Sesuai dengan PERMENKES No. 75 tahun 2016, apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku agar dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien yang membutuhkan.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, di bidang kefarmasian telah terjadi pergeseran orientasi menjadi sebagai profesi dengan fungsi pelayanan kefarmasian dari hanya pengelolaan obat sebagai komoditi kepada pelayanan yang komprehensif (pharmaceutical care). Dengan kata lain, apoteker tidak saja sebagai pengelola obat namun juga mencakup pelaksanaan pemberian informasi untuk mendukung penggunaan obat yang benar dan rasional, monitoring penggunaan obat untuk mengetahui tujuan akhir, serta kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan.

Berikut infografik mengenai konseling apoteker yang perlu diperhatian:


MIMS

Bacaan lain:
6 tips apoteker bisa menjadi lebih unggul dari yang lainnya
Pilihan kuliah paskasarjana untuk apoteker
Sehelai surat apoteker untuk para mahasiswa praktek kerja profesi apoteker (PKPA)

Sumber:
http://binfar.kemkes.go.id/?wpdmact=process&did=NDEwLmhvdGxpbms=
Vera, Vitis Vini. 2015. Konseling. Lecture Handouts: Konseling. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.