Pada umumnya, makanan dari tanaman dianggap lebih sehat jika dibandingkan dengan makanan dari daging. Penting untuk dicatat bahwa risiko diabetes berbeda-beda tergantung pada jenis daging yang dikonsumsi – catat peneliti dalam suatu penelitian terbaru.

Peneliti di Fakultas Kedokteran Duke-NUS di Singapura menemukan bahwa orang-orang dengan asupan daging merah tinggi memiliki risiko 23% menderita diabetes, dibandingkan mereka yang jarang makan daging merah.

Ditemukan adanya peningkatan signifikan risiko diabetes

Penelitian Singapore Chinese Health dilakukan dengan memeriksa 63.257 orang dewasa berusia 45 hingga 74 tahun yang diikuti antara tahun 1993 dan 2010. Partisipan diwawancara dua kali mengenai pola makan mereka menggunakan kuesioner yang mencatat 165 makanan, termasuk 33 yang mengandung daging.

Hubungan positif ditemukan antara mereka yang mengonsumsi beberapa jenis daging tertentu dan diabetes. Spesifiknya, dibandingkan mereka dengan asupan daging merah dan unggas terendah, mereka dengan asupan tertinggi memiliki 23% dan 15% peningkatan risiko diabetes, secara berurutan.

Risiko diabetes tidak berhubungan dengan asupan tinggi ikan atau kerang. Meskipun, saat dikonsumsi sebagai pengganti daging merah atau unggas, risiko diabetesnya juga menurun.

Untuk mengetahui mekanisme yang melatarbelakangi peran daging merah dan unggas dalam kejadian diabetes, peneliti juga mencari tahu konten besi-heme makanan dan hubungannya dengan makanan. Dari hal ini, mereka berhasil menemukan hubungan positif tergantung pada dosis.

Bahkan setelah menyesuaikan konten besi-heme dalam makanan, hubungan daging merah dan diabetes masih ada – menunjukkan peran aktif senyawa kimia lain dalam daging merah yang menyebabkan peningkatan risiko diabetes. Di samping itu, hubungan antara asupan daging unggas dan risiko diabetes menjadi nol – menunjukkan bahwa risiko ini disebabkan konten besi-heme dalam daging unggas.

Konsumsi daging merah secukupnya

Selain hasil yang konsisten dengan penelitian Barat lain, penelitian ini juga menunjukkan risiko diabetes dari daging merah yang berhubungan dengan senyawa kimia lain, selain konten besi-heme. Ia juga menyatakan bahwa bagian ayam, seperti dada, dengan kandungan rendah besi-heme merupakan bagian yang lebih sehat. Kemudian, penelitian juga menunjukkan manfaat mengganti daging merah atau unggas dengan ikan/kerang.

Profesor Koh Woon Puay, Profesor Ilmu Pengetahuan Klinis di fakultas dan peneliti senior mengatakan, "Kita tidak perlu mengelminasi asupan hariannya, khususnya bagi daging merah, dan memilih dada ayam dan ikan/kerang-kerangan, atau protein dari tumbuhan dan produk susu, untuk menurunkan risiko diabetes."

"Pada akhirnya, kita ingin menyajikan informasi untuk membuat pilihan terbaik dalam memilih makanan sehat untuk menurunkan risiko penyakit," catat Prof Koh.

Dr Annie Ling, Direktur Policy, Research and Surveillance Division, Health Promotion Board (HPB), mencatat mengenai relevansi penelitian, berdasarkan pola populasi dan konsumsi lokal. "Hasil penelitian ini menegaskan rekomendasi HPB untuk mengonsumsi daging merah secukupnya saja, dan bahwa pola makan sehat dan seimbang harus mengandung cukup sumber protein dan kandungan protein yang bervariasi, termasuk alternatif yang lebih sehat dibandingkan daging merah seperti ikan, tahu, dan kacang polong," sebutnya. MIMS

Bacaan lain:
3 penemuan baru untuk terapi diabetes
Makanan adalah obat: Apakah nutrisi saja cukup untuk menyembuhkan penyakit?
Tikus tidak sama dengan manusia: Evaluasi penggunaan hewan uji dalam penelitian klinis

Sumber:
https://academic.oup.com/aje/article-abstract/doi/10.1093/aje/kwx156/3848997/Meat-Dietary-Heme-Iron-and-Risk-of-Type-2-Diabetes?redirectedFrom=fulltext
https://medicalxpress.com/news/2017-09-meat-linked-higher-diabetes.html
http://www.straitstimes.com/singapore/health/meat-lovers-beware-eating-more-red-meat-poultry-can-raise-diabetes-risk
http://www.todayonline.com/singapore/spore-study-confirms-red-meat-and-diabetes-link