Semua tenaga kesehatan tau bagaimana rasanya saat sampel darah atau urin yang dikumpulkan untuk kultur terkontaminasi. Kontaminasi memang berpotensi mengganggu terapi pasien, dan kondisi ini juga banyak dihadapi para peneliti bahkan sejak di tahun 1960an.

Sel terkontaminasi menyebabkan tidak valid-nya 30.000 penelitian

Even as warnings of contamination persisted, studies using flawed cell lines boomed. Photo credit: Tom Deerinck/NIH/PLoS ONE/ArsTechnica UK
Even as warnings of contamination persisted, studies using flawed cell lines boomed. Photo credit: Tom Deerinck/NIH/PLoS ONE/ArsTechnica UK

Penelitian baru dari Universitas Radboud di Belanda melakukan pengkajian masalah lama pada komunitas ilmiah mengenai integritas model sel. Model sel sebelumnya berasal dari sel manusia atau hewan, misalnya dari paru-paru manusia atau ginjal monyet. Manfaat model sel sangat bervariasi mulai dari membuat penelitian menjadi lebih sederhana, mudah digunakan dalam produksi vaksin, pengujian obat bius, serta dalam penelitian metabolisme protein sel dan fungsi genetik.

Komunitas ilmiah, sejak berpuluh-puluh tahun lalu, mengetahui bahwa model sel yang digunakan dalam penelitian mungkin tidak murni atau salah teridentifikasi. Misalnya, sel prostat yang sebenarnya adalah sel serviks. Implikasi masalah ini menimbulkan kontroversi yang mengkhawatirkan. Terapi yang dikembangkan berdasarkan temuan penelitian ini mungkin tidak berlaku.

Ilmuwan Serge Horbach dan Willem Halffman kembali menguak masalah lama ini. Kedua orang asal Belanda tersebut menggali kontroversi yang telah berumur 60 tahun ini secara lebih mendalam, serta mencoba untuk menghitung banyaknya hasil penelitian yang berhubungan dengan hal ini. Apa yang mereka temukan sangat mencengangkan – mengungkap setidaknya ada 33.000 makalah yang dipublikasi berdasarkan 'sel jahat'. Perlu diketahui, artikel tersebut hanyg berasal dari akses terbuka. Artikel penelitian yang salah tersebut diperkirakan sudah digunakan sebagai referensi bagi setengah juta artikel lainnya – sekitar 10% dari literatur ilmiah pada bidang subjek relevan.

"Kami tidak mengatakan bahwa 33.000 artikel itu salah," kata Halffman. "Tapi, di antara 33.000 itu pasti ada beberapa kesimpulan yang salah."

"Masalah ini akan terus ada"

Kontroversi mengenai kontaminasi ini mengancam fondasi dasar penelitian sel. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ada berbagai kemungkinan yang menyebabkan sebuah laboratorium bisa salah mengidentifikasi atau terjadi kontaminasi sel. Sudah menjadi hal yang lazim, dan sudah tentu menyalahi etika penelitian, jika beberapa fasilitas mengambil model sel yang berbeda dari laboratorium lain, alih-alih membelinya dari produsen resmi. Teknik pengambilan sampel yang salah bisa berisiko mengkontaminasi satu sel bahkan seluruh bets. Selain itu, model sel sering tersimpan bertahun-tahun dalam freezer. Kesalahan pasti akan terjadi kecuali pencatatan yang teliti dilakukan. Meskipun ada cara untuk konfirmasi identitas sel, namun hasil ini tidak selalu konsisten.

A timeline of HeLa cells. Photo credit: Justine Chia; Henrietta lacks: lacks family; polio: David Goodsell; cloning: NIH; HPV: Ed Uthman; DNA helix: NHGRI; HELA cells: NIH/Berkeley Science Review
A timeline of HeLa cells. Photo credit: Justine Chia; Henrietta lacks: lacks family; polio: David Goodsell; cloning: NIH; HPV: Ed Uthman; DNA helix: NHGRI; HELA cells: NIH/Berkeley Science Review


Sel HeLa merupakan pemain inti dalam masalah kontaminasi ini. Diperoleh pada tahun 1950 dengan cara yang kurang beretika dari seorang wanita Afrika Amerika bernama Henrietta Lacks yang menderita kanker serviks, sel HeLa menjadi terkenal dan dijuluki 'model sel manusia abadi' pertama. Ditemukan bahwa sampel sel kankernya bermutasi pesat dan bisa terus berkembang biak terus-menerus. Kagum dengan ketahanan sel HeLa ini, tidak lama kemudian banyak komunitas ilmuwan yang menggunakannya untuk eksperimen – sementara keluarganya baru mengetahui hal ini lebih dari dua dekade setelahnya.

Tak disangka, sel-sel HeLa menjadi sangat agresif. Ilmuwan Dr Stanley Gartler, yang juga seorang ahli genetik, adalah orang pertama yang menyadarinya pada tahun 1960an setelah ia menemukan bahwa semua dari 18 model sel berbeda miliknya telah 'terinfeksi' dan berubah menjadi sel mirip HeLa. Terlepas dari masalah tersebut, banyak ilmuwan justru terpesona oleh peluang yang ditawarkan oleh sel HeLa dan tak mengacuhkan implikasinya.

Baru-baru ini, sebuah penelitian di abad ke-21 menemukan bahwa hanya 50% dari semua ilmuwan yang bekerja di laboratorium dengan sel HeLa melakukan tes untuk memeriksa apakah sampel mereka terkontaminasi. Dua model sel unik, yaitu Hep-2 dan INT 407 ternyata merupakan turunan HeLa. Beberapa memperkirakan bahwa lebih dari 90% model sel yang terkontaminasi di Cina mengandung sel HeLa ini.

Jangan cepat puas

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa langkah serius dilakukan, misalnya seperti pembentukan International Cell Line Authentication Committee serta sistem pencatatan resmi yang menyimpan catatan kontaminasi model sel yang telah diketahui. Namun, apakah metode ini cukup?

"Kami hanya memberi sedikit informasi, tidak ada yang drastis, kami tidak ingin merusak reputasi siapapun atau mengklaim suatu kesalahan, tapi yang kami inginkan adalah makalah ilmiah tersebut harus mendapat perhatian," kata Halffman.

Integritas penelitian merupakan area dengan hanya sedikit ruang untuk kompromi. Tanggung jawab menegakkan keabsahan penelitian berada di pundak setiap ilmuwan. Mudah-mudahan, tindakan kecil ini dapat mendorong perubahan besar agar masalah dari setengah abad lalu tersebut tidak akan terjadi kembali. MIMS

Bacaan lain:
Tikus tidak sama dengan manusia: Evaluasi penggunaan hewan uji dalam penelitian klinis
Penelitian yang menghubungkan bulan kelahiran dan kemungkinan penyakit dikecam oleh ahli statistik
Memilih terapi alternatif meningkatkan risiko kematian menjadi dua kali lipat, ungkap penelitian

Sumber:
1. https://arstechnica.co.uk/science/2017/10/50-year-old-research-issue-still-biting-biologists/
2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3341241/
3. http://www.cbc.ca/news/health/second-opinion-171021-1.4365023
4. http://berkeleysciencereview.com/article/good-bad-hela/
5. https://www.statnews.com/2016/07/21/studies-wrong-cells/