Komersialisasi fertilitasSebuah studi di Australia baru-baru ini menemukan bahwa komersialisasi teknologi bantu reproduksi (Assisted Reproductive Technologies/ART) seperti fertilisasi in vitro (in-vitro fertilization/IVF), implan hormon, dan obat-obatan stimulan secara perlahan mampu menggeser saran yang diberikan dokter kepada pasien.

Studi yang diterbitkan di jurnal Human Fertility, dilakukan oleh peneliti dari University of Sydney and Macquarie University. Hasilnya tercatat dalam – wawancara yang mendalam terhadap dokter-dokter yang terlibat dalam ART di Australia seperti dokter obstetrik, konsultan dan para pembuat kebijakan.

Mereka menemukan walaupun banyak risiko terkait IVF sebagai contoh adalah ovarian hyperstimulation syndrome dan belum terselesaikannya masalah mengenai perkembangan calon buah hati tersebut kedepannya, beberapa dokter telah "menggencarkan" pemilihan terapi ini dan angka keberhasilannya.

Dibutuhkan diskusi terbuka untuk isu fertilitas

Topik fertilitas adalah hal rumit yang masih dipelajari oleh peneliti dan menjadi hal yang tabu dalam masyarakat. Masalah ini sering dicampur-adukkan dengan fakta bahwa saat ini lebih dari yang diperkirakan, wanita memilih untuk menunda mempunyai anak saat sebenarnya peluang untuk terjadinya konsepsi alamiah semakin menurun seiring bertambahnya usia (atau di atas usia 35 tahun). 

Oluwakemi, seorang ibu dari dua pasangan kembar dan seorang penulis web mengenai fertilitas mengatakan, "Komersialisasi IVF dan jenis-jenis ART lainnya adalah nyata. Saat ini hal tersebut merupakan produk terbaru di pasaran kedokteran dalam hal sistem reproduksi."

Hingga kini, "masih belum ada jaminan," ungkapnya. "Tidak ada seorang dokter bahkan pencetus teknologi IVF yang menyatakan IVF dapat menjamin pasangan mendapatkan buah hati setelah mendapat terapi di rumah sakit." Bukan hanya IVF – hal yang sama untuk segala jenis ART.

Professor Robert Sparrow, seorang ahli bioetika dan anggota Monash University associate mengakui fakta tersebut berkata, "Seringkali banyak pasangan mengalami lelah psikologis ketimbang menerima fakta bahwa mereka tidak dikaruniai anak yang berasal dari darah daging mereka, mereka malah menghabiskan waktu bertahun-tahun keluar masuk rumah sakit menjalani bermacam-macam pemeriksaan dan mengalami stres serta kecemasan karena belum kunjung mendapatkan buah hati. Jadi, penting sekali untuk jujur mengenai hal yang dapat dilakukan dan hal yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi saat mencampuri kode etik di ranah bisnis ini." 

Komersialisasi berdampak pada berbagai bidang

Memberikan harapan palsu kepada wanita bertentangan dengan prinsip dokter bahwa mereka harus berkomitmen dengan pasien yang bersangkutan; daripada mengutamakan kemampuan finansial mereka. "Terlalu mudah menarik pasien dengan membesar-besarkan angka ‘kesuksesan’ yang kosong kemudian menguras ribuan euro uang yang dimiliki mereka melebihi perkiraan mereka," kata Dr John Waterston, kepala dari Irish Fertility Society (IFS). 

Berdasarkan studi, sebanyak satu dari dua puluh lima bayi di Australia merupakan hasil teknologi ART. Beberapa narasumber berkata bahwa wanita yang tidak membutuhkan ART masih ditawarkan program tersebut dan bahkan beberapa lainnya telah berulang kali ditawarkan untuk mengulangi terapi ART walaupun diketahui bahwa persentase keberhasilannya hampir tidak mungkin. Sering kali jenis pelayanan dan terapi yang ditawarkan tidak mencantumkan harga. 

"Tentu saja, masalah fisik dan finansial yang ditambah masalah emosional yang dialami wanita penerima terapi ART tidak penting yang berkelanjutan justru seharusnya diberi saran untuk berhenti menggunakan terapi ini," jelas Dr Blakely. Dengan adanya banyak faktor tersebut, seorang pasien harus dapat membuat keputusan yang baik dan benar. 

Penemu IVF Robert Winston sendiri menentang bentuk komersialisasi dengan menyatakan, "pasangan infertil lagi-lagi dieksploitasi oleh industri yang sering mengabaikan standar etika yang berlaku."

Selalu ada sisi baik dan buruknya

Two sides to a coin: According to Professor Bill Ledger, more often, the problem is convincing couples desperate to have a baby that the treatment is “fruitless”.
Two sides to a coin: According to Professor Bill Ledger, more often, the problem is convincing couples desperate to have a baby that the treatment is “fruitless”.

Penting untuk dicatat bahwa tidak ada satupun narasumber studi yang menyatakan dokter ahli ART sengaja menyesatkan pasien. Mereka sendiri yakin ada hal yang hampir tidak disadari dan bertentangan dalam pengobatan itu sendiri. 

Kepala bidang spesialisisasi kesuburan sekaligus kepala bidang obstetrik ginekologi di University of New South Wales, Professor Bill Ledger mengatakan bahwa sebenarnya masalah yang sering muncul adalah meyakinkan pasangan yang putus asa ingin memiliki anak tetapi terapi yang dilakukan tidak membuahkan 'hasil'.

"Baiklah, kita mendapatkan keuntungan saat kita mengulangi siklus IVF; tetapi, secara mengejutkan kebanyakan dari kami sibuk. Kami memiliki jumlah pasien yang banyak. Kami tidak mencari-cari pekerjaan tambahan," tutur Ledger. "Anda mendedikasikan seluruh hidup anda sebagai dokter yang mencoba menolong dan harus mengakui bahwa tidak ada lagi yang dapat anda lakukan adalah hal yang sulit," tambahnya. 

Para peneliti dalam studi ini, yang hanya melibatkan delapan ahli menyarankan agar dokter yang terlibat dalam ART ikut meminta bantuan ahli bioetika untuk memecahkan persoalan dan peninjauan aspek lainnya juga terkendala masalah serupa.

Komersialisasi ini juga menambah keraguan apakah pasien yang kita kelola rentan dan membutuhkan bimbingan, termasuk pendampingan disaat mereka putus asa, dimana di sisi lain sebagai konsumen mereka bebas memilih berbagai intervensi meskipun hampir tidak mungkin hal tersebut dapat berjalan sesuai harapan. MIMS

Bacaan lain:
Rahim buatan untuk masa depan masalah fertilitas dan perawatan neonatus
Baby boom: Cara meningkatkan angka kelahiran menurut peneliti Australia
Kualitas vs. Kuantitas: Apakah jumlah telur bisa digunakan sebagai penanda kesuburan seorang wanita?

Sumber:
http://www.abc.net.au/news/2017-11-02/ivf-are-financial-motives-influencing-doctors-decisions/9111402 
https://theconversation.com/financial-motives-drive-some-doctors-decisions-to-offer-ivf-86630 
https://medicalxpress.com/news/2017-11-commercialisation-conflict-ivf-industry.html https://thefertilechickonline.com/the-commercialization-of-ivf/ 
https://www.communitynews.com.au/eastern-reporter/news/study-raises-concerns-commercialisation-ivf-treatment/ 
http://www.irishexaminer.com/ireland/some-fertility-clinics-exploit-vulnerable-couples-expert-399518.html 
https://www.bioedge.org/bioethics/i-deeply-regret-ivf-is-now-so-commercial/11563