Pengadilan Los Angeles membahas mengenai kasus Eva Echeverria dengan Johnson & Johnson. Echeverria akhirnya menerima titik terang dalam usahanya melawan produsen terbesar bedak talkum saat pengadilan memutuskan agar perusahaan tersebut harus membayarnya USD68 juta untuk mengganti rugi kerusakan dan USD340 juta untuk ganti rugi hukuman.

Konsumen bedak bayi Johnson & Johnson

Dari California, Echeverria merupakan konsumen setia bedak bayi Johnson & Johnson sejak tahun 1950an hingga 2016. Di tahun 2007, ia didiagnosis kanker ovarium, yang kemudian diketahui terjadi karena penggunaan produk Johnson & Johnson.

Dalam gugatannya, yang dipresentasikan oleh pengacaranya, Mark Robinson, Echeverria menjelaskan bagaimana ia mengalami kanker payudara akibat "penggunaan bedak talkum yang sangat berbahaya dan merusak."

Ia juga menuduh Johnson & Johnson gagal memperingati konsumen mereka mengenai potensi risiko kanker akibat penggunaan bedak talkum. Berita kemenangan ini memberikan sedikit kelegaan bagi Echeverria, yang sekarang dirawat untuk terapi kanker.

"Ibu Echeverria sedang sekarat karena kanker ovarium dan ia mengatakan kepada saya bahwa yang ia inginkan adalah membantu wanita lain di seluruh dunia yang menderita kanker ovarium disebabkan penggunaan Johnson & Johnson selama 20 dan 30 tahun," ungkap Robinson.

Di antara bukti yang ditunjukkan di pengadilan, ada juga dokumen internal beberapa tahun lalu yang membuktikan bahwa Johnson & Johnson mengetahui risiko produk mereka – namun, mereka tidak memperingati konsumen mengenai kemungkinan terjadinya kanker ovarium.

Dari penemuan mereka, Robinson mengatakan bahwa "Johnson & Johnson sudah sering mendapat tanda bahaya selama 30 tahun ini. Namun, mereka gagal memperingati wanita yang membeli produk mereka."

Johnson & Johnson membela produk mereka

Carol Goodrich, seorang pembicara Johnson & Johnson, mengomentari bahwa perusahaan berusaha untuk naik banding. Ia juga mengatakan bahwa meskipun "perusahaan bersimpati terhadap para pasien kanker ovarium", namun tidak ada bukti saintifik yang menunjukkan bahwa "bedak bayi Johnson aman untuk digunakan."

Dalam pernyataannya yang mewakili perusahaan, Goodrich mengatakan bahwa "Kami mengikuti panduan ilmu pengetahuan, yang mendukung keamanan Bedak Bayi Johnson. Kami sedang menyiapkan pengajuan pengadilan banding di Amerika, dan kami akan terus membela keamanan Bedak Bayi Johnson."

Johnson & Johnson menerima banyak sekali gugatan serupa

Gugatan Echeverria bukan satu-satunya yang melaporkan produsen bedak talkum ini. Wanita lain di Virginia juga berhasil menggugat Johnson & Johnson setelah didiagnosis kanker ovarium di tahun 2012. Pengadilan memerintahkan Johnson & Johnson untuk membayar wanita ini sebesar USD110,5 juta, saat keputusan akhir pengadilan diumumkan pada Mei 2017.

Pada tiga pengadilan berbeda tahun lalu, pengadilan menemukan bahwa Johnson & Johnson bersalah dan perusahaan harus membayar korbannya sejumlah total USD207,6 juta. Ada lebih dari 1.000 orang, yang melaporkan gugatan serupa dan dihadiahi jumlah ganti rugi uang yang lebih kecil.

Namun tidak semuanya berhasil, ada beberapa pengadilan yang menolak tiga kasus berbeda. Semua kasus ini adalah gugatan yang diajukan oleh pasien wanita, yang menyalahkan bedak talkum sebagai penyebab kanker ovarium yang dideritanya. Ada beberapa kasus lain yang masih tertunda pengadilannya.

Johnson & Johnson tidak berencana untuk menyerah dan keputusan akhir lain dibuat bertentangan dengan keinginan mereka. Perusahaan dikatakan sedang menyiapkan pembelaan produknya dari tuduhan sebagai penyebab kanker.

Pandangan ahli juga ikut diperhitungkan

Beberapa ahli setuju, namun yang lain tidak, mengenai apakah bedak talkum benar-benar bisa menyebabkan kanker. Seorang profesor obstetrik dan ginekologi di Rumah Sakit Brigham dan Wanita di Boston, Dr Daniel Cramer, berpikir bahwa "ada kemungkinan."

"Secara keseluruhan, wanita mungkin meningkatkan risiko umum mereka sekitar 33% dengan menggunakan bedak talkum untuk higienitas," jelas Cramer, yang juga merupakan konsultan terbayar di banyak kasus serupa melawan Johnson & Johnson.

Cramer menambahkan, "Ceritanya dimulai di beberapa tahun lalu, di tahun 70an, dimana orang-orang mencatat bahwa kanker ovarium mungkin memiliki kemiripan dengan paparan asbes. Sementara itu, kelompok lain di Inggris menemukan talkum bisa menempel dalam ovarium dan dikatakan mungkin ada sejarah di baliknya."

Menurut Goodrich, National Cancer Institute's Physician Data Query Editorial Board menemukan bahwa "bobot bukti yang ada tidak mendukung hubungan antara paparan talkum secara perineal dan peningkatan risiko kanker ovarium."

Di tahun 2010, International Agency for Research on Cancer mengatakan bahwa talkum merupakan agen karsinogenik. Joelle Schildkraut, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Virginia, mengatakan bahwa meskipun penelitian ini tidak membuktikan adanya hubungan positif, namun penelitian ini memberikan petunjuk dan mendukung ide ini.

Shelley Tworoger, seorang ahli epidemiologi kanker di Moffitt Cancer Center di Tampa, mendukung ide bahwa menggunakan talkum untuk tujuan higienitas wanita bisa memengaruhi kanker ovarium. Tetapi, Tworoger menyatakan bahwa bukan berarti talkum benar-benar menjadi penyebab kanker ovarium.

Dengan mengatakan bahwa ada cukup informasi yang menyatakan bahwa wanita bisa memeriksa dan mempelajari suatu produk sebelum menggunakannya, Tworoger hanya menanyakan, "Mengapa menggunakannya? Saya tidak tahu saya boleh mengatakan hal ini atau tidak, tetapi... mengapa tidak mencari cara yang aman saja dan tidak menggunakannya?" MIMS

Bacaan lain:
Kanker: Obat konvensional hingga modern
Apakah kanker muncul karena "nasib buruk"?
Mengapa obat alternatif seharusnya tidak banyak dijual

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/08/22/johnson-baby-powder-cancer-talc/
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/08/22/545314093/-417-million-awarded-in-suit-linking-johnson-johnson-baby-powder-to-cancer
https://www.nytimes.com/2017/08/22/health/417-million-awarded-in-suit-tying-johnsons-baby-powder-to-cancer.html