Dalam dunia medis, efek placebo – respon seseorang ke “pil tipuan” – dapat memberi efek positif, ketika pasien melaporkan perbaikan gejala, atau kebalikannya, ketika seseorang menderita efek samping.

Placebo tidak dapat menyembuhkan penyakit, penelitian yang dilakukan pada placebo mengenai hubungan antara pikiran dan tubuh, dengan satu teori yang menunjukkan bahwa ekspektasi seseorang dapat menyebabkan munculnya efek placebo, sehingga senyawa dalam tubuh membuat efek yang menyerupai harapan seseorang terhadap obat.

Hal ini diilustrasikan melalui hasil dari penelitian yang menunjukkan bahwa ketika partisipan mendapat “stimulasi”placebo, partisipan akan mengalami peningkatan kecepatan nadi dan tekanan darah. Ketika diberikan pil yang sama dan diberitahukan bahwa pil ini dapat menyebabkan rasa kantuk, mereka merasakan efek kebalikannya.

Placebo bekerja – meskipun disebut sebagai placebo

Untuk memanfaatkan efek placebo, Ted Kaptchuk, ketua Program for Placebo Studies and the Therapeutic Encounter di Pusat Medis Deaconess Beth Israel melakukan penelitian untuk mengetahui apakah orang-orang akan mendapat manfaat dari efek placebo bahkan ketika mereka mengetahui obat yang mereka terima adalah obat tipuan.

Penelitian meliputi 83 orang di Portugal, semua yang menderita sakit kronis tulang belakang, namun bukan karena kondisi serius. Mereka diberitahu bahwa placebo, yang merupakan senyawa inaktif tanpa kandungan obat farmasetik, perlu digunakan dua kali sehari hingga penggunaan tiga minggu. Semua partisipan terus menggunakan regimen terapi mereka untuk meredakan nyeri, dengan setengah dari kelompok menggunakan placebo sebagai tambahan dari terapi mereka yang biasa. 

Dalam arti lain, placebo dalam penelitian ini bukan menjadi kontrol, tetapi sebagai intervensi terapi – dan peneliti yakin dengan hal ini.

Yang menarik, skor yang diperoleh partisipan untuk tingkat nyeri biasa dan maksimum menurun hingga 30% untuk partisipan yang menerima placebo di akhir 3 minggu penelitian, dibandingkan 9% dan 16% dari kelompok kontrol.

Menurut Kaptchuk, penemuan ini menunjukkan adanya penurunan nyeri substansial – bahkan ketika partisipan hanya menggunakan placebo.

“Pasien akan merasa adanya perbedaan dan dokter akan menyadarinya,” katanya.

“Ini bukan (hanya) karena pil, tetapi juga apa yang ada di sekitar pil”

Peneliti telah menduga bahwa kegiatan menggunakan obat itulah – membuka tutup botol dan menelan sesuatu yang terlihat seperti obat – yang dapat menghasilkan efek placebo, meskipun ketika pasien tidak mengharapkan efek dari pil.

Hal ini dapat terjadi karena adanya interaksi dan rasa percaya antara pasien dan dokter.

“Ini bukan hanya mengenai pilnya,” kata Kaptchuk.

“Ini mengenai apa yang ada di sekitar pil.”

Jika pasien percaya apa yang dikatakan dokter mereka – bahwa terapi mungkin akan memberi efek, meskipun mengetahui ia menerima placebo, otak dapat menggambarkan dan meredakan gejala yang dirasakan.

“Tidak sadar akan placebo” atau “ditipu”

Orang-orang mungkin mengatakan, “Saya tidak ditipu, saya tidak akan pernah tertipu akan hal seperti ini, tetapi Echinacea benar-benar bekerja,” kata Erik Vance, penulis buku terbaru mengenai placebo.

“Pertama, ini tidak benar; kita semua ditipu. Dan kedua, orang tersebut kemungkinan sedang mengalami kondisi tidak sadar akan placebo,” katanya.

“Mereka berpikir mereka terlalu pintar untuk ditipu. Kita harus menyadari bahwa inilah apa yang kami lakukan dan kami gunakan.”

“Penelitian jenis ini menunjukkan bahwa sekelompok perawatan yang meliputi placebo etikal dapat memberikan manfaat,” kata Jeremy Howick, peneliti senior dalam Universitas Oxford dari Nuffield Department of Primary Health Care Sciences yang tidak ikutserta dalam penelitian ini.

“Anda mungkin tidak perlu membohongi pasien untuk mendapat efek ini.”

Menurut Kaptchuk, penelitian merupakan bukti prinsip, dan perlu diulang dalam kelompok yang lebih besar dan periode waktu yang lebih panjang. Jika terbukti benar, tambahnya, placebo label terbuka dapat membantu strategi “lihat dan tunggu” untuk pasien yang menganggap terapi obat untuk kondisi penyakit yang biasa, tetapi tidak darurat.

Namun, untuk dapat menggunakan placebo, “dibutuhkan permintaan pasien akan obat ini,” kata Kaptchuk. MIMS

Sumber:
http://www.npr.org/sections/health-shots/2016/10/27/499475288/is-it-still-a-placebo-when-it-works-and-you-know-its-a-placebo 
http://www.npr.org/sections/health-shots/2016/11/08/501035923/how-the-brain-powers-placebos-false-memories-and-healing
http://www.livescience.com/56531-placebo-treatment-back-pain.html
http://www.livescience.com/32941-is-the-placebo-effect-real.html
http://www.webmd.com/pain-management/what-is-the-placebo-effect?page=1