Banyak orang suka mengunyah permen karet - mungkin karena kebiasaan atau untuk menyegarkan mulut setelah makan. Selain itu, ada juga banyak jenis permen karet yang ditargetkan untuk beberapa orang saja, seperti permen karet nikotin untuk para perokok.

Mengunyah permen karet merupakan kegiatan yang sering dilakukan, tetapi tidak banyak yang mengetahui manfaat dari mengunyah permen karet. Seiring berjalannya waktu, peneliti menemukan manfaat berbeda dari mengunyah permen karet. Berikut beberapa manfaat dari beragam penelitian.

1. Mengunyah permen karet bisa memengaruhi metabolisme

Di tahun 1999, ada penelitian yang menyediakan 8,4 gram permen karet bebas kalori dan responden diminta untuk mengunyah dengan frekuensi tertentu selama 12 menit, dengan bantuan metronom. Pengeluaran energi diukur setelah periode mengunyah tersebut.

Berdasarkan hasil ini, rata-rata pengeluaran energi meningkat pada semua subjek saat mengunyah, dari 58±11 kkal per jam hingga 70±14 kkal per jam. Ini menunjukkan adanya efek metabolik yang signifikan dari mengunyah permen karet.

2. Mengunyah permen karet bisa menurunkan angka kejadian gigi berlubang

Manfaat mengunyah permen karet bebas gula untuk kesehatan oral sudah banyak diketahui dan juga ditunjukkan dalam sejumlah besar penelitian. Penelitian yang dipublikasi tahun 2011 menunjukkan signifikansi mengunyah permen karet bebas gula dalam menurunkan jumlah bakteri Streptococcus mutans di saliva.

Bakteri ini banyak ditemukan dalam lubang gigi dan juga merupakan penyebab gigi berlubang. Menurunnya jumlah bakteri ini kemungkinan terjadi kareta sifat antibakteri dari xylitol yang terkandung dalam permen karet.

Penulis penelitian, Mohita Marwahar dan Manohar Bhat dari SGT Dental College and Research Institute dan Jaipur College and Hospital secara berurutan, merekomendasikan mengunyah dua permen karet bebas gula dua kali sehari untuk menurunkan jumlah koloni Streptococcus mutans.

3. Mengunyah permen karet berhubungan dengan penurunan nyeri

Menurunnya angka nyeri merupakan efek lain dari mengunyah permen karet dalam beberapa penelitian. Dalam sebuah percobaan, partisipan diminta untuk mengikuti protokol merasakan reflek fleksi (nociceptive flexion reflect/NFR). Hal ini meliputi stimulasi elektrokutaneus dari kaki bagian bawah, dan pengukuran aktivitas otot di kaki bagian atas setelahnya.

Dalam penelitian yang dilakukan tahun 2015, partisipan kemudian diminta untuk mengunyah permen karet rasa mint selama 20 menit. Hasil menurunjukkan bahwa mengunyah permen karet langsung menurunkan NFR dan efeknya masih terjadi hingga 30 menit setelah mengunyah.

4. Mengunyah permen karet berhubungan dengan meningkatnya kesadaran

Penemuan menarik dari penelitian lain yang dipublikasi tahun 2015 menunjukkan adanya hubungan antara mengunyah permen karet dengan meningkatnya kandungan kortisol dan kesadaran individu.

Peneliti menemukan bahwa kecepatan jantung lebih besar pada pengunyah biasa dan non-pengunyah biasa. Mengunyah permen karet selama waktu kerja dihubungkan dengan menurunnya masalah kognitif dan semakin meningkatnya produktivitas.

Mekanisme yang menyebabkan hal ini adalah karena adanya aktivasi otot wajah dan sistem saraf pusat - kemungkinan karena stimulasi dari aliran darah pusat atau penghantaran glukosa.

Karena banyaknya manfaat mengunyah permen karet, tidak mengejutkan lagi jika mengunyah permen karet dijadikan sebagai salah satu terapi tambahan.

Dengan demikian, penting bagi tenaga kesehatan, terutama dokter, untuk menyadari manfaat mengunyah permen karet. Selain itu, karena penggunaannya yang mudah, mengunyah permen karet juga bisa meningkatkan kepatuhan pasien. MIMS

Bacaan lain:
3 cara tenaga kesehatan mencegah onset demensia digital
Banyak informasi medis palsu tersebar di media online
Pembiayaan dari industri bisa jadi kontraindikasi dengan tujuan penelitian kontrol infeksi


Sumber:
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM199912303412718#t=article 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4449949/ 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4999634/ 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4450211/ 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4468459/