Ketidakpatuhan masih menjadi masalah hingga sekarang. Tindakan sederhana seperti tidak minum obat sesuai petunjuk dokter membuat usaha finansial dan intelektual dalam menemukan dan mengembangkan obat menjadi sia-sia. Studi menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pengobatan semakin menurun seiring berjalannya waktu walaupun terdapat hubungan terbalik dengan tingkat kerumitan regimen pengobatan. Pasien lansia dan pasien lainnya dengan masalah ketangkasan merupakan kelompok yang rentan untuk lupa meminum obat mereka.

Kotak obat pintar dirancang secara spesifik untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Perangkat ini terhubung dengan internet dan dapat melacak apakah pasien sudah minum obat atau belum. Jika pasien lupa minum obat, suatu perangkat lunak yang terpasang dalam kotak obat pintar ini akan menganalisis skenario secara otomatis. Alat ini kemudian akan menyediakan intervensi, mulai dari telepon otomatis, pesan teks, hingga dukungan personal. CEO dari salah satu perusahaan kotak obat tersebut mendeskripsikan alat ini sebagai "iPhone botol obat".

Apa fungsinya?

Kotak obat pintar tersebut ternyata tidak bekerja sesuai harapan sebagaimana yang ditunjukkan dalam uji acak terkendali HeartStrong. Studi ini mengikuti lebih dari 1.500 pasien di rumah sakit akibat serangan infark miokard akut dan dipulangkan dari rumah sakit dengan sedikitnya dua dari empat obat yang digunakan dalam studi (statin, aspirin, beta-blocker, atau anti platelet lainnya).

Pasien kemudian secara acak dikelompokkan ke dalam satu dari dua kelompok studi: (1) kelompok intervensi dengan botol pil elektronik atau (2) kelompok kontrol dengan perawatan biasa sesudah pulang dari rumah sakit. Hasil akhir utama dari penelitian ini adalah waktu  hingga terjadinya perawatan rumah sakit kembali atau kematian.

"Kami berharap dapat melihat peningkatan kepatuhan pengobatan yang besar sehingga terjadi penurunan signifikan biaya perawatan rumah sakit dan pelayanan kesehatan", tutur penulis utama studi tersebut, Dr Kelvin Volpp, yang juga merupakan ahli ekonomi bidang kesehatan di University of Pennsylvania's Center for Health Incentives.

Di akhir periode penelitian yang berlangsung selama 12 bulan tersebut, peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan antar dua kelompok penelitian — yang dengan demikian menunjukkan bahwa kotak obat pintar tidak menciptakan pencegahan kekambuhan penyakit.

The HeartStrong Randomised Clinical Trial looked into the effect and correlation of electronic reminders, aside other factors, with rehospitalisation. Source: The Digital Apothecary/JAMA Internal Medicine
The HeartStrong Randomised Clinical Trial looked into the effect and correlation of electronic reminders, aside other factors, with rehospitalisation. Source: The Digital Apothecary/JAMA Internal Medicine

Apa yang salah?

Hasil negatif penelitian tersebut membuat semua orang bertanya-tanya "dimana letak kesalahannya?"

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bukti kuat bahwa kepatuhan berobat merupakan masalah yang sangat rumit. Walaupun strategi ikatan yang dikembangkan dari perilaku ekonomi telah diterapkan dalam penelitian, namun masalah ketidakpatuhan masih belum cukup dibahas.

Satu kemungkinan lain adalah bahwa "lupa" mungkin bukan penyebab utama ketidakpatuhan. Studi lain yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine yang membahas tentang efektivitas alat pengingat berbiaya murah untuk meningkatkan kepatuhan obat juga menemukan hasil yang mengecewakan. Masih banyak faktor perilaku dan psikologis yang berkontribusi terhadap ketidakpatuhan — daripada hanya sekedar menempatkan faktor lupa sebagai masalah.

Alasan lain adalah pasien secara sengaja tidak mau minum obat, terutama obat untuk penyakit kronis dengan efek samping berat seperti impotensi. Dalam kasus tertentu, terutama dimana terapi membutuhkan kepatuhan seumur hidup seperti pada pasien HIV, kelelahan berobat dapat menjadi faktor lain yang menimbulkan ketidakpatuhan.

Gabungan kemajuan teknologi dengan intervensi sosial

Walaupun tidak memberi hasil yang baik dalam penelitian, namun kotak obat pintar masih memiliki harapan yang cerah di masa depan dalam mempromosikan kepatuhan obat yang lebih baik. Kuncinya adalah dengan menggabungkan kemajuan teknologi dengan intervensi sosial secara bersamaan untuk mengatasi faktor manusia. Sebab pada akhirnya, tidak ada orang yang suka menelan pil obat yang pahit. MIMS

Bacaan lain:
Waktu minum obat: Masalahnya
Efek berbedanya ukuran dan bentuk pil - dan implikasinya bagi apoteker
Apakah 'obat pintar' benar-benar memiliki kecerdasan tanpa menimbulkan efek samping?

Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16020406 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24439689 
https://www.adheretech.com http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/08/22/538153337/smart-pill-bottles-arent-enough-to-help-the-medicine-go-down 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4315727/