Masalah feminisme dimana wanita menuntut emansipasi dalam berbagai bidang semakin populer belakangan ini, tidak terkecuali dalam dunia kesehatan. Sekitar dua puluh tahun lalu, selain dari perbedaan sistem reproduksi, tubuh pria masih menjadi model anatomi universal sebab pengetahuan mengenai pentingnya jenis kelamin dalam ilmu kedokteran barat masih sangat terbatas.

Selain itu, uji coba klinis kebanyakan merekrut pria sebagai peserta dan hasil yang didapat kemudian dijadikan panduan berbasis bukti untuk diagnosis dan pengobatan kedua jenis kelamin. Yang lebih menarik, dosis obat juga disesuaikan berdasarkan ukuran tubuh pasien dan wanita dianggap sebagai “pria kecil”. 

Kita telah melakukan perjalanan yang panjang sejak saat itu. Sembilan tahun yang lalu, World Health Organisation (WHO) mengeluarkan panduan pengajaran kompetensi berdasarkan jenis kelamin. Melalui panduan ini, tenaga kesehatan profesional mendapat pengarahan dalam menyadari bahwa perbedaan berdasarkan jenis kelamin merupakan hal yang signifikan dan bagaimana cara memperoleh hasil yang lebih setara. 

Penting untuk diketahui bahwa jenis kelamin dalam bidang kedokteran bukan hanya tentang wanita, tetapi tentang bagaimana mengatasi kesenjangan dalam pengobatan klinis dan memastikan bahwa pelayanan kesehatan terbaik diberikan kepada semua orang. Selain itu, fokus perhatian juga ditempatkan dalam memastikan kesetaraan dalam akses pelayanan kesehatan dan kesetaraan dalam peran dan komposisi profesional.

Beberapa insiden penyakit dan gejala sangat bervariasi antar jenis kelamin

Penelitian membuktikan bahwa insiden dan gejala kondisi medis bervariasi antar jenis kelamin. Misalnya pada penyakit jantung, wanita cenderung jarang meminta pertolongan saat mengalami serangan jantung karena wanita memiliki gejala yang tidak terlalu khas sehingga sulit diidentifikasi. Tidak hanya itu, penelitian juga menunjukkan bahwa mereka tidak memperoleh pengobatan seperti yang didapat pria. Hal ini mengakibatkan wanita memiliki peluang hidup lebih rendah.

Sedangkan di bidang kesehatan mental, depresi lebih banyak terjadi pada wanita dan angka bunuh diri lebih banyak terjadi pada pria. Bahkan sifat dari berbagai kondisi seperti penyakit jantung, osteoporosis dan kanker paru juga bervariasi antara wanita dan laki-kaki, termasuk hasil akhir terapinya.

Namun sayangnya, ketika menilai seluruh individu di dunia, dua per tiga dari mereka adalah wanita – walaupun telah dilakukan penyesuaian terhadap alasan wanita hidup lebih lama daripada pria. 

Penyelidik juga menyadari perbedaan sosiologi seperti wanita dengan fraktur ruang bola mata, ruptur bola mata, atau mata memar berada dalam risiko kematian. Risiko ini bukan berasal dari cedera tersebut, melainkan dari tindakan penyerangan tambahan dari pelaku. 

Perbedaan mencolok juga ditemukan pada sistem imun. Hal tersebut didasarkan pada angka kelangsungan hidup spesies dimana pria lebih banyak terkena dampak virus seperti tuberkulosis dan Epstein-Barr. Namun, sistem imun wanita yang reaktif menempatkan wanita menjadi lebih rentan terhadap penyakit autoimun dan alergi seperti lupus dan asma.

Uji coba pengobatan: kelompok penelitian “semua pria” – hal di masa lalu

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, uji coba klinis sebelumnya berpusat pada pria karena adanya alasan-alasan seperti kesediaan berpartisipasi dan kekhawatiran mengenai dampak kesehatan reproduksi wanita, atau dampak siklus mentruasi terhadap hasil uji coba. Selain itu, biaya juga menjadi lebih hemat karena ukuran sampel berkurang walaupun dengan mengabaikan hasil yang tidak akurat untuk beberapa sub-kelompok vital. 

