Di zaman sekarang, orang-orang memiliki akses bebas ke semua informasi yang ada – baik melalui internet, dari kelas pribadi, atau dari tenaga kesehatan – mengenai kondisi kesehatan mereka. Meskipun demikian, informasi ini mungkin bisa membuat orang awam terkaget-kaget.

Idealnya, keputusan medis harus diinformasikan dan diintuisikan ke pasien. Untuk melakukan hal ini, beberapa tenaga kesehatan menyarankan kita untuk memengaruhi kecenderungan internal pasien – dengan cerita saintifik.

Menceritakan ilmu pengetahuan melalui naratif

Ilmu pengetahuan dan cerita dongeng mungkin tampak tidak cocok. Ini seperti mencoba menggabungkan fakta dan fiksi. Namun, sudah tidak perlu disangkal lagi ada fakta dalam dunia ilmu pengetahuan, bahwa peneliti menyusun data mereka untuk menceritakan sesuatu – dengan karakteristik yang disamaratakan dari ratusan partisipan dalam penelitian klinis yang mensuplai data.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Seth Godin, penulis All Marketers are Liars: The Power of Telling Authentic Stories in a Low-Trust World, "Cerita yang kami sampaikan ini adalah kebohongan yang mudah hidup dalam dunia yang sulit ini."

Memang, penyampaian cerita membantu orang-orang menyadari sesuatu yang tidak biasa. Dan, hal ini bisa digunakan untuk memberikan efek besar dalam dunia pengobatan. Misalnya, sudah terbukti bahwa kepatuhan pasien bisa dibantu dengan memahami mengapa prosedur tertentu tidak penting. Dengan menyampaikan 'cerita' mengenai bagaimana obat seharusnya bekerja dalam tubuh – bukan hanya menjelaskan mekanisme aksi obat – sehingga pasien lebih memahami efek obat dan semakin patuh kepada regimen pengobatannya; dan kemudian menghasilkan outcome kesehatan yang lebih baik.

Ilmu kimia dari penyampaian cerita

Orang-orang menyukai cerita karena berhubungan dengan beberapa senyawa kimia tertentu, yang diaktivasi dalam otak saat orang-orang mendengar cerita. Ada kortisol, biasanya dikenal sebagai 'hormon stres' – yang faktanya dihasilkan untuk membantu seseorang tetap sadar saat dimulainya sebuah cerita.

Saat kita memperhatikan kejadian menarik yang terjadi dalam cerita, dopamin diproduksi. Ini merupakan senyawa kimia penting yang membuat otak merasa nyaman saat kita melanjutkan cerita. Ini juga merupakan bagian dari proses belajar yang kita kembangkan seiring berjalannya waktu.

Terakhir, oxytocin mulai memberikan efek dalam otak pendengar. Dikenal sebagai 'hormon cinta', oxytocin memainkan peran lebih besar dalam mempromosikan prososial, sikap empati – membuat pendengar bisa mengidentifikasi protagonis dalam cerita.

Penelitian menemukan bahwa pengaruh senyawa kimia ini sangat kuat sehingga bisa mengubah sikap seseorang, apapun kebohongan yang disampaikan cerita. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Paul Zak tahun 2009, profesor di Claremont Graduate School, memeriksa subjek yang ditunjukkan dua video berisi seorang ayah dan anak laki-laki. Satu video menyampaikan cerita yang lebih menarik mengenai seorang ayah dengan seorang anak yang sudah meninggal karena kanker. Sang anak berusaha berkomunikasi dengan sang ayah. Sedangkan video yang lain menceritakan mengenai seseorang yang berjalan-jalan di kebun binatang.

Subjek kemudian diikutsertakan dalam eksperimen kedua dimana mereka diberikan uang untuk dihabiskan. Diketahui bahwa mereka yang memproduksi kortisol dan oxytocin lebih banyak "cenderung mendonasikan uang dengan lebih royal."

Kekuatan cerita untuk memengaruhi orang tidak boleh diremehkan. Meskipun berpotensi dimanipulasi, namun bisa juga digunakan untuk sesuatu yang positif – untuk membuat pasien mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Mengaplikasikan cerita dalam ilmu pengetahuan

Amanda Phingbodhipakkiya, juara TED Residency, memahami hal ini. Ia menemukan The Leading Strand, organisasi dimana pasangan peneliti dan desainer dimina untuk mengomunikasikan dan menggarisbawahi kepentingan penelitian melalui visual yang menceritakan sesuatu.

"Saya suka menganggap penelitian sebagai sebuah cerita," sebut Phingbodhipakkiya dalam sebuah wawancara. "Ada banyak karakter di dalamnya – terkadang Anda menemui seorang peneliti, Anda bergabung dalam tim peneliti, terkadang Anda bersama dengan pasien. Mungkin akan ada pertanyaan, yang berfungsi sebagai hipotesis. Dan jalan cerita, dimana peneliti menciptakan seri desain eksperimen untuk mendapatkan jawabannya. Akhirnya, akan ada sebuah hasil. Hasil ini berupa data, yang membuat penelitian menjadi berarti dan bernilai."

Phingbodhipakkiya, yang juga seorang peneliti saraf, menyadari perlunya cara baru agar peneliti bisa berkomunikasi dengan masyarakat umum saat satu dari pasien penelitiannya di Pusat Medis Columbia memintanya untuk menjelaskan tujuan penelitian yang ia lakukan pada pasien. Ia tidak bisa memahaminya, meskipun "semua penjelasan sudah diberikan."

"Saya pikir saya harus melakukannya dengan lebih baik lagi. Kita harus melakukannya dengan lebih baik lagi sebagai seorang peneliti," ungkapnya.

"Saya ingin membantu orang-orang memahami mengapa penelitian saintifik sangat berguna dan membantu mereka memahami semua orang, semua cerita, dan semua ide di balik instituti tertentu yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. MIMS

Bacaan lain:
Patient zero: cerita pasien dan pola epidemik
Cerita kembar siam pertama di dunia
5 cerita medis paling menggemparkan

Sumber:
http://www.mmm-online.com/campaigns/science-advertising-oncology-education/article/678085/
https://www.forbes.com/sites/giovannirodriguez/2017/07/21/this-is-your-brain-on-storytelling-the-chemistry-of-modern-communication/2/#2cc889a770d2
https://www.forbes.com/sites/katmustatea/2017/08/07/from-neuroscience-to-design-a-career-in-connecting-the-dots-2/#6dd8889b4261
http://www.theleadingstrand.org/#intro
http://news.berkeley.edu/2017/06/06/ph-d-student-pioneers-storytelling-strategies-for-science-communication/