Seiring dengan bertambah majunya dunia medis, manusia banyak diserang oleh informasi nutrisi dan banyaknya pilihan, khususnya makanan. Konsumen sekarang ini memiliki lebih banyak informasi dan pengetahuan – dengan demikian, lebih pintar dalam membuat keputusan.

Banyak orang mulai mengikuti regimen kaku atau program detoksifikasi, meskipun beberapa mungkin tampak berlebihan. Bagi mereka, makanan 'sudah' dianggap sebagai obat.

Di usia 78 tahun, Paula Wolfert, mantan ratu daging, mulai menjauhi roti dan makanan manis. Sarapan paginya hanya berupa satu gelas setengah air hangat dengan lemon, kemudian diikuti dengan "bulletproof coffee" dibuat dari mentega non-garam dan minyak kelapa. Ia memanjakan diri dengan minuman sehat – campuran sayur-sayuran, kacang-kacangan, alpukat dan kefir – untuk kudapan sebelum makan siang.

Ia mulai melakukan diet ini sejak didiagnosis demensia di tahun 2012. Dan karena kemampuan ingatannya semakin menurun, ia menganggap makanan merupakan salah satu dari beberapa variabel yang bisa dikontrol. Ia percaya aturan makan ketat turut membantu memperlambat onset gejala demensia dan membuatnya "sangat sehat".

Seperti Paula, banyak orang juga mengikuti ragam diet dan program detoksifikasi – terutama saat program ini juga diterapkan oleh para selebritas, yang menggunakan kata-kata Hipokrates yang terkenal – "Jadikan makanan Anda sebagai obat dan obat menjadi makanan." Selain itu, karena guru kesehatan juga mempromosikan gerakan 'au naturel' – tidak dipungkiri lagi banyak toko mulai berlomba-lomba menjual makanan sehat, dan obat mulai tersingkirkan.

Pertanyaan yang muncul: Bisakah makanan menggantikan obat? Apakah apa yang kita makan benar-benar memberikan pengaruh? Apa perbedaan (pengaruh) yang terjadi saat manusia mendetoksifikasi sistem tubuhnya?

Yang menariknya, peran makanan dalam nutrisi dalam tubuh dan pikiran membuat orang-orang tersesat dalam omong kosong belaka.

"Ada banyak konflik mengenai makanan," jelas Dr Christine Pace, seorang dokter penyakit dalam di Pusat Medis Boston. "Kita hidup dalam budaya dimana kita bisa membeli makanan tidak sehat dengan murah."

Masalah baru dalam pola makan yang masuk akal – resep makanan sebagai resep obat

Resep obat seringkali dianggap sebagai resep makanan bagi beberapa dokter, namun beberapa kelompok tenaga kesehatan juga menyarankan pasien untuk menghindari makanan cepat saji dan memperbaiki gaya hidup tidak sehat. Tenaga kesehatan bahkan sekarang mulai banyak menggunakan daftar dan brosur – seperti yang juga dilakukan dalam dapur sebuah restoran. Dengan mengajarkan dan memandu pasien cara memasak, mereka berharap bisa memicu pasien untuk memiliki tingkat nutrisi dan kesehatan yang lebih baik. Beberapa fakultas kesehatan bahkan memiliki kurikulum kuliner untuk melatih dokter agar bisa menyarankan pasien mengenai pola makan mereka.

Dr Nimali Fernando, seorang dokter anak di Spotsylvania, Virginia, mencatat hubungan antara masalah pasien dan pola makan yang buruk – bahkan masalah yang mungkin tampak tidak berhubungan sekalipun, seperti mengompol. Ia memulai blog mengenai makanan dan menggunakan dasar agama untuk kelas memasaknya.

Di tahun 2014, ia membuka Yum Paediatrics, pratek pediatrik berdasarkan nutrisi yang berisi dapur seluas sekitar 56 meter persegi. Bersama dengan kegiatan ini, ada juga Dr Yum Project, berupa kurikulum sukarela mengenai nutrisi untuk anak di bawah usia sekolah di beberapa sekolahan di Virginia.

"Saya harus melakukan lebih banyak daripada hanya memberikan pamflet. Saya perlu memiliki dapur dalam kantor saya," catat Dr Fernando. "Saya mencoba menulis lebih banyak resep obat yang berisi resep makanan untuk melihat apakah kita bisa mencampur masalah ini dengan makanan."

