Bapak Ng Soy Ah, usia 69 tahun, divonis kanker paru stadium akhir, sisa hidupnya sudah tidak lama lagi, tetapi ia tidak tinggal diam saja. Sebaliknya, setiap minggu ia menghabiskan waktu dengan bermain karambol dan mendengarkan musik di taman sebagai pengalih perhatian dari penyakit yang diderita.

Bapak Ng tidak sendirian, ia bersama pasien lain menghabiskanhari dengan berbagai kegiatan untuk mengurangi gejala kanker maupun kondisi kesehatan lainnya.

Seiring dengan pertambahan usia dan semakin banyaknya penderita penyakit parah di Asia membuat permintaan akan pelayanan kesehatan di akhir hidup pun juga meningkat. Artikel ini tidak hanya membahas hal mendasar dalam pelayanan kesehatan, melainkan juga asuhan keperawatan yang bekualitas.

Di Asia, gagasan ini berkembang sangat pesat terutama di negara-negara yang berhadapan dengan populasi lansia, seperti Singapura dan Jepang. Sebagai contoh, di Singapura, anggaran kesehatan disisihkan untuk pembelanjaan di sektor pusat pengobatan paliatif dan tempat pengasuhan keperawatan. 

Meskipun demikian,  pada beberapa komunitas, pendekatan perawatan paliatif ini masih pasif sehingga pengambilan keputusan sering datang terlambat saat menentukan jenis dan tempat pengobatan paliatif yang diinginkan.

Mr Ng Soy Ah with volunteers (from left) Prisca Liang, 50, Yang Sik San (partly hidden), 48, and Deborah Kang, 46, as well as St Andrew's Community Hospital associate chaplain Justin Tan, 39, on 4 September. Photo credit: Kevin Lim/Straits Times
Mr Ng Soy Ah with volunteers (from left) Prisca Liang, 50, Yang Sik San (partly hidden), 48, and Deborah Kang, 46, as well as St Andrew's Community Hospital associate chaplain Justin Tan, 39, on 4 September. Photo credit: Kevin Lim/Straits Times

Menghapus stigma mengenai kematian dan pengobatan paliatif

“Bagi kami yang berprofesi sebagai dokter, rasanya sangat sulit untuk menjelaskan maksud kematian tersebut,” ucap Dr Lam Chee Leoung, dosen senior sekaligus dokter perawatan paliatif dari Univesitas Malaya pada forum 22nd bi-annual International Forum on Quality and Safety in Healthcare, yang diselenggarakan di Kuala Lumpur bulan Augustus 2017.

Dia menambahkan, “Tidak ada yang bisa menghentikan atau mengubah waktu menuju kematian.”   

Dokter Lam juga menyebutkan bahwa orang-orangdi Asia – termasuk dokter –  tidak sukamenghadapi proses kematian, mengingat tingginya stigma sosial yang sangat mengganggu.

Dokter Mervyn Koh, kepala bagian perawatan paliatif Rumah Sakit Tan Tock Seng juga setuju dengan pendapat ini dengan mengatakan bahwa walaupun banyak pasien ingin berkonsultasi mengenai perawatan paliatif, stigma yang mengelilingi kematian tersebut tetap ada.

Tidak jarang anggota keluarga meminta agar dokter tidak mengungkit topik tersebut saat bersama pasien, ucap dokter Chong Poh Heng, direktur di HCA Hospice Care

Kami menyadari bahwa kasih sayang ini harus dilindungi, tidak dirusak ataupun direnggut, tetapi menurutnya hal itu dapat merusak kepercayaan pasien itu sendiri kepada tenaga kesehatan.

“Umumnya sebagai dokter kita harus menyembuhkan penyakit, tetapi kita juga harus memulihkan dan mengembalikan kepribadianya secara utuh,” tegas dokter Lam.

Merawat pasien dengan penyakit terminal  seperti merawat anak

Beberapa ahli di Inggris seperti Profesor Tony Walter dari Universitas Bath, menyarankan agar pengobatan pasien terminal bisa diumpamakan seperti merawat anak-anak. Perlindungan anak di Inggris ditetapkan dengan asumsi ganda bahwa anak-anak memilliki hak untuk didengarkan dan dilindungi termasuk dari wali mereka.

Asumsi ganda ini jugalah yang diberlakukan padaorang yang sudah mendekati akhir hidupnya, mengingat mereka memiliki tanggung jawab penuh dalam keputusan yang dibuatnya. Hal ini dapat mencegah lingkungan sosial mengabaikan hak otonomi mereka.

Meskipun demikian, banyak nilai-nilai dan kepercayaan yang mendasari prinsip etika seperti berterus terang, dan otonomi pasien atau keluarga berbeda di tiap negara, dimana hal-hal ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan kepercayaan masing-masing individu pada dokter dan pasien itu sendiri.

Treatment of people nearing the end of life is similar to the treatment of children, suggests Professor Tony Walter from the University of Bath.
Treatment of people nearing the end of life is similar to the treatment of children, suggests Professor Tony Walter from the University of Bath.

Sebagai contoh, di Jepang, anggota keluarga atau dokter memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan pasien khususnya disaat pasien tidak memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan sendiri. Pasien juga bersikap patuh pada dokter dan menerima keadaan mereka sebagai takdir. Pasien sangat jarang menunjukkan penderitaan yang dialami karena menjalani penderitaan dianggap terhormat menurut kebudayaan disana dan para lansia juga tidak ingin merepotkan dokternya.

Dibandingkan dengan negara-negara Barat, tiga kriteria kematian yang baik adalah, pertama, pasien menginginkan pilihan yang mirip akan proses kematian. Kedua, bebas dari rasa sakit dan ketiga, tidak mengganggu emosi seseorang menurut makalah yang diterbitkan oleh peneliti di Univeristas San Diego.

Menghormati keinginan pasien

Karena preferensi setiap pasien berbeda-beda, sebut Dr Lam, dan yang lebih penting adalah “Memenuhi keinginan pasien sebanyak-banyaknya dengan sikap yang baik dan menyediakan lingkungan yang konduktif untuk asuhan keperawatan.” Dia juga mendorong agar semua dokter turut serta berperan dalam merawat pasien.

Dan lebih luas lagi, ia menyarankan agar lingkungan sosial perlu untuk melakukan perubahan pola pikir dan ikut menjadi bagian dalam perubahan tersebut. MIMS

Bacaan lain:
Perawatan paliatif: Mengapa pasien harus mengetahui kebenarannya
Dokter: Bagaimana Anda dapat membicarakan mengenai kematian ke pasien
Dokter: Menghadapi kematian pasien

Sumber:
https://theconversation.com/why-people-nearing-the-end-of-life-need-the-same-protection-we-offer-children-81534
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3140082/
https://www.intechopen.com/books/contemporary-and-innovative-practice-in-palliative-care/palliative-care-for-the-elderly-a-japanese-perspective
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26976293
http://www.straitstimes.com/singapore/health/dispelling-stigma-and-misconceptions
http://www.straitstimes.com/singapore/health/hospice-care-benefits-patients-and-their-families
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3249849/
https://www.hongkongfp.com/2017/09/09/business-life-business-death-singapore/DISCUSS IN COMMUNITY