Hipertensi merupakan salah satu golongan penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan komplikasi hipertensi atau tekanan darah tinggi. Baru-baru ini American Heart Association (AHA) merekomendasikan kategori tekanan darah terbaru yang menyebutkan bahwa seseorang dengan nilai tekanan darah sistolik (TDS) lebih dari sama dengan 130 mmHg dan diastolik (TDD) lebih dari sama dengan 80 mmHg sudah dapat didiagnosis menderita hipertensi.

Banyak orang mulai mempertanyakan alasan keputusan kategori baru ini, mengingat banyak sekali pasien yang merasa kesulitan untuk mempertahankan target tekanan darah sebelumnya – yaitu TDS 140.

"Bukti penelitian terbaru membuktikan bahwa seseorang dengan tekanan darah antara 130-139 berisiko dua kali lebih tinggi mengalami serangan jantung, stroke, gagal jantung dan gagal ginjal, dibandingkan mereka yang memiliki tekanan darah lebih rendah," jelas Dr Joaquin Cigarroa, anggota clinical guidelines task force.

Panduan tersebut juga menyatakan bahwa kerusakan pembuluh darah sudah dimulai begitu tekanan darah mencapai 130/80.Dalam panduan terbaru ini, kategori 'pra-hipertensi' dihapuskan dan pasien dengan tekanan darah tersebut dikategorikan sudah mengalami Hipertensi Tahap 1.

'Pre-hipertensi' dihilangkan dalam panduan terbaru. Sumber: LiveScience/AHA
'Pre-hipertensi' dihilangkan dalam panduan terbaru. Sumber: LiveScience/AHA

Dr Paul Whelton, penulis utama panduan ingin masyarakat waspada "jika mereka berisiko lebih mengalami komplikasi akibat tekanan darah tinggi."

"Bukan berarti Anda harus menggunakan obat, tetapi, kategori ini dibuat sebagai peringatan untuk menurunkan tekanan darah," ungkap Whelton dalam sebuah pernyataan.

Hanya satu dari lima orang Hipertensi Tahap 1 yang membutuhkan obat, sementara sisanya hanya memerlukan modifikasi gaya hidup dan melakukan pemeriksaan setiap tiga sampai enam bulan.

Modifikasi gaya hidup dan pengobatan

Panduan tersebut menyatakan bahwa meskipun pasien sudah dinyatakan hipertensi, namun bukan berarti mereka harus segera menggunakan obat. Langkah pertama yang perlu dilakukan pasien adalah memodifikasi gaya hidup, terutama pada mereka yang tanpa faktor risiko.

Diagnosis hipertensi harus dilakukan secara tepat dan dibangun "berdasarkan rata-rata dua sampai tiga kali pemeriksaan setidaknya pada dua kesempatan berbeda". Paling sedikit dilakukan dua kali pemeriksaan di rumah didapati nilai 130/80, namun jika di klinik tetap menggunakan nilai 140/90 mengingat adanya stres dan tekanan dari 'baju putih' tenaga kesehatan.

Intervensi obat hanya diberikan pada mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat serangan jantung, diabetes, kolesterol tinggi, obstructive sleep apnoea dan gagal ginjal.

"Penting untuk disadari bahwa perubahan definisi tersebut tidak ditujukan untuk meningkatkan resep obat, namun justru untuk meningkatkan perubahan gaya hidup," tutur Satjit Bhusri, dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Lenox Hill di New York.

World Health Organisation (WHO) juga menyediakan daftar modifikasi gaya hidup yang terbukti mengurangi tekanan darah seperti mengurangi asupan alkohol dan berhenti merokok.

Olahraga juga memberikan efek positif seperti untuk menurunkan berat badan, menguatkan otot jantung dan tubuh serta meningkatkan stamina.

Diet dengan buah dan sayuran segar kaya potasium, seperti pisang, kentang, alpukat dan sayuran berwarna gelap juga dapat menurunkan tekanan darah, ditambah lagi jika dilakukan pengurangan asupan garam.

Kelompok berisiko tinggi

Pemeriksaan di rumah wajib dilakukan semua pasien, untuk mengukur tekanan darah dasar mereka.

Namun, hal ini tidak selalu mudah dilakukan, misalnya saja kaum minoritas di Amerika masih banyak yang tidak memiliki alat pengukur tekanan darah (tensimeter) di rumah, apalagi memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan hanya untuk memeriksa tekanan darah mereka. Inilah yang menyebabkan hipertensi banyak diderita kaum minoritas bahkan di usia sangat muda – 20 tahunan – dan seringkali tidak terdiagnosis.

"Keturunan Afrika-Amerika dan Meksiko memiliki tekanan darah tertinggi, dan dengan demikian meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, penyakit ginjal dan sejenisnya," kata Dr Aaron Horne, seorang dokter spesialis jantung di Methodist Dallas.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa "keturunan Afrika-Amerika dan Amerika Latin, jarang sekali yang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan primer."

Selain itu, wanita hamil juga mendapat keuntungan lebih dari klasifikasi baru ini mengingat lebih cepatnya penanganan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Peningkatan risiko akibat perubahan hormon dan tubuh wanita bisa memicu terjadinya tekanan pada pembuluh darah – sehingga, meningkatkan kemungkinan tekanan darah tinggi.

Setiap jenis hipertensi pada kehamilan seperti hipertensi gestasional, hipertensi kronis dan preeklampsia dapat menyebabkan gagal jantung yang selanjutnya mempersulit persalinan serta membahayakan ibu dan bayi.

Edukasi pasien sangat penting karena komplikasi seperti stroke, serangan jantung dan gagal ginjal sangat signifikan pada pasien hipertensi. Dengan klasifikasi baru ini, orang harus menyadari dan mengerti kebutuhan untuk mengubah gaya hidup pada tahap awal. MIMS

Bacaan lain:
Golongan darah non-O memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan
Penyakit jantung dan stroke lebih banyak menyerang orang-orang yang kesepian dan terisolasi
Nyeri dada tak beralasan mungkin muncul karena faktor psikososial

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/11/02/dengue-second-infection/
http://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2017/11/02/561138767/scientists-solve-50-year-old-mystery-about-breakbone-fever
https://www.thestar.com.my/metro/metro-news/2017/10/11/disturbing-rise-in-numbers-over-half-of-reported-dengue-cases-in-the-country-this-year-recorded-in-s/
http://www.sciencemag.org/news/2017/11/dengue-antibodies-might-trigger-life-threatening-infections
http://science.sciencemag.org/content/early/2017/11/01/science.aan6836.full
http://www.who.int/immunization/policy/sage/en/