Saat itu sudah lewat tengah malam, beberapa jam setelah melaporkan jaga malamnya di Advance Medical Research Institute (AMRI), saat seorang staf perawat berusia 25 tahun, Uma Kesh, mengeluh sakit kepala hebat.

Ia mencari pertolongan di departemen gawat darurat dimana ia akhirnya diminta untuk langsung melakukan pemeriksaan scan CT, tetapi ia ditolak karena pengawasnya mengatakan hal tersebut tidak perlu dilakukan.

Akhirnya, ia disarankan untuk pergi ke Rumah Sakit Employee State Insurance (ESI) esok paginya begitulah peraturan untuk seorang staf di rumah sakit AMRI. Sayangnya, perawat muda ini akhirnya mengalami henti jantung dan kemudian meninggal.

"Ada kelalaian pekerjaan di rumah sakit. Ia merupakan seorang perawat di rumah sakit tetapi disarankan untuk periksa ke rumah sakit ESI dan tidak diberikan terapi," kata seorang sejawatnya yang tidak ingin disebutkan namanya.

Ini merupakan sebuah kasus kelalaian dan sikap tinggi hati yang tidak disamaratakan khususnya untuk seorang staf yang sudah bekerja selama empat tahun.

Dengan nada berapi-api, pekerja rumah sakit mulai menunjuk-nunjuk manager HRD Gaurav Nair yang kemudian didorong ke tanah, ditendang dan ditonjok saat berusaha menghentikan mereka. Dalam situasi ini, ia kemudian mengalami beberapa memar dan luka di kepalanya. Polisi segera ke lokasi kejadian dan meredakan situasi yang sedang memanas tersebut.

Perawat tidak diberikan izin cuti

Menurut Mamata Sarkar, seorang perawat yang berbagi kamar dengan Uma di Keshtopur, mengatakan Uma sudah mengeluh sakit kepala selama beberapa hari. Dan dua hari sebelum kematiannya, ia meminta izin untuk cuti – tetapi tidak disetujui oleh atasannya, Tulika Roy.

"Kami tidak diizinkan cuti saat kami sakit," jelas seorang perawat. "Kami diminta untuk beristirahat selama beberapa jam dan kemudian kembali bekerja."

Uma sudah melakukan konsultasi dengan seorang dokter, Dr Anindya Sarkar, yang meresepkan beberapa obat, dan menyarankannya untuk melakukan konsultasi dengan dokter opthalmologi.

Mamata mengatakan, "Ia melakukan konsultasi dengan seorang dokter opthalmologi di AMRI dan mendapat kacamata, yang ia kenakan saat bekerja kemarin malam."

Pada 2.30 pagi, satu setengah jam setelah ia mengeluhkan sakit kepala, rasa sakitnya semakin parah dan ia segera pergi ke bangsal gawat darurat dimana Dr Sarkar memberikannya obat penghilang nyeri dan menyarankan CT scan. Rita Kar, seorang perawat, mengatakan bahwa atasannya, Roy mengatakan, "Uma tidak memiliki hak untuk melakukan tes tersebut di rumah sakit kami."

Roy menambahkan bahwa jika kondisi Uma memburuk, ia harus dirujuk ke Intensive Cardiac Care Unit (ICCU). Tetapi perawat di rumah sakit AMRI mengatakan Uma meninggalkan kasur gawat darurat tanpa mengenakan alat monitoring apapun.

Kemudian esok paginya saat detak jantung Uma mulai menurun, ia dirujuk ke ICCU, dimana ia menghembuskan napas untuk terakhir kalinya. Orangtua Uma tiba di rumah sakit pada malam harinya dari distrik Sundergarh di Odisha.

Sejawatnya mengatakan bahwa meskipun Uma sudah meninggal, namun tidak satupun atasannya mengunjunginya di ICCU.

Rumah sakit membayar kompensasi ke keluarga yang berduka

Dalam suratnya ke pemerintah, pekerja yang emosi ini meminta penjelasan mengapa tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium atau scan CT; dan mengapa ia tidak segera dirujuk ke rumah sakit. Selain itu, tidak ada alat monitoring yang dipasang ke kasur Uma dan Kode Biru tidak diumumkan.

Sejak insiden ini, senior AMRI sudah berbicara dengan staf lain. Kemudian di sore harinya, para perawat dilaporkan sudah kembali bekerja.

Pembicara AMRI mengatakan mereka sedang menyelidi hal ini. "Pengawas perawat dan petugas gawat darurat sudah diberi hukuman," kata Rupak Barua, CEO AMRI.

"Rumah sakit selalu menyediakan terapi gawat darurat ke pegawainya. Jika ada kelalaian dalam hal ini, maka ini terjadi karena orang-orang tertentu."

Polisi belum menerima laporan; tetapi sudah mencatat adanya kasus suo motu dari kematian yang tidak alami.

Konselor lokal Tulsi Sinha Roy mencatat bahwa, "Kami memerintahkan pemecatan segera dari pengawas perawat dan petugas departemen untuk mengetahui siapa yang melakukan kelalaian saat bekerja."

Tulsi Sinha Roy kemudian menyebutkan bahwa rumah sakit juga sudah setuju untuk membayar kompensasi ke anggota keluarga yang sedang berduka sebagai korban yang meninggal saat bertugas.

Rupak Barua, CEO rumah sakit menyebut kematian ini sangat disayangkan dan mengatakan "kami sedang membicarakan mengenai semua tanggung jawab yang meninggal. Penyelidikan akan dilakukan dan jika ditemukan ada kelalaian, maka tindakan tegas akan dilakukan." MIMS

Bacaan lain:
4 "Malaikat Kematian" lain dalam dunia kesehatan
Inspeksi mendadak di rumah sakit bisa menurunkan angka kematian pasien
Dokter: Bagaimana Anda dapat membicarakan mengenai kematian ke pasien

Sumber:
http://www.millenniumpost.in/kolkata/denied-treatment-amri-hospitals-25-yr-old-nurse-dies-257041
https://www.telegraphindia.com/1170811/jsp/frontpage/story_166707.jsp
http://bangaloremirror.indiatimes.com/videos/city/kolkata/nurse-dies-after-being-denied-treatment-by-hospital-where-she-works/videoshow/60016064.cms