Pada tanggal 24 Januari, sekelompok ilmuwan Cina mengumumkan keberhasilan mereka dalam mengkloning dua kera betina. Ini merupakan kasus keberhasilan kloning primata pertama dengan menggunakan teknik transfer sel somatik atau somatic cell nuclear transfer (SCNT) – terobosan baru dalam bidang ilmu biomedis.

Monyet tersebut diberi nama Zhong Zhong dan Hua Hua, yang berasal dari  kata zhonghua, kata sifat untuk orang Cina. Kedua monyet – berusia delapan dan enam minggu – secara genetik identik, dan merupakan klon dari donor sel janin monyet yang sama. Monyet muda dilaporkan sehat dan saat ini sedang diinkubasi.

"Kami gembira – sangat gembira," ungkap salah satu rekan penulis makalah tersebut, Profesor Mu-ming Poo dari Chinese Academy of Sciences, menambahkan bahwa "penghalang kloning terhadap spesies primata saat ini telah diatasi."

Penemuan ini kemungkinan akan memunculkan perdebatan mengenai kloning spesies primata lainya: manusia. Meskipun demikian, jika dilihat dari perspektif lain, keberhasilan ini akan mengarahkan penelitian biomedis ke arah yang lebih berani dan berpotensi tinggi.

Perjalanan panjang dan sulit untuk kloning primata

Metode SCNT dalam penelitian di Cina bukanlah sesuatu yang baru. Teknik yang sama ini sebelumnya sudah pernah digunakan untuk mengkloning domba Dolly oleh ilmuwan asal Skotlandia di tahun 1996.

Teknik ini menggunakan DNA dari nukleus sel janin monyet dan dipindahkan ke telur sel monyet setelah DNA-nya dihilangkan. Kemudian, telur dirangsang untuk berkembang menjadi embrio dan kemudian dipindahkan ke monyet pengganti untuk perkembangan selanjutnya.

Domba Dolly di lapangan Institut Roslin di Skotlandia. Sumber gambar: The Roslin Institute/The University of Edinburgh
Domba Dolly di lapangan Institut Roslin di Skotlandia. Sumber gambar: The Roslin Institute/The University of Edinburgh

Sebelumnya telah dilakukan banyak usaha untuk kloning primata non manusia menggunakan metode SCNT, namun sebagian besar gagal "disebabkan gangguan pendukung perkembangan embrio akibat kesalahan pemrograman ulang nukleus somatik saat ditransplantasikan."

Dalam penelitian ini, para ilmuwan berhasil memodifikasi dan mengoptimalkan protokol eksperimen, membuktikan bahwa kloning terhadap spesies yang paling mirip manusia sebenarnya tidak mustahil dilakukan.

"Sudah waktunya, karena saya pikir kloning pada monyet tidak akan pernah terjadi," tutur Shoukhrat Mitalipov, kepala Pusat Terapi Sel Embrionik dan Gen dari Universitas Ilmu Kesehatan dan Pengetahuan Oregon. Beliau tidak terlibat dalam penelitian, namun sebelumnya pernah melakukan percobaan mengkloning monyet.

"Namun, alasan kami memilih untuk mematahkan penghalang ini adalah untuk menghasilkan model hewan yang berguna untuk pengobatan manusia. Tidak ada niat untuk menerapkan metode ini pada manusia," sebut Profesor Poo.

Pertanyaan terakhir yang terlintas adalah: apakah teknik ini layak untuk menghasilkan model hewan?

Menilai kelayakan kloning monyet untuk penelitian

Usaha ilmuwan Cina untuk mengkloning monyet memerlukan biaya yang mahal. Diperkirakan bahwa setiap monyet kera berhasil dikloning dengan biaya sekitar USD50.000 – jumlah tersebut tidak termasuk biaya pemeliharaan hewan berharga tersebut.

Hasil percobaan yang berhasil juga menyedihkan, mengingat kesulitan teknis yang harus diatasi. Dari 79 embrio yang ditransfer ke 21 monyet pengganti, dikonfirmasi hanya 6 kehamilan yang berhasil.

Akhirnya, hanya dua bayi hidup melalui operasi caesar. Zhong Zhong dan Hua Hua yang baru lahir digambarkan memiliki tingkat pertumbuhan normal dan tidak menunjukkan kelainan yang signifikan saat dibandingkan dengan monyet yang lahir dengan perkawinan alami.



Perlu dicatat juga bahwa, ketika sel monyet dewasa – sebagai ganti sel janin – digunakan saat kloning, tingkat keberhasilannya ditemukan lebih rendah secara signifikan. Hanya dua monyet yang diperoleh dari 181 embrio dan keduanya meninggal dalam 30 jam akibat kegagalan napas.

