Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif yang menyebabkan deteriorasi dari fungsi kognitif dan motorik tertentu seperti kontrol bahasa, cara berjalan, kontrol emosi dan ingatan. Di Singapura sendiri, diestimasikan ada 22.000 penderita Alzheimer tahun 2005 di antara individu berusia 65 tahun ke atas, dan angka ini disebut-sebut akan meningkat hingga 53.000 di tahun 2020. Alzheimer sangat memengaruhi kualitas hidup sebagian orang, dan hingga sekarang masih belum ada obat penyembuh kondisi ini.

Tidak bisa disembuhkan, merupakan satu alasan mengapa tenaga kesehatan harus berfokus pada pencegahan faktor risiko Alzheimer, termasuk hipertensi dan perubahan gaya hidup termasuk menu makanan dan olahraga. Bersama dengan kondisi ini, sebuah penelitian baru dari Universitas Miami menemukan efek samping konsumsi produk ikan hiu, yang banyak dikonsumsi di Asia.

Hiu memiliki kandungan tinggi toksin

Karena hiu merupakan predator tersier di rantai makanan, toksin seperti merkuri dan senyawa kimia lain terakumulasi dalam organisme ini melalui fenomena yang disebut sebagai biomagnifikasi; proses dimana substansi meningkatkan konsentrasi dan juga toksisitas ke semua tingkatan dalam rantai makanan.

Beberapa bagian ikan hiu seperti sirip dan kartilage mengandung senyawa cyanobakteria yang dikenal sebagai B-N-metilamino-L-alanin (BMAA) yang banyak dihubungkan dengan onset penyakit neurodegeneratif.

Ikan hiu di ekosistem laut bisa menjadi pedang bermata dua: ikan hiu dibunuh oleh manusia hanya untuk dagingnya, yang dianggap menu makan mewah di beberapa bagian dunia, tetapi ikan hiu juga bisa membahayakan manusia. Konsekuensinya, ikan hiu sekarang menjadi salah satu spesies langka, yang mengalami penurunan jumlah di seluruh dunia.

Kombinasi berbahaya antara BMAA dan merkuri

Sebuah penelitian yang dilakukan pada sepuluh spesies hiu berbeda di Samudera Atlantik Selatan dan laut Pasifik menemukan bahwa semua sampel mengandung konsentrasi merkuri dan BMAA di otot dan sirip hiu dengan konsentrasi berbeda-beda.

Hanya 12% sirip ikan hiu yang memiliki sedikit BMAA berdasarkan nilai minimum untuk deteksi uji kadar. Konsentrasi merkuri ditemukan beragam, mulai dari "0,048 hingga 13,23 ng/mg"; nilai lebih tinggi dibandingkan nilai non-toksik untuk dikonsumsi manusia.

Ini merupakan sebuah masalah karena paparan merkuri juga banyak dihubungkan dengan efek neurologis seperti kehilangan kontrol emosi dan depresi. BMAA merupakan neurotoksin poten yang telah banyak dihubungkan dengan kondisi lain seperti sklerosis amiotropik lateral.

BMAA memicu desposisi plak B-amiloid di otak. Mereka melakukannya dengan mengubah pembatas darah-otak dan masuk ke sistem saraf pusat. Proses selular dalam otak bisa salah menginterpretasikan BMAA sebagai L-serin, asam amino dan dengan demikian bisa salah berikatan ke protein, sehingga menghasilkan kesalahan ikatan protein dan kemudian degradasi protein.

Vesikel yang menangkap amyloid, bagian penting dalam etiologi Alzheimer

Penelitian terpisah oleh peneliti di Fakultas Kedokteran Georgia di Universitas Augusta juga menunjukkan bahwa vesikel memproduksi astrosites (sel glia yang bertanggung jawab untuk kebutuhan nutrisi dan dukungan struktural neuron) bisa menyebabkan penyakit Alzheimer dengan menangkap deposit amyloid.

Ketika vesikel ini berisi terlalu banyak amyloid, vesikel akan mulai mengganggu penghubung neuronal yang muncul dalam proksimitas tertentu. Kondisi ini mulai muncul dengan penurunan fungsi akibat kematian neuronal.

"Jika ada sejumlah besar astrosit bergabung dengan amyloid, tubuh Anda bisa memicu respon agresif," kata Dr Erhard Bieberich, seorang ahli neurosains di Departemen Neurosains dan Obat Regeneratif MCG dan penulis penelitian.

Kedua penelitian secara perlahan membantu mengisi penyebab munculnya penyakit Alzheimer. Untuk saat ini mungkin konsumsi sirip dan daging ikan hiu perlu dikurangi untuk mencegah pengaruh toksin seperti merkuri dan BMAA. Meskipun penemuan ini masih harus diteliti lebih lanjut pada partisipan orang Asia, namun dengan menurunkan angka konsumsi, kemungkinan secara signifikan juga bisa menurunkan angka kejadian penyakit Alzheimer dan jenis lain dari demensia, khususnya di negara yang banyak mengonsumsi produk dari ikan hiu. MIMS

Bacaan lain:
Penyakit langka menyebabkan seorang wanita mati kelaparan
Kunyit: Fakta dibalik 'superfood'
Obesitas, pajak gula, dan peran apoteker
Orthorexia nervosa: Apakah Anda terobsesi dengan makanan sehat?
Reaksi berlebihan ke alergi makanan pada anak bisa menyebabkan kesalahan diagnosis


Sumber;
http://www.alz.org.sg/about-dementia/statistics
Hammerschlag, N.; Davis, D.A.; Mondo, K.; Seely, M.S.; Murch, S.J.; Glover, W.B.; Divoll, T.; Evers, D.C.; Mash, D.C.
Cyanobacterial Neurotoxin BMAA and Mercury in Sharks. Toxins 2016, 8, 238.Niesink, Raymundus Johannes Maria. Introduction To Neurobehavioral Toxicology. Boca Raton: CRC Press, 1999. Print.
Paul Alan Cox, David A. Davis, Deborah C. Mash, James S. Metcalf, Sandra Anne Banack. Proc. R. Soc. Dietary exposure to an environmental toxin triggers neurofibrillary tangles and amyloid deposits in the brain. B 2016 283 20152397; DOI: 10.1098/rspb.2015.2397. Published 20 January 2016. 
http://medicalxpress.com/news/2016-08-vesicles-amyl