Ketika seseorang memiliki kesehatan mental yang baik, orang ini bisa membangun hubungan positif, bekerja sepenuh hati, dan bisa menyelesaikan berbagai tantangan hidup. Kesehatan mental yang buruk mirip dengan gangguan mental, tetapi gejala yang ditunjukkan biasa tidak dominan.

Masalah kesehatan mental bisa muncul dengan cara berbeda - misalnya dalam bentuk gejala depresi atau gelisah yang sering muncul, dan juga kesulitan menjaga emosi. Pengaruhnya bisa jadi memiliki pola pikir merusak atau negatif, menurunnya rasa percaya diri dan memiliki masalah saat bersosialisasi atau menjaga hubungan baik. Mereka juga kemungkinan mulai menyakiti diri sendiri atau mulai berpikir untuk bunuh diri.

Pria yang cemas memiliki risiko lebih tinggi meninggal karena kanker

Penelitian skala besar yang baru dilakukan pada 15.938 orang Inggris berusia lebih dari 40 tahun selama periode waktu 15 tahun menemukan bahwa pria berusia 40 tahun dengan diagnosis gangguan kecemasan umum (generalised anxiety disorder [GAD]) memiliki dua kali kemungkinan (2,15 kali) meninggal karena kanker daripada pria tanpa gangguan mental. Peningkatan risiko ini tidak ditemukan pada wanita dengan gangguan yang sama.

Penelitian dilakukan untuk mencaritahu faktor risiko kanker, termasuk usia, konsumsi alkohol, merokok, dan penyakit kronis.

GAD dikarakteristik sebagai suatu gangguan emosi yang menetap, berlebihan, dan cemas tanpa alasan mengenai masalah sehari-hari, serta lebih banyak memengaruhi wanita daripada pria. Penelitian kohort yang dilakukan pada wanita, menemukan bahwa 2,4% wanita menderita gangguan, dibandingkan 1,8% kohort pria.

Hasil penelitian tidak menunjukkan ada hubungan antara kanker dan kecemasan, dan mereka juga tidak memiliki bukti mekanisme bagaimana kecemasan bisa menyebabkan kanker, karena pria dengan kecemasan bisa meningkatkan risiko kanker. Namun, ahli mengatakan bahwa hasil penelitian berspekulasi bahwa stress tubuh disebabkan stress mental pada pasien GAD dan muncul akibat melemahnya fungsi tubuh seperti sistem imun.

Menurut penulis Olivia Remes dari Cambridge University's Institute of Public Health, ia mengimplikasikan bahwa "Publik bisa menggunakan rasa cemas sebagai sinyal buruknya kesehatan mental."

Pria yang depresi memiliki kemungkinan sukses bunuh diri daripada wanita

Pria memiliki kemungkinan meninggal ketika mereka berusaha bunuh diri, menurut beberapa peneliti. Di Inggris saja, pria menyebabkan 75% kematian disebabkan usaha bunuh diri, meskipun wanita lebih sering mengalami depresi daripada pria, dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencoba bunuh diri.

Faktor pertama bisa jadi karena metode - pria biasa memilih cara yang lebih ganas untuk bunuh diri. Di saat wanita mencoba bunuh diri menggunakan obat, pria lebih memilih menggunakan senjata atau menggantung dirinya.

Meskipun demikian, kondisi ini tidak menjelaskan alasan mengapa pria lebih mungkin meninggal daripada wanita bahkan ketika kedua jenis kelamin mencoba membunuh diri dengan metode yang sama. Namun, pria lebih memiliki "kemampuan bunuh diri" pada beberapa kondisi tertentu. Menurut Profesor Gopikrishna Deshpande dan tim nya dari Auburn University, pria menggunakan empat pilar utama ketika bunuh diri, yaitu: tidak takut akan kematian, toleransi sakit, sikap emosi tabah dan mencari sensasi.

Cara pria mengatur emosi berbeda dengan wanita

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa wanita lebih sering menunjukkan emosi daripada pria, yang lebih sering menyimpan perasaannya dalam hati. Kondisi ini biasanya disebabkan kombinasi faktor sosial dan sikap.

Sikap pertama adalah sikap yang banyak dikenal orang - dunia sosial menganggap pria merupakan orang yang sangat tabah, dan mengekspresikan apa yang ia rasakan merupakan tanda kelemahannya. Secara umum, pria lebih sering memroses emosi mereka di dalam hati dan jika mereka tetap cenderung berpikir negatif, ini menunjukkan mereka tidak mendapat solusi yang efektif. Pria cenderung lebih banyak melakukan aktivitas fisik, mereka biasa menunjukkan emosi untuk menemukan solusi, atau menghindari permasalahan yang ada melakukan sesuatu.

Sikap kedua merupakan hal yang mengejutkan; pria tidak mengetahui mengapa mereka perlu mengutarakan isi hatinya, menurut penelitian pada 2.000 anak usia sekolah Amanda Rose dari University of Missouri.

Faktanya, mereka merasa mengutarakan isi hati bisa jadi merupakan sesuatu yang akan mengganggu masa depan mereka. "Pria seringkali menganggap mengutarakan permasalahan bisa membuat masalahnya menjadi lebih besar dan melakukan aktivitas fisik bisa menjauhkan pikiran mereka dari masalah," kata Rose.

Meskipun pria jarang menderita gangguan kesehatan mental daripada wanita, bahaya yang mereka hadapi lebih besar daripada wanita. Kondisi ini sebagian disebabkan kecenderungan pria untuk memroses emosi secara internal. Dengan demikian, penting untuk menyemangati pria, lebih sering daripada wanita, agar mereka mencari bantuan eksternal untuk masalah kesehatan mentalnya. MIMS

Bacaan lain:
Sensor gerakan untuk meningkatkan kualitas home care pada lansia Singapura dalam penelitian skala pilot
5 Tips membangun hubungan baik untuk tenaga kesehatan
Dibalik sakitnya melahirkan
Perlukah dokter belajar pemrograman?


Sumber:

http://www.star2.com/health/mind/2016/09/26/men-with-anxiety-are-more-likely-to-die-of-cancer-study-says/
http://medicalxpress.com/news/2016-09-men-women-commit-suicide.html
http://www.health.harvard.edu/newsletter_article/marriage-and-mens-health
http://cottesloecounselling.com.au/physical-mental-health.html
https://www.adaa.org/understanding-anxiety/generalized-anxiety-disorder-gad
http://www.huffingtonpost.ca/2011/09/06/men-talking-relationships_n_950218.html
http://www.telegraph.co.uk/science/2016/09/19/anxious-men-twice-as-likely-to-die-from-cancer-research-finds/
http://ontario.cmha.ca/mental-health/connection-between-mental-and-physical-health/