Kurang tidur bagi tenaga kesehatan merupakan hal biasa khususnya bagi mereka yang sedang mendapat jadwal jaga malam, kerja lembur, pergantian jaga, dan lain sebagainya. Beberapa penelitian mengenai efek kurang tidur di antara pekerja kesehatan menunjukkan bahwa rasa kantuk banyak berhubungan dengan menurunnya performa dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Selain itu, menurut penelitian di tahun 2014 yang dipublikasi oleh Journal of Nursing Administration (JONA), perawat yang berjaga malam cenderung memiliki hasil yang sama. Kesadaran merupakan hal penting bagi tenaga kesehatan untuk menghindari kesalahan yang bisa membahayakan pasien, dan dalam kasus ekstrem, menyebabkan kematian. Dengan terbatasnya waktu istirahat, tenaga kesehatan harus menggunakan waktu istirahat mereka dengan bijaksana, sehingga mereka bisa tetap mempertahankan produktivitasnya.

Istirahat atau minum kopi?

Tidur siang diketahui bisa meningkatkan retensi memori, kesadaran dan performa dibandingkan individu yang kurang tidur. Tidur siang bisa jadi berguna bagi tenaga kesehatan yang harus memproses segala macam informasi dan mengambil keputusan.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa durasi tidur siang juga penting. Tidur siang 15 menit bisa menurunkan rasa kantuk, meningkatkan pola pikir logis, kesadaran, serta performa. Namun, tidur siang selama 30 menit, menurut penelitian yang dipublikasi dalam Journal of Infectious Disease di tahun 2013, bisa menyebabkan inersi tidur dan penurunan performa.

Seperti pedang bermata dua; jika digunakan dengan baik, tidur siang bisa meningkatkan performa, tetapi jika salah digunakan, bisa menyebabkan terlewatnya waktu jaga, atau yang lebih parah, bisa menyebabkan kesalahan medis yang mungkin bisa membuat pasien kehilangan nyawa. Tidur siang selama waktu istirahat untuk menghilangkan rasa kantuk sangat disarankan untuk tenaga kesehatan yang bisa memastikan durasi tidur siangnya tidak lebih dari 20 menit.

Minum kopi, bisa jadi sama efektifnya dengan tidur siang untuk hal meningkatkan kesadaran dan performa mental, tetapi juga diketahui bisa meningkatkan kesadaran sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa penelitian. Selain itu, waktu timbulnya efek juga kurang lebih sama dengan tidur siang dan tidak menyebabkan penurunan kecekatan gerakan disebabkan inersi tidur.

Meskipun demikian, minum kopi berlebihan juga tidak baik. Terlalu sering mengonsumsi kafein bisa menimbulkan rasa gelisah, mengganggu kesadaran mental dan performa tubuh. Selain itu, berhenti menggunakan kafein diketahui bisa menurunkan kesadaran mental dan menginduksi rasa kantuk yang semakin parah.

Meskipun keduanya tampak efektif untuk melawan rasa kantuk, namun keduanya memiliki efek yang bisa menurunkan kualitas pelayanan ke pasien.

Manfaatkan kombinasi keduanya

Alternatif masuk akalnya adalah menggunakan keduanya: kafein dan tidur siang. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa meminum kopi sebelum tidur siang selama 15 hingga 20 menit bisa memberikan hasil lebih baik dibandingkan mengonsumsi kafein atau tidur siang saja. Tidur siang dan mengonsumsi kafein secara bersamaan berguna untuk mengeliminasi rasa kantuk. Akan tetapi, kekurangannya adalah harus tidur sebelum efek kafein muncul; atau, efeknya akan sama saja dengan minum kafein saja.

Memilih pilihan terbaik untuk melawan rasa kantuk bisa jadi sulit, karena setiap pilihan memiliki keunggulan dan kekurangannya sendiri. Tenaga kesehatan harus memilah-milah apa yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika dimungkinkan, tenaga kesehatan bisa mencoba tidur siang dan meminum kopi, karena kafein bisa meningkatkan efektivitas tidur siang, yang sudah banyak didukung oleh bukti penelitian saintifik. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa tenaga kesehatan lebih memilih teh daripada kopi?
Tips berjaga malam untuk perawat
5 poin penting BPJS yang perlu diketahui oleh tenaga kesehatan

Sumber:
Cassie J. Hilditch; Stephanie A. Centofanti; Jillian Dorrian; Siobhan Banks. (2013). A 30-minute, but not a 10-minute night-time nap is associated with sleep inertia Subtitle: The Journal of Infectious Diseases, 208 Suppl(1), NP.
https://doi.org/10.1093/infdis/jit538
Chen, I., Vorona, R., Chiu, R., & Ware, J. C. (2008). A survey of subjective sleepiness and consequences in attending physicians. PubMed, 6(1), 1–15.
https://doi.org/10.1080/15402000701796023
https://doi.org/10.1016/j.nut.2010.08.004
Hayashi, M., Masuda, A., & Hori, T. (2003). The alerting effects of caffeine, bright light and face washing after a short daytime nap. Clinical Neurophysiology, 114(12), 2268–2278. https://doi.org/10.1016/S1388-2457(03)00255-4
http://www.huffingtonpost.com/2014/09/03/coffee-sleep-power-naps-science_n_5753360.html
https://doi.org/10.1016/j.bbr.2008.04.028
https://doi.org/10.1111/j.1469-8986.1997.tb02148.x
https://doi.org/10.1007/s00213-004-2097-y
https://doi.org/10.1007/s00213-012-2889-4
https://doi.org/10.1111/j.1365-2648.2005.03610.x
https://doi.org/10.1037/e361732004-005