Di rumah sakit anak di San Antonio, program Culinary Health Education for Families (CHEF) mengajarkan anak-anak dan orangtua bagaimana cara berbelanja, mempersiapkan dan memasak makanan bernutrisi. Banyak dokter merujuk pasien mereka untuk mengikuti program ini, meskipun program ini hanya dilakukan di beberapa tempat seperti YMCA.

The Yum Paediatrics set up by Dr Nimali Fernando, a paediatrician in Spotsylvania, Virginia, provides hands-on lessons on nutrition. Photo credit: Julia Rendleman/The New York Times
The Yum Paediatrics set up by Dr Nimali Fernando, a paediatrician in Spotsylvania, Virginia, provides hands-on lessons on nutrition. Photo credit: Julia Rendleman/The New York Times


Anak Dharti Patel yang berusia 10 tahun, Rishi, mengikuti program ini. Ia belajar cara memotong sayur dan buah, dan bagaimana cara memasak makanan sederhana seperti ayam dan ikan, salad dengan saus buatan sensiri, tostadas dan parfait yoghurt untuk makanan penutup.

Sekarang, ia menjadi lebih paham akan kandungan nutrisi dalam produk dan juga membaca label nutrisi saat mereka berbelanja di supermarket. "Saat ia makan, ia sekaran memeriksa berapa banyak warna yang ada dalam satu piring," ungkap Mrs Patel.

Dr Warren Ross, yang praktek klinisnya berlokasi di Ellicott City, Md., juga memiliki dapur pengajaran.

"Dokter berapa di garis depan dalam hal membantu pasien mengubah pola makan, dan mereka harus memanfaatkan hal ini dalam perawatan medis," jelas Dr Ross. "Seorang pasien mungkin ingin agar dokter mencari kesempatan untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang untuk pola makannya; dan mereka membutuhkan dorongan untuk mengubah pola makan mereka."

Makanan dan kesehatan sangat berhubungan, dan koki rumah sakit Canada, Joshna Maharaj mengatakan, "Nutrisi sudah lama dilupakan," Bagi pasien yang didiagnosis diabetes atau hipertensi, kelas memasak biasanya dianggap sebagai pemeriksaan sementara.

Di tahun 2011, saat Maharaj memilih jasa memasak untuk rumah sakit Toronto, ia terkejut melihat bahwa dapur tersebut hampir tidak memiliki produk segar dan mereka bahkan tidak memiliki kulkas untuk menyimpan sayur yang ada. Pasien disajikan daging yang sudah diproses dan berminyak hingga Maharaj "tidak memiliki kata-kata lain untuk menjelaskannya".

Ingin mengubah hubungan antara makanan dan kesehatan, Maharaj kemudian menjadi seorang koki, mencari pensuplai lokal dan membuat keputuan radikal untuk menyajikan makanan yang lengkap, dan menarik dalam setiap penyajiannya. Dengan menu baru, moral dan kesehatan pasien juga bisa ditingkatkan.

Membongkar mitos superfood

Meskipun sudah jelas bahwa makanan bisa meningkatkan kesehatan; namun banyak tenaga kesehatan tetap kekeuh bahwa makanan tidak boleh digunakan sebagai 'pengganti' obat. Banyak pasien terkecoh dengan claim media dan lebih memilih mengonsumsi sesuatu yang tidak enak, seperti yoghurt dan kacang-kacangan, daripada menelan obat pil pahit.

Makanan, bukan 'obat paten' dan tidak ada istilah superfood yang bisa menggantikan obat. Yang lebih memberikan efek daripada obat adalah persahabatan, cinta, kebahagiaan, dan budaya.

Yang jelas, apa yang kita makan mungkin memberikan sedikit pengaruh dalam kesehatan – namun kesehatan yang baik bukan hanya sekedar mengikuti aturan makan yang ketat atau program kesehatan tertentu. Banyak faktor ikut berperan – lingkungan, aktivitas fisik dan gen – semuanya penting untuk menjaga kesehatan dan kehidupan kita. MIMS

Bacaan lain:
Kunyit: Fakta dibalik 'superfood'
7 makanan probiotik untuk usus sehat
Orthorexia nervosa: Apakah Anda terobsesi dengan makanan sehat?

Sumber:
https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2017/aug/08/food-as-medicine-healthy-eating-fad-diets-bee-wilson-comment
https://www.statnews.com/2017/08/07/food-medicine-hippocrates/
https://www.nytimes.com/2017/08/09/well/family/when-the-prescription-is-a-recipe.html