Kesehatan mulut seringkali luput dari perhatian kita. Berikut tiga studi membuktikan mengapa kesehatan mulut sebaiknya tidak Anda abaikan.

1. Bisakah gangguan saluran cerna diobati dengan mengubah bakteri di mulut?

Bagaimana jika suatu hari gangguan saluran cerna seperti Chron’s Disease (CD), colitis ulceratif dan sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome) dapat diobati dengan hanya mengubah koloni bakteri mulut?

Sebuah studi yang baru dilakukan oleh Universitas Waseda, Jepang, menemukan bahwa terdapat peningkatan koloni bakteri-bakteri tertentu dalam mulut yang mungkin menyebabkan penyakit radang saluran cerna (inflammatory bowel diseases/IBD). 

Saat peneliti memindahkan saliva penderita IBD dan CD ke dalam usus tikus percobaan yang sudah dimodifikasi bebas bakteri, tikus ini secara mengagetkan mengalami inflamasi pada ususnya. Anehnya, eksperimen yang sama pada tikus normal tidak menunjukkan hal serupa. Hal ini membuat peneliti yakin bahwa bakteri tertentu pada mulut dapat memengaruhi kesehatan usus, terutama saat flora normal usus terganggu.

Peneliti akhirnya menemukan penyebabnya adalah bakteri Klebsiella Pneumonia. Menariknya, Klebsiella Penumonia dianggap sebagai flora normal usus. “Sangat dianjurkan untuk menghindari pemakaian antibiotik yang berlebihan dalam jangka panjang, bahkan pada orang normal,” jelas professor Masahira Hattori, penggagas penelitian ini.

Apakah ini berarti antibiotik spektrum sempit dapat digunakan sebagai terapi IBD di masa depan? Para peneliti masih meragukannya sebab Klebsiella pneumonia dikenal resisten dengan berbagai antibiotik dan sulit dieradikasi. Meskipun demikian, penemuan ini menapaki langkah baru pengobatan IBD dengan memberikan desinfektan pada mulut.

Klebsiella pneumoniae is resistant to many antibiotics, hence Professor Hattori advises that long-term use of antibiotics should be avoided. Photo credit: Waseda University
Klebsiella pneumoniae is resistant to many antibiotics, hence Professor Hattori advises that long-term use of antibiotics should be avoided. Photo credit: Waseda University


2. 101 Kesehatan mulut: Vitamin lebih penting daripada menggosok gigi

Meskipun menggosok gigi merupakan suatu hal penting, namun rupanya sikat gigi saja masih belum cukup. Dokter Steven Lin asal Australia mengatakan bahwa menggosok dan memakai benang gigi (dental floss) tidak terlalu penting. Sebaliknya, asupan nutrisi yang cukup berperan penting dalam membentuk gigi sehat.

Kekurangan asupan vitamin A, K2, dan E dapat mengganggu kesehatan mulut. Dokter Lin mengungkapkan inilah alasan dibalik kerusakan gigi dan plak pada beberapa orang meskipun ia telah mengikuti anjuran dokter giginya.

Vitamin A berperan penting dalam memproduksi saliva pelindung yang bekerja mematikan bakteri berbahaya. Vitamin K2 dan D bekerja sinergis dalam memastikan gigi mendapatkan kebutuhan kasium cukup. Terakhir, vitamin E menjaga keseimbangan bakteri di dalam mulut.

“Perlu saya tekankan, Anda harus mendapat nutrisi, vitamin dan mineral yang tepat agar gigi Anda terus beregenerasi. Banyak  orang percaya mereka dapat mencegah gigi dan gusi berlubang hanya dengan rutin menggosok gigi dan memakai pasta gigi yang tepat – tetapi hal ini bukan faktor terpenting,” ujar dokter Lin.

3. Kesehatan mulut yang buruk berkaitan dengan tingginya tekanan darah


Hasil studi yang pertama kali dipresentasikan pada pertemuan 2017 American Heart Association (AHA) oleh tim peneliti asal Cina mengungkapkan bahwa penanganan penyakit gusi (periodontitis) dapat membantu mengontrol tekanan darah.

Sebanyak 107 peserta studi dengan penyakit gusi dan pre-hipertensi mengikuti uji dengan intervensi pembersihan gigi secara teratur dan intensif. Intervensi ini mencakup kebiasaan menggosok gigi, menggunakan benang gigi, dan pengangkatan plak diantara batas gigi-gusi. Perawatan intensif mencakup prosedur invasif seperti ekstraksi gigi, pembersihan gigi hingga ke akar, dan pemberian antibiotik jika diperlukan.

Menariknya, tekanan darah sistolik pasien yang mendapat perawatan intensif menurun. Efek ini berlangsung selama enam bulan setelah menjalani terapi – dengan perbedaan besar pada tekanan darah bulan keenam dibandingkan dengan pengukuran pada bulan pertama dan bulan ketiga.

Peningkatan tekanan darah adalah hal yang lumrah – dan diperkirakan menyebabkan 7,5 juta kematian (sekitar 12,8%) di seluruh dunia. 

“Hal dasar seperti perawatan gusi dapat menurunkan risiko tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular lainnya di kemudian hari,” ujar Richard Becker, MD, (Profesor bidang medis, direktur Divisi Kesehatan dan Penyakit Kardiovaskular, direktur, institut Jantung, Paru & Vaskular Universitas Cincinnati, OH), juga juru bicara American Heart Association (AHA). MIMS

Bacaan lain:
Implikasi bakteri usus pada patologi penting sistem neurologi
Apakah bakteri usus memengaruhi kesehatan manusia?
7 makanan probiotik untuk usus sehat

Sumber:
http://science.sciencemag.org/content/358/6361/359
https://www.waseda.jp/top/en-news/55087
http://www.dailymail.co.uk/health/article-5002212/Dentist-says-salami-butter-key-good-teeth.html
http://newsroom.heart.org/news/treating-gum-disease-may-help-lower-blood-pressure
http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_prevalence_text/en/