Rufino Borrego berusia 13 tahun ketika didiagnosis terkena distrofi otot yang tidak bisa sembuh. Selama lebih dari empat dekade, ia menggunakan kursi roda untuk bergerak.

Pada 2010, seorang neurologis menemukan bahwa pria ini mendapat diagnosis yang salah. Ia menderita penyakit lain yang melemahkan otot – myastenia. Meskipun langka, myastenia bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan seperti distrofi otot. Penyakit ini bisa dengan mudah disembuhkan menggunakan obat asma.

Belajar jalan untuk pertama kalinya setelah 43 tahun

Sebagai akibat dari kesalahan diagnosis, Borrego belajar berjalan di usianya yang kelima puluh. Dan satu tahun sejak diagnosis barunya, ia akhirnya bisa berjalan lagi.

Di usianya yang ke-61, ia mulai bisa hidup normal tanpa kursi rodanya. Ia hanya membutuhkan sesi fisioterapi dua kali dalam satu tahun.

Meskipun kesalahan diagnosis menyebabkan ia menghabiskan setengah masa hidupnya di kursi roda, Borrego tidak merasa tertipu dan membenci rumah sakit yang salah mendiagnosisnya.

"Saya hanya ingin membuat hidup saya berguna," katanya.

Peran kemajuan medis untuk mencegah kesalahan diagnosis

Kesalahan diagnosis pada Borrego bisa jadi karena penyakit myasthenia belum ditemukan pada tahun 1960-an. Penyakit ini baru ditemukan pada tahun 1970-an, dan meskipun pada saat itu, penelitian medis perlu dilakukan untuk lebih jauh memahami penyakit langka ini.

Bukan hanya Borrego saja. Kurangnya pemahaman medis pada beberapa penyakit tertentu – khususnya penyakit langka – menyebabkan sejumlah kesalahan diagnosis medis. Yang sering terjadi, pasien yang sakit menerima terapi yang sebenarnya tidak ia butuhkan akibat kesalahan diagnosis.

Faktanya, menurut Fakultas Kedokteran, kebanyakan pasien menderita dari setidaknya satu diagnosis yang salah atau tertunda.

Jurnalis Nika Beamon juga merupakan korban salaha diagnosis. Ia menderita penyakit autoimun langka dan belum ditemukan sebelumnya. Penyakit ini disebut sebagai gangguan sistemik disebabkan IgG4. Kurangnya pemahaman dan penelitian medis mengenai penyakit ini memunculkan berbagai kesalahan diagnosis.

Ia secara berulang melakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan untuk penyakit anemia sickle cell, lupus, multiple sclerosis, dan sarkoidosis. Ia juga perlu melewati sejumlah operasi bedah yang tidak perlu dan mengonsumsi ratusan pil obat – dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit yang tidak ia derita.

Artis desa Kris Kristofferson yang telah berperang melawan masalah ingatan selama beberapa tahun juga salah didiagnosis sebagai penderita Alzheimer. Ia kemudian menemukan bahwa masalah di ingatannya muncul akibat penyakit Lyme yang tidak ditangani. Kesehatannya membaik dengan cepat setelah beberapa minggu menerima terapi untuk penyakit Lyme.

Karena termasuk penyakit baru, penyebab penyakit Lyme baru ditemukan tahun 1980-an. Hingga sekarang, media diagnosis untuk penyakit Lyme masih dianggap sebagai media yang kurang spesifik bagi tenaga kesehatan. MIMS

Bacaan lain:
Robot pil - penghantar obat dalam tubuh
Sensor gerakan untuk meningkatkan kualitas home care pada lansia Singapura dalam penelitian skala pilot
Penelitian antibodi tidak selalu bisa diandalkan


Sumber:
http://health.asiaone.com/health/health-news/man-spends-43-years-wheelchair-wrong-diagnosis
https://medicine.yale.edu/neurology/patients/neuromuscular/mg.aspx
http://www.huffingtonpost.com/nika-c-beamon/medical-misdiagnosis-nearly-killed-me_b_8441082.html
http://www.newsmax.com/Health/Headline/Kris-Kristofferson-Lyme-Disease/2016/06/09/id/733155/
http://www.bayarealyme.org/about-lyme/history-lyme-disease/
http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2015/09/30/diagnostic-errors.aspx