60%. Contoh makanan berprotein adalah makanan laut, produk susu dan kedelai.

2. Hindari kelaparan berlebih

Kelaparan menimbulkan nafsu makan – kita akan cenderung memilih makanan yang tidak sehat saat berbelanja bahan makanan. Untuk menghindarinya, usahakan untuk menyiapkan kudapan sehat, seperti buah.

3. Tambahkan sedikit lemak ke dalam makanan

"Anda harus menambah sedikit lemak dalam makanan, karena lemak menarik dan mengenyangkan. Lemak mengandung rasa dan melepaskan rasa dengan cara yang berbeda daripada produk berbasis air," kata Civille. Coba tambahkan selai kacang ke camilan sehat atau beberapa alpukat.

4. Hentikan nafsu makan

Melatih diri untuk memilih makanan yang kurang manis, asin, atau berlemak, dengan memadukan produk baru dengan sesuatu yang disukai konsumen. Hal ini dapat mengurangi nafsu makan berlebih.

5. Kontrol nafsu makan

Pastikan apakah nafsu makan timbul karena benar-benar lapar, atau hal lain seperti stres atau bosan. Kesadaran akan kebutuhan makan sebenarnya dapat membantu menghindari nafsu makan yang impulsif.

6. Bagi jumlah makanan yang akan dibeli menjadi dua

Pastikan setengah dari belanja yang dibeli adalah makanan sehat seperti buah dan sayuran. Hal ini bisa dilakukan saat berbelanja dengan membagi troli belanja menjadi dua bagian, dan menyediakan satu setengah bagian untuk makanan sehat.

7. Rencanakan menu makan

Rencanakan semua makanan sehat yang akan dibeli. Dengan menentukan apa yang harus dimakan, keinginan spontan dapat dieliminasi. Hal ini mengurangi godaan untuk mengubah rencana dan nafsu makan berlebih. MIMS

Bacaan lain:
Susu kecoa - Makanan sehat terbaru
7 makanan probiotik untuk usus sehat
Makanan adalah obat: Apakah nutrisi saja cukup untuk menyembuhkan penyakit?

Sumber:
http://edition.cnn.com/2016/11/21/health/bliss-point-food/
http://www.npr.org/sections/thesalt/2015/12/16/459981099/how-the-food-industry-helps-engineer-our-cravings
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20847729
https://authoritynutrition.com/11-ways-to-stop-food-cravings/