Kanker paru merupakan kanker yang paling banyak ditemukan di dunia, setelah kanker prostat pada pria dan kanker payudara pada wanita. Kanker paru bisa ditemukan pada 14% dari semua kasus kanker baru.

Kanker paru juga menjadi penyebab utama mortalitas akibat kanker, dengan lebih banyaknya angka kematian dibandingkan kanker kolon setiap tahunnya, payudara dan prostat. Dari pasien yang didiagnosis kanker, hanya 5% pasien yang berhasil hidup lebih dari 10 tahun dengan rata-rata satu per tiga pasien meninggal dalam waktu satu tahun setelah diagnosis.

Meskipun demikian, 89% kanker paru sebenarnya bisa dicegah. Untungnya kemajuan analisis gen membuat tim peneliti kanker di Inggris menemukan tes darah untuk mendeteksi kekambuhan awal kanker paru.

Tes darah untuk deteksi awal kekambuhan

Christoper Abbosh dari Universitas Institut Kanker London, bersama dengan tim peneliti di Inggris, menyatakan bahwa tes darah baru ini bisa mendeteksi kekambuhan kanker paru di tahap awal. Penelitian ini pertama kali dipublikasi bulan lalu.

Dengan pendekatan filogenetik spesifik tumor pada profil ctDNA, tes darah bisa secara efektif dilakukan untuk mendeteksi tanda evolusi tumor (kanker paru). Dengan menganalisis DNA sampel tumor, peneliti sekarang bisa menemukan ciri khas gen setiap pasien.

Ciri khas genetik ini kemudian diperiksa setiap tiga bulan pada pasien paska-operasi untuk mendeteksi sel kanker. Tim kemudian mengestimasikan bahwa nilai deteksi minimal untuk kekambuhan tumor harus 0,3 milimeter kubik agar bisa dideteksi dalam tes darah. 

Implikasi sekarang dan di masa depan

Implikasi untuk dunia kesehatan sekarang ini sudah jelas, deteksi awal sama dengan terapi awal, yang juga berhubungan dengan lebih baiknya prognosis dan angka kesembuhan. Selain sebagai alat skrining, tes darah juga bisa digunakan untuk memonitor pasien terapi.

Terapi tidak efektif atau tidak cocok harus bisa dideteksi lebih awal, sehingga dokter bisa membentuk pilihan terapi baru. Selain sebagai penanda awal, tes ini juga berguna untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan mengenai kanker paru-paru dan responnya terhadap berbagai pilihan terapi.

Meskipun sudah cukup disebut sebagai suatu terobosan, namun metode ini juga menjanjikan hal yang sangat menarik. Karena hampir semua kanker memiliki mekanisme kerja yang sama, tes ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi jenis kanker lain.

Selain itu, dari sudut pandang penelitian, peneliti bisa lebih memahami evolusi sel tumor melalui pola kekