Tiga penelitian klinis menunjukkan adanya potensi hubungan antara penyakit autoimun kronis, lupus – dimana sistem imun pasien menyerang sel sehat – dengan demensia, istilah yang digunakan untuk menjelaskan gangguan kognitif yang mempengaruhi daya ingat dan kemampuan belajar.

Diperkirakan setidaknya lima juta orang di seluruh dunia menderita lupus. Wanita berisiko lebih tinggi daripada pria; dan kebanyakan penderitanya berada dalam rentang usia 15 dan 44 tahun. Di antara empat jenis lupus, systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan tipe yang paling banyak diderita, atau bisa ditemukan dalam 70% kasus lupus. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan pada sendi, ginjal, paru-paru, kulit, pembuluh darah dan otak, yang pada gilirannya dapat menyebabkan gagal ginjal, artritis dan kejang.

Ketiga penelitian tersebut merupakan hasil dari data yang besar

Penelitian klinis pertama diterbitkan pada April 2016 di Arthritis Care and Research Journal, dan dilakukan oleh para peneliti dari Rumah Sakit Medis Taipei. Dengan menggunakan Database Asuransi Kesehatan Longitudinal Taiwan tahun 2005, yang mencatat 99,9% riwayat kesehatan warga Taiwan pengguna asuransi kesehatan nasional negara itu, kepala peneliti Dr Yu-Ru Lin dan rekan-rekannya mengambil sampel acak dan membandingkan tingkat demensia pasien SLE dan pasien yang tidak menderita SLE, dengan usia dan jenis kelamin yang sama.

Para peneliti menemukan bahwa risiko penyakit demensia meningkat dua kali lipat pada pasien SLE. Ada 357 kasus per 10.000 orang di setiap kelompok usia dalam kelompok lupus, dibandingkan dengan 180 kasus per 100.000 orang pada kelompok usia yang sama dalam kelompok non-SLE.

Penelitian kedua diterbitkan Maret 2017, di Journal of Epidemiology and Community Health oleh para peneliti dari Universitas Oxford di Inggris. Dipimpin oleh Michael Goldacre, seorang profesor kesehatan masyarakat, di universitas tersebut – menggunakan informasi dari 1,8 juta pasien penyakit autoimun yang dirawat di rumah sakit antara tahun 1998 dan 2012, di Inggris.

Bila dibandingkan dengan pasien yang dirawat karena alasan lain, mereka yang memiliki kelainan autoimun 20% cenderung dirawat kembali di kemudian hari karena demensia. Lebih spesifiknya lagi, penderita lupus memiliki 46% peningkatan risiko menderita demensia bila dibandingkan dengan pasien gangguan non-autoimun. Selain itu, risiko demensia vaskular pada pasien gangguan autoimun pada umumnya 28% lebih tinggi.

Recent study found that there is an increase in dementia among people with SLE.
Recent study found that there is an increase in dementia among people with SLE.

Penelitian terakhir diterbitkan pada November 2017, dalam International Journal of Geriatric Psychiatry – dimana 4.886 individu penderita SLE dibandingkan dengan 24.430 individu yang tidak memiliki kondisi tersebut pada usia dan jenis kelamin yang sama, kemudian dihitung angka kejadian demensia antara kedua kelompok tersebut. Mereka menemukan peningkatan risiko demensia sebesar 51% di setiap kelompok usia.

Penelitian yang ditulis oleh Daniela Amital dari Fakultas Kedokteran Sackler di Universitas Tel Aviv di Israel, dilakukan dengan menganalisis informasi dari database perawatan kesehatan Clalit, yang menampung informasi lebih dari 4,4 juta orang di Israel.

Darimana asal hubungannya?

Meskipun masih belum diketahui penyebab pasti potensi hubungan ini, namun Lin menyatakan bahwa kemungkinan antibodi antifosfolipid (yang ditemukan pada pasien lupus) adalah penyebab terjadinya stroke mikro – atau yang juga menyebabkan perubahan anatomi otak, atau terapi kortikosteroid, yang umum digunakan untuk pengobatan lupus yang dapat menyebabkan penurunan kognitif.

Dr Yehuda Shoenfeld, seorang peneliti autoimunitas dari Universitas Tel Aviv mengatakan, "Bila Anda memiliki kerusakan organik pada otak, kasus autoimun dapat terjadi, hal ini menyebabkan kerusakan kronis pada otak dan pada akhirnya, terjadi semacam ekspresi di atas ambang batas yang menyebabkan cacat psikologis yaitu demensia. Seperti kerusakan yang terakumulasi."

Oleh karena itu, penting bagi dokter untuk mengingat bahwa ada perbedaan antara gejala neurologis SLE dan demensia. Gejala neurologis SLE biasanya diuji menggunakan sinar-X, dimana akan terlihat gangguan pada fungsi neurologi seperti kinerja saraf.

Seperti catatan Shoenfeld, gejala neurologi "dapat berupa konversi, seperti kelumpuhan dan paresthesia – yaitu kesemutan pada tubuh. Bisa juga ditunjukkan dengan gejala paralisis. Di sisi lain, gejala demensia lebih mengarah pada hilangnya kesadaran, memori atau sebagainya. Anda tidak dapat mendeteksinya dengan sinar-X, tetapi Anda dapat mendeteksinya dengan berbicara kepada pasien dan mendengarkan, maka Anda akan tahu jika pasien kehilangan kesadaran, seperti pikirannya ada di tempat lain. Jadi dua hal ini sangat berbeda." MIMS

Bacaan lain:

Apa yang perlu Anda ketahui tentang Lupus?
Kebanyakan tuberkulosis mengalami resistensi obat karena transmisi manusia
Kesalahan diagnosis menyebabkan seorang pria 43 tahun duduk di kursi roda

Sumber:
https://www.medicalnewstoday.com/articles/320030.php 
http://www.rheumatologynetwork.com/lupus/increased-risk-dementia-possible-lupus
http://www.rheumatologyadvisor.com/home/lupus-among-autoimmune-diseases-tied-to-dementia-risk/article/641775/ 
https://resources.lupus.org/entry/facts-and-statistics
https://www.news-medical.net/news/20171108/Study-finds-link-between-lupus-and-elevated-risk-of-dementia.aspx