Memang penting untuk menjaga berat badan ideal - secara umum, pasien dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko tinggi terkena masalah penyakit serius, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes tipe 2, batu kemih, masalah pernapasan seperti sleep apnea, dan beberapa jenis kanker.

Untuk itu, Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan alat yang sering digunakan untuk mengetahui berat badan optimal dari jenis tubuh berbeda. Meskipun demikian, panduan IMT mungkin tidak bisa digunakan untuk semua ras.

Semakin tinggi Anda, seharusnya Anda semakin berat

Secara umum, memiliki berat badan berlebih berarti Anda memiliki berat badan ekstra dari otot, tulang, lemak, dan/atau air, di samping memiliki ekstra lemak tubuh. Tetapi secara alami, tinggi badan juga ikut diperhitungkan ketika memutuskan apakah seseorang memiliki berat badan berlebih.

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan ukuran relatif berdasarkan rasio massa dengan tinggi badan. Meskipun demikian, faktor seperti usia, jenis kelamin, etnis dan massa otot tidak ikut diperhitungkan dalam IMT.

Pada 2009, sebuah penelitian menghasilkan kesimpulan yang mengejutkan: IMT, rumus yang banyak digunakan untuk mengetahui lemak tubuh sehat/tidak sehat, bisa jadi tidak akurat untuk individu non-berkulit putih, sebagai faktor penentu, terutama latar belakang dan ras genetik, secara signifikan memengaruhi bagaimana seseorang membawa berat badan berlebih.

Bukti menunjukkan Asia perlu lebih banyak menurunkan berat badan jika angkanya di atas normal

Penelitian menyatakan bahwa skala IMT dibuat hanya berdasarkan data pria dan wanita berkulit putih, kekeliruan yang muncul adalah ada perbedaan signifikan dalam komposisi tubuh antar ras kulit putih dengan kulit lainnya.

Secara umum, Asia memiliki risiko diabetes tipe 2 lebih tinggi, dibandingkan orang Eropa dengan IMT sama. Penelitian selama 20 tahun pada 78.000 wanita Amerika menunjukkan bahwa Asia memiliki risiko dua kali lipat menderita diabetes tipe 2 dibandingkan orang berkulit putih.

Faktanya, setiap 5 kg peningkatan berat badan di masa dewasa, menyebabkan 84% peningkatan risiko diabetes tipe 2. Selain itu, orang Asia memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi dan penyakit jantung dibanding orang Eropa yang berkulit putih, dan memiliki risiko lebih tinggi mati muda akibat penyakit jantung.

Meskipun beberapa populasi Asia memiliki prevalensi lebih rendah memiliki berat badan berlebih dan obesitas dibandingkan orang-orang di bagian Barat (sebagaimana ditunjukkan dari skala IMT), orang Asia memiliki persentase tinggi menderita diabetes. Sekarang ini, 60% populasi diabetes di dunia adalah orang Asia.

Kondisi ini kemungkinan muncul karena orang Asia memiliki lebih sedikit otot dan lebih banyak lemak (3% hingga 5% lebih tinggi, menurut Universitas Harvard).

Apa artinya bagi populasi Singapura?

"Meskipun orang Asia tampak kurus, kami sebenarnya memiliki lemak tubuh lebih tinggi dibandingkan orang Barat," kata Dr Beng Ng, wakil presiden Diabetic Society of Singapore.

Asia Selatan, khususnya, cenderung bertambah berat badannya di bagian abdomen, yang berbahaya. Misalnya, bayi yang baru lahir di Pune, India, dibandingkan dengan bayi di London, Inggris; meskipun memiliki berat badan lebih rendah, mereka memiliki lemak dan insulin lebih tinggi dibanding bayi di London.

Lemak perut apapun merupakan hal buruk, berapa pun berat badannya, karena ini bisa memicu resistensi insulin, yang berarti tubuh tidak efektif dalam menggunakan gula darah. Kondisi ini menyebabkan lebih banyak sisa gula dalam darah, dan kemudian menimbulkan diabetes tipe 2. Ini merupakan masalah serius di Asia Tenggara.

Survey yang dikeluarkan tahun 2010 oleh Health Promotion Board menyatakan bahwa sekitar satu dari sepuluh dewasa Singapura berusia antara 18 hingga 69 tahun mengalami obesitas, dan prevalensi diabetesnya hampir sama. Kondisi ini memiliki nilai estimasi yang sama dengan International Diabetes Federation (IDF), dan dianggap merupakan proporsi kedua tertinggi pada pasien diabetes antar negara berkembang.

Teknologi pengambilan gambar yang mengukur lemak pada manusia menunjukkan bahwa orang Asia dengan IMT sehat memiliki lebih banyak lemak di sekitar organ dan daerah perut dibandingkan orang Eropa dengan IMT sama. IMT tidak memperhitungkan hal ini karena otot lebih padat dibanding lemak. Ini berarti atlet Olimpik mungkin memiliki tinggi dan berat yang sama dengan orang yang tidak melakukan aktivitas fisik.

Mengukur panjang pinggang untuk estimasi risiko diabetes

Sebagaimana di jelaskan di atas, bukan jumlah lemak yang memprediksi kondisi kesehatan serius; namun, jumlah lemak yang disimpan dalam perut.

Dengan demikian, untuk prediksi risiko diabetes yang lebih akurat, lingkar pinggang bisa diukur, dengan menggunakan tali ukur di atas tulang pinggang, biasanya di daerah pusar. Target pengukuran untuk lingkar pinggang tidak boleh lebih dari 90 cm untuk pria dan 80 cm untuk wanita. MIMS

Bacaan lain:
Gangguan makan pada pria: epidemik yang sering diabaikan
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal
Pasien anoreksia diizinkan mati kelaparan di Amerika