Saat tiga perawat bangun dan sadar mereka ada di rumah sakit, mereka bertanya-tanya mengapa mereka berada di sana karena hal terakhir yang mereka ingat adalah "membersihkan ruangan pasien di Pusat Kesehatan Afinitas."

Kemudian diketahui bahwa ketiga perawat ini pengsan setelah terpapar fentanil saat membantu seorang pasien yang kecanduan opioid di Ohio. Detektif Shaun Dadisman, yang mengerjakan kasus ini mencatat bahwa "kemungkinan para perawat ini masuk ke status overdosis sendiri."

Fentanil: Masalah yang sedang berkembang Personel hukum dan medis sedang menghadapi masalah sulit disebabkan fentanil dan opioid lain. Terlalu sulit hingga mereka dipaksa untuk mengeluarkan kebijakan dan protokol baru untuk menyelesaikan masalah ini.

Dianggap sebagai obat berbahaya, fentanil 50 kali lebih kuat daripada heroin, dan digunakan sebagai penghilang nyeri. Fentanil dosis rendah – 0,002 gram – bisa jadi letal. Obat ini bisa membuat tubuh berhenti bernapas dan sistem pernapasan berhenti berfungsi.

Tentu saja, perawat ini harus diobati dengan naloxone, yang efektif untuk mengatasi kasus overdosis dalam waktu beberapa menit dengan memblok reseptor opioid di otak.

Saat mendalami kasus ini, Dadisman mengatakan, "[Fentanil] mematikan sistem tubuh Anda sehingga Anda akan berada dalam satu titik dimana Anda tidak bernapas sendiri. Dan Anda perlu pemicu tersebut; dan bahwa [naloxone] adalah satu-satunya yang bisa mengatasi hal ini sehingga bisa membantu Anda cepat sembuh."

Dilaporkan bahwa ini bukan kasus pertama yang disebabkan fentanil. Ada beberapa kasus lain, termasuk salah satunya adalah saat seorang petugas SWAT harus dirujuk ke rumah sakit setelah mengalami kontak dengan fentanil setelah penggerebekan obat.

Overdosis sekunder fentanil

Dadisman mengatakan bahwa akan sulit bagi mereka, yang bekerja untuk mengatasi masalah ini. Ia mengatakan bahwa pemberi pertolongan pertama, petugas kepolisidan dan perawat harus dilatih agar bisa menghadapi situasi ini dengan mengenakan sarung tangan dan masker.

Tetapi terkadang bahkan sarung tangan dan masker tidak bisa mencegah kejadian overdosis fentanil. Misalnya, Perwira Chris Green hampir meninggal saat bajunya secara tidak sengaja terkena substansi putih – saat ia menggeledah mobil pecandu obat.

Meskipun sudah mengenakan sarung tangan dan masker, Perwira Green tetap mengalami overdosis dan kembali sadar setelah beberapa kali diberikan naloxone. Ini bukan hanya sebuah kecelakaan sederhana dan terjadi karena kecerobohan – ini merupakan kejadian yang bisa menghilangkan nyawa – hidup orang-orang yang ada untuk membantu.

Ahli medis mengatakan mungkin ada sejumlah besar kasus overdosis fentanil sekunder, yang terjadi karena kecelakaan. Para ahli juga mengatakan bahwa fentanil hanya mematikan jika dikonsumsi, dan tidak melalui kontak kulit.

Dokter dan ahli toksikologi di Universitas Toronto, Dr David Juurlink berkomentar, "Saya tidak meragukan jika ada seorang petugas kepolisian yang merasa tidak enak badan setelah melakukan kontak kulit dan percaya bahwa ia diracuni. Selain itu, saya kira ada banyak sekali kemungkinan 'efek nocebo' – ide bahwa orang-orang akan menunjukkan gejala jika mereka pikir mereka terpapar sesuatu. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa ada efek placebo?
Ketika placebo bukan lagi placebo
Efek samping penelitian klinis biasanya tidak dilaporkan di jurnal

S
http://www.pulseheadlines.com/nurses-fentanyl-overdose-ohio/65969/
http://wnep.com/2017/08/11/three-nurses-revived-with-narcan-after-opioid-patient-treated-at-ohio-hospital/
http://fox45now.com/news/local/ohio-nurses-treating-overdose-patient-exposed-to-fentanyl
http://nurse.org/articles/secondary-opioid-exposure/