Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Mayo Clinic di Minnesota menemukan bahwa lebih dari 20% pasien yang mencari opini kedua pernah mendapat diagnosis salah dari dokter pertamanya.

"Terapi efektif dan efisien tergantung pada diagnosis yang benar," kata James Naessens, seorang peneliti kebijakan kesehatan di Mayo Clinic, yang memimpin penelitian.

Hanya 12% pasien yang mendapat diagnosis yang benar

Dalam penelitian, peneliti memeriksa 286 catatan riwayat kesehatan pasien yang dirujuk oleh dokter pertama mereka ke Mayo Clinic di antara 2009 dan 2010.

Hasil menunjukkan hanya 12% pasien yang mengunjungi dokter kedua sudah mendapat diagnosis yang benar sebelumnya. Dengan hampir 66% pasien mengalami perubahan diagnosis, 21% dari pasien memiliki kondisi yang sangat berbeda dengan diagnosisnya.

"Diagnosis merupakan suatu hal yang sangat sulit," kata Mark L. Graber, seorang peneliti senior dari RTI International dan penemu Society to Improve Diagnosis in Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian. "Ada sekitar 10.000 penyakit dan hanya 200 hingga 300 gejala."

Tahun lalu, penelitian kontroversial yang dilakukan oleh Johns Hopkins University mengatakan bahwa kesalahan medis, termasuk kesalahan diagnosis, merupakan penyebab ketiga kematian di rumah sakit, setelah kanker dan penyakit kardiovaskular di AS.

Sementara itu, laporan dari National Academy of Medicine mengestimasikan bahwa kesalahan diagnosis menyebabkan hingga 10% kematian pasien, dan hingga 17% komplikasi di rumah sakit. Di antara 12 juta orang, sekitar 5% orang dewasa pernah mendapat diagnosis yang salah setiap tahunnya.

Laporan ini juga menyebutkan bahwa hampir semua orang pernah menerima diagnosis yang salah atau terlambat setidaknya satu kali dalam hidupnya, dan terkadang diikuti dengan konsekuensi serius.

Dunia medis merupakan dunia kolaboratif

Peneliti mengatakan ada beberapa faktor mengapa bisa terjadi kesalahan diagnosis. Mudahnya, karena organisasi asuransi kesehatan seringkali membatasi akses perawatan untuk menghembat biaya kesehatan, dengan demikian rujukan pun menjadi terbatas.

Selain itu, dokter pertama mungkin terlalu percaya diri dengan kemampuan diagnosisnya atau kesulitan mempelajari panduan baru dan mengikuti perkembangan dunia medis. Ada juga dokter yang tidak percaya diri untuk menceritakan kesulitan atau ketidak yakinan saat diskusi, sama seperti pasien yang tidak memiliki pengetahuan atau kepercayaan diri untuk meminta opini kedua.

"Situasi ini bisa menyebabkan tidak terdeteksinya kesalahan diagnosis, dan bisa menyebabkan tertundanya terapi, komplikasi menyebabkan terapi yang lebih mahal, atau bahkan bertambah parahnya kondisi pasien atau bahkan kematian," kata Naessens. "Kami mendorong pasien untuk mencari opini kedua saat dokter tidak yakin."

"Dokter juga manusia, dan mereka juga bisa membuat kesalahan," kata Graber. "Jika Anda mendapat diagnosis penyakit serius, atau Anda tidak menganggap Anda membutuhkan obat yang diberikan, maka Anda perlu mencari opini dari dokter berbeda. Karena dokter berbeda mungkin bisa menangkap kesalahan diagnosis dokter pertama."

Dengan demikian, dunia pengobatan merupakan proses kolaborasi antara dokter dan tenaga kesehatan lain yang harus melakukan komunikasi dengan satu sama lain demi memastikan pasien mendapat diagnosis yang benar. Naessens dan Graber mengatakan saran tambahan bisa menghemat biaya dan menyelamatkan nyawa pasien.

"Apa yang Anda pelajari di kursi kuliah sangat berguna, tetapi realita di kasur rumah sakit tidak selalu sama dengan apa yang Anda pelajari," kata Lisa Sanders, seorang dokter dan penulis Think Like a Doctor. "Dibutuhkan kerja sama untuk [dunia pengobatan]."

Meskipun demikian, perlu disadari ukuran penelitian ini relatif lebih kecil dengan demikian penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan untuk konfirmasi hasilnya. MIMS

Bacaan lain:
Satu-dua serangan obat bisa digunakan untuk melawan superbug
Obat pertama untuk terapi MS progresif primer disetujui oleh FDA
WHO ingin mengubah terapi Infeksi Menular Seksual (IMS) karena tingginya angka kejadian resistensi antibiotik


Sumber:
https://www.washingtonpost.com/national/health-science/20-percent-of-patients-with-serious-conditions-are-first-misdiagnosed-study-says/2017/04/03/e386982a-189f-11e7-9887-1a5314b56a08_story.html?utm_term=.d30e95a4b5fd
http://www.kttn.com/study-finds-more-than-20-percent-of-patients-are-misdiagnosed/
https://qz.com/949860/get-a-second-opinion-doctors-usually-arent-right-the-first-time/