Suatu saat bila Anda pergi untuk konsultasi ke dokter dan diberi tahu bahwa "Dokter akan menemuimu sekarang", jangan terkejut bila ini juga berarti "Perawat, apoteker dan ahli gizi juga akan muncul bersama."

Saat ini kita hidup pada era dimana peran dokter mulai disempurnakan dan didefinisikan ulang. Pelayanan medis cenderung mengarah pada kerjasama tim, bukan kerja tunggal. Praktek medis yang biasa dilakukan oleh dokter sendiri kini mulai dibagikan kepada anggota tim medis lainnya – seperti perawat, asisten medis, apoteker dan ahli gizi. Karena masih menjadi pemegang tanggung jawab utama, maka dokter di masa depan masih akan mengawasi pekerjaan tenaga kesehatan lainnya.

Model pelayanan medis berbasis tim

Model baru tim pelayanan medis yang dipimpin oleh dokter dibuat berdasarkan penerapan pelayanan medis yang lebih efisien, dengan menghindari layanan dan kesalahan yang tidak perlu. Membagi tugas kepada anggota tim dapat mengurangi biaya, mengurangi beban kerja dokter serta menjaga produktivitas anggota tim. Berdasarkan model baru ini, pasien yang datang sesuai jadwal periksa akan ditangani oleh perawat atau asisten medis terlebih dahulu, mereka akan mengajukan pertanyaan mengenai gejala atau riwayat medis – rutinitas yang biasanya dilakukan dokter sendiri. Ketika dokter tiba, asisten medis akan bertanggung jawab dalam mencatat serta mengajukan usulan tes dan layanan, seperti terapi fisik hingga memastikan pasien memahami instruksi dokter.

Model ini merupakan rutinitas pasien yang berkonsultasi dengan Dr.C.T. Lin, dokter yang bekerja di sebuah klinik di Denver, Amerika Serikat. Membagi beban kerja memungkinkan Lin untuk tetap fokus pada pekerjaan utamanya – mendengarkan keluhan dan memecahkan masalah pasien. "Sekarang saya hanya menilai dan membuat perencanaan terapi – keputusan medis – yang adalah pekerjaan utama saya," kata Lin.

Dalam pendekatan berbasis tim, pasien akan berinteraksi dengan tenaga kesehatan spesifik dengan keahlian mereka, seperti apoteker klinis yang akan memantau pengobatan pasien atau ahli gizi yang akan memberikan konsultasi mengenai nutrisi dan menu makanan yang tepat.

Kendala yang dihadapi

Tak perlu disangkal lagi, gagasan kerjasama tim antar tenaga kesehatan pasti sangat bermanfaat. Namun, hingga tingkatan apa dokter dan pasien dapat beradaptasi dengan model evolusioner ini?

Hasil dari  2012 American Medical Colleges’ Consumer Survey menunjukkan bahwa 50% partisipan lebih menyukai berkonsultasi dengan dokter, sementara hanya 25% lebih memilih berkonsultasi dengan asisten dokter atau perawat.

Perubahan ini belum tentu mudah bagi dokter. Dr Lin yang juga Chief Information Officer untuk UCHealth, di Universitas Colorado, memahami bahwa perubahan merupakan suatu hal yang sulit. Butuh waktu hingga dokter bisa terbiasa dengan asistennya, Becky Peterson di ruang pemeriksaan. "Seperti dokter lain, saya takut menyerahkan sebgaian tanggung jawab saya kepada tenaga kesehatan lain," ungkapnya.

Kekhawatiran lain adalah risiko yang mungkin timbul saat pasien ditangani oleh tenaga medis yang kurang berpengalaman. Dr Prakash Masand, seorang psikiater bersertifikat di New York dan juga CEO dari Global Medication Education, mengkritik peningkatan peran asisten dokter dalam pelayanan kesehatan mental, padahal mereka hanya menjalani enam sampai 12 minggu pelatihan kejiwaan di sekolah. "Ini adalah salah satu alasan terjadinya salah diagnosis dan penulisan resep antidepresan yang berlebihan di rumah sakit jiwa. Jika asisten dokter belum mendapat cukup pelatihan, mereka seharusnya tidak boleh menangani pasien yang membutuhkan penanganan khusus."

According to the 2012 American Medical Colleges’ Consumer Survey, 50% of the patients who participated preferred to see the physician, while 25% preferred to see physician assistants or nurse practitioners. Photo credit: Politico
According to the 2012 American Medical Colleges’ Consumer Survey, 50% of the patients who participated preferred to see the physician, while 25% preferred to see physician assistants or nurse practitioners. Photo credit: Politico

Keseimbangan beban kerja untuk efisiensi

Kenyataannya, sama seperti di bidang lain, menjaga keseimbangan adalah kunci untuk memastikan efisiensi. Koordinasi sangat penting untuk menghindari konflik dan kesalahan manajemen. Dalam kasus UCHealth, pasien tampaknya tak bermasalah dengan perubahan mengikuti model baru ini. Meskipun beberapa di antaranya berbicara secara pribadi kepada dokter mereka, ada pula yang lebih terbuka dengan asisten medis daripada dokter. "Terkadang, mereka tidak merasa dihakimi," tutur Peterson.

Tidak ada jaminan bahwa menerapkan pendekatan baru merupakan sesuatu yang mudah. Namun, karena dinamika sistem layanan medis diperkirakan akan meningkat di masa depan, perubahan merupakan hal yang tak bisa dihindari dan semua komunitas medis harus mengakui hal ini. "Kita ditantang untuk mengenal beberapa fakta baru. Saya adalah seorang dokter keluarga yang bekerja sendiri di sebuah kota kecil bernama Trenton, Georgia, dan itu merupakan sebuah kehormatan bagi saya. Tapi kenyataannya, sudah tidak ada lagi tenaga kesehatan yang bekerja sendiri," ungkap Dr Reid B. Blackwelder, kepala American Academy of Family Physicians. MIMS

Bacaan lain:
Praktek kedokteran yang menguntungkan: Menciptakan keseimbangan antara pelayanan kesehatan dan bisnis
Dokter tidak memperhitungkan biaya saat meresepkan obat atau tes kesehatan
Bagaimana cara meningkatkan angka kunjungan pasien

Sumber:
http://www.politico.com/agenda/story/2017/10/25/role-of-physician-in-healthcare-000554
https://www.huffingtonpost.com/entry/team-approach-to-health-care-means-new-role-for-doctors_us_59f09780e4b02ace788ca8fb
https://www.nytimes.com/2014/08/03/education/edlife/the-physician-assistant-will-see-you.html
http://www.healthaffairs.org/doi/full/10.1377/hlthaff.2012.1150