Hasil uji coba tersebut jelas berdampak besar pada wanita, sebab mereka dirugikan oleh panduan pengobatan yang disusun berdasarkan uji coba. Tidak hanya itu, ketika wanita dan pria disertakan dalam uji coba, hasilnya dipublikasikan sebagai satu kesimpulan umum sehingga kembali menimbulkan hasil yang tidak akurat.

Bahkan dalam uji coba klinis yang menggunakan hewan, hewan berjenis kelamin perempuan ditolak untuk menyederhanakan perawatan dan biaya, sekaligus menurunkan variasi pengukuran. 

Namun, kita perlu memberi apresiasi untuk sesuatu yang pantas diapresiasi. Sebuah perubahan dalam desain uji coba telah dilakukan dan semakin nyata belakangan ini. Seperti misalnya, organisasi penyedia dana penelitian kedokteran terbesar di Australia, yaitu National Health & Medical Research Council, mengeluarkan panduan yang mengharuskan pelamar memastikan kesetaraan jenis kelamin dalam partisipan penelitian.

Kuota untuk mengikutsertakan wanita dalam uji coba menjadi hal penting karena peneliti menemukan semakin banyak kesenjangan ketika mengolah data statistik penyakit secara global.

Dibutuhkan sistem edukasi yang lebih baik

Marcia Stefanick, PhD, profesor di bidang kedokteran dan direktur Stanford Women & Sex Differences in Medicine (WSDM) Centre mengatakan bahwa solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini, namun tidak mudah dilakukan, adalah edukasi yang lebih baik. 

“Suatu contoh yang baik adalah ‘kampanye gaun merah’, dimana wanita mendapat edukasi untuk lebih sadar akan risiko dan gejala penyakit jantung serta melaporkan gejala tersebut dengan cara yang dapat lebih mudah dikenali oleh tenaga kesehatan profesional,” ujar Stefanick.

Stefanick juga menambahkan bahwa dokter dapat memperoleh edukasi melalui kampanye ini untuk mengidentifikasi perbedaan gejala-gejala yang mungkin dilaporkan wanita (kelelahan, mual, nyeri pada lengan kanan) sebelum mengeluhkan nyeri dada yang biasanya dikeluhkan pria. 

WSDM Centre memiliki fokus pada pemahaman biologis yang membedakan atau tidak membedakan antara pria dan wanita, termasuk isu jenis kelamin yang dapat menimbulkan bias di bidang praktik kedokteran terhadap keuntungan maupun kerugian pria atau wanita.

Selain itu, sebuah artikel penelitian di Italia yang dipublikasikan beberapa tahun lalu memberikan gambaran secara jelas mengenai perlunya diadakan pengobatan yang spesifik berdasarkan jenis kelamin dalam berbagai kondisi dan penyakit. 

“Dalam penyakit kanker, pertanyaan mengenai perbedaan jenis kelamin tidak pernah berakhir. Mengapa kanker usus besar pada wanita cenderung lebih terkonsentrasi pada sisi kanan dibandingkan pria? Kami tidak tahu,” ujar Dr. Marianne Legato, seorang profesor di bidang kedokteran klinik di New York’s Columbia University dan direktur Foundation for Gender-Specific Medicine.

Dia juga berpendapat bahwa suatu pelatihan spesifik mengenai perbedaan berdasarkan jenis kelamin perlu diadakan di sekolah kedokteran, tetapi dokter mungkin menolaknya karena akan menambah beban pekerjaan. MIMS 

Bacaan lain:

Tantangan memberi terapi ke pasien transgender
Kesehatan mental memberi pengaruh lebih besar ke pria daripada wanita
4 alasan mengapa pria harus mulai memasuki dunia keperawatan

Sumber:
https://theconversation.com/medicines-gender-revolution-how-women-stopped-being-treated-as-small-men-77171
https://theconversation.com/man-flu-is-real-but-women-get-more-autoimmune-diseases-and-allergies-77248
https://theconversation.com/women-have-heart-attacks-too-but-their-symptoms-are-often-dismissed-as-something-else-76083
https://theconversation.com/what-happens-in-the-womb-affects-our-health-as-adults-but-girls-and-boys-respond-differently-76016
https://bewell.stanford.edu/sex-differences-in-medicine/
http://www.huffingtonpost.com/2013/03/27/gender-medicine_n_2956796.html