Setidaknya tiga orang sudah meninggal di wabah Ebola terakhir di Republik Demokratik Kongo (RDK), lapor WHO awal bulan Mei ini.

Wabah ini merupakan perkembangan terbaru dari epidemik Ebola di tahun 2014 yang sudah menyerang banyak negara di Afrika Barat. Menteri Kesehatan Masyarakat RDK menyebut bahwa wabah ini bersumber dari distrik kesehatan Likati (Aketi, provinsi Bas-Uélé). Sembilan orang diduga berkontraksi dengan Ebola, dan tiga sudah meninggal dunia. Angka fatalitasnya adalah 33,3%.

"Di tahap ini, keseluruhan risiko masih sangat tinggi di tingkat nasional karena pengaruh wabah Ebola, daerah tertinggal, terbatasnya fasilitas kesehatan dan gaya hidup yang tidak optimal," kata Menteri.

Tingkat kehancuran

Wabah ini dipercaya bermula pada April akhir di daerah tertinggal Bas-Uélé, provinsi yang berjarak 1.300 km dari Kinshasa, ibukota RDK. Virus Ebola berhasil dikonfirmasi melalui hasil positif uji sampel darah.

"Ini terjadi di daerah sangat terpencil, sangat berhutan, sehingga kami sedikit beruntung," kata Eric Kabambi, pembicara WHO di Kongo.

Selain itu, penyakit ini bisa menyebar dengan cepat dari orang ke orang. Pasien pertama merupakan seorang pria berusia 39 tahun yang menunjukkan gejala infeksi Ebola - seperti demam, mual, diare berdarah dan mimisan. Ia meninggal saat perjalanan menuju fasilitas kesehatan.

Sopir yang membawa pria ini, bersamaan dengan orang lain yang menolong selama perjalanan, dilaporkan menunjukkan gejala yang sama. Sopir kemudian meninggal empat hari setelah korban pertama.

Delapan wabah dalam empat dekade

RDK sudah tidak asing lagi dengan wabah Ebola. Menurut catatan dari Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC), ada delapan wabah di negara ini dalam periode waktu empat dekade. Wabah Ebola pertama kali dilaporkan tahun 1976 di Yambuku, desa kecil di Timur Laut Kongo.

Banyak kejadian terjadi setelah wabah Yambuku dan mengarahkan ke penemuan virus Ebola pertama oleh Dr Peter Piot dan koleganya. Saat itu, RDK masih dikenal sebagai Zaire.

Ebola masih mengganggu negara tersebut sejak pertama kali ditemukan, yaitu 40 tahun lalu. Dalam milenium baru, ada sekitar enam wabah, yang terjadi tahun 2002, 2003, 2007, 2012, 2014, dan yang terbaru di tahun 2017.

Dengan demikian, negara ini sudah banyak melawan serangan Ebola dan sudah sangat luar biasa dalam mengontrol dan mencegah penyebaran penyakit mematikan ini. Dilaporkan bahwa RDK berhasil mengakhiri wabah tahun 2014 dalam waktu empat bulan, di saat negara lain membutuhkan waktu dua tahun untuk mencapai hasil yang sama.

Pembicara WHO dalam RDK, Dr Allarangar, juga mengonfirmasikan bahwa bantuan internasional sudah dikerahkan untuk negara ini.

"Tim pertama yang berisi ahli epidemiologi, biologi, dan ahli di bagian mobilisasi, komunikasi risiko dan pendekatan komunitas, dan juga anggota yang memiliki spesialisasi di bidang perairan, higienitas dan sanitasi, dijadwalkan untuk mencapai daerah terpengaruh."

Senjata baru melawan Ebola

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, ilmuwan dan ahli kesehatan masyarakat berhasil mengembangkan vaksin baru untuk melawan Ebola. Industri farmasetikal, Merck, berhasil mengembangkan vaksin yang sangat menjanjikan yang bisa digunakan untuk melawan penyebaran virus.

Sekarang ini, ada sekitar 300.000 dosis vaksin siap didistribusikan untuk mencegah kemunculan wabah seperti yang terjadi pada tahun 2014.

Berdasarkan situasi sekarang, belum ada ancaman wabah ini akan berkembang di luar kontrol manusia. Meskipun tidak perlu panik, namun pemerintah harus tetap berhati-hati. MIMS

Bacaan lain:
Patient zero: cerita pasien dan pola epidemik
Alternatif terapi luka bakar: Kulit ikan Tilapia
WHO menyambut Tedros sebagai direktur umum baru


Sumber:
http://www.afro.who.int/en/media-centre/afro-feature/item/9602-ebola-in-drc-en.html
http://abcnews.go.com/Health/ebola-outbreak-leaves-dead-democratic-republic-congo/story?id=474370343
https://www.nature.com/scitable/blog/viruses101/the_scientist_who_discovered_ebola