"Jika ada cara yang efisien untuk kloning monyet, teknik ini bisa digunakan untuk mengurangi jumlah kebutuhan monyet saat penelitian," tutur Koen Van Rompay, seorang ahli virologi di Pusat Penelitian Primata Nasional California.

Terobosan ilmiah atau tidak berguna sama sekali?

Kera identik secara genetik adalah model penelitian yang berharga karena dapat digunakan untuk mengeliminasi variabilitas subjek penelitian. Variabel lingkungan dan fisik relatif mudah dikendalikan, namun sedikit perbedaan genetik dalam spesies yang sama terbukti menjadi tantangan yang harus diatasi.

Meskipun sudah bisa diatasi pada model roden melalui perkawinan sedarah, namun metode ini dianggap tidak praktis pada primata non-manusia yang memiliki waktu generasi lebih panjang.

Profesor Poo merasa yakin pada hewan hasil kloning, terutama yang mendekati manusia – untuk kepentingan pengembangan obat. "Saya sendiri tidak percaya diri kami bisa menghasilkan terapi medis yang sangat baik tanpa menggunakan hewan uji," sebutnya.

Meskipun demikian, banyak ilmuwan mempertanyakan alasan melakukan kloning. Karena selain harga yang mahal, melakukan eksperimen kloning seperti ini tidak memberi pengaruh yang cukup bermakna dalam penelitian biomedis.

Robin Lovell-Badge dari Institut Francis Crick mengomentari bahwa "....  jumlah hasil eksperimen masih terlalu kecil untuk menarik suatu kesimpulan lain, selain prosedur yang sangat tidak efisien dan berbahaya."

Beberapa ilmuwan juga menyebutkan bahwa hasil klon bisa jadi tidak identik satu sama lain, karena banyak faktor epigenetik yang akan memengaruhi perkembangan klon tersebut.

Profesor Mu-ming Poo, direktur Akademi Cina dari Institut Ilmu Pengetahuan Neurosains, Shanghai, salah satu pemimpin penelitian di kloning SCNT primata non-manusia. Sumber gambar: AFP
Profesor Mu-ming Poo, direktur Akademi Cina dari Institut Ilmu Pengetahuan Neurosains, Shanghai, salah satu pemimpin penelitian di kloning SCNT primata non-manusia. Sumber gambar: AFP

Di tengah perdebatan yang terus berlanjut, para ahli seperti Jeffrey Kahn, seorang bioetika di Universitas Johns Hopkins mendesak untuk melakukan diskusi global. "Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasinya – bagaimana kita mengambil peran sebagai 'masyarakat, negara, badan pengawas, pemerintah?'" Tuturnya.

"Tata kelola apa yang penting diperhatikan untuk mencegah hal buruk pada manusia?"

Tim peneliti Cina mengatakan bahwa mereka akan terus memantau kesehatan jangka panjang Zhong Zhong dan Hua Hua, terutama perkembangan otak mereka. Melalui dukungan pemerintah dari Shanghai, tim tersebut juga berharap masyarakat Cina tetap berpikiran terbuka terhadap penelitian pada primata non-manusia.

"Jika diikuti dengan berbagai perbaikan dan seiring dengan ketatnya peraturan mengenai etika, saya pikir masyarakat Cina seharusnya bisa menerima penelitian ini," ungkap Profesor Poo. "Saya berharap masyarakat Negara Barat akan menyadari manfaatnya setelah kami menunjukkan kegunaan monyet kloning dalam menyembuhkan penyakit." MIMS

Bacaan lain:
Transplantasi rahim sekarang bisa dilakukan pada manusia
Bayi dengan 'tiga orangtua' membuktikan kontroversi ilmu pengetahuan dapat melawan infertilitas
"Mengubah" genom: Dasar untuk menciptakan DNA manusia

Sumber:
http://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(18)30057-6
https://www.npr.org/sections/health-shots/2018/01/24/579925801/chinese-scientists-clone-monkeys-using-method-that-created-dolly-the-sheep
http://www.independent.co.uk/news/science/clone-monkey-human-zhong-hua-china-cloning-fears-macaque-replicant-a8176181.html
https://mashable.com/2018/01/24/chinese-laboratory-clones-monkeys/#cIKIBnceaOq6
https://www.theverge.com/2018/1/24/16927476/monkey-clones-somatic-cell-nuclear-transfer-dolly-china-medical-research-disease
http://www.sciencemag.org/news/1997/03/monkey-clones-get-mixed-reviews
https://www.washingtonpost.com/archive/politics/1997/03/02/monkeys-cloned-for-first-time/8563de78-9a7e-4ee4-8621-ba78070ded81/?utm_term=.88136973ab4a
https://news.nationalgeographic.com/2018/01/monkey-clones-dolly-sheep-china-medicine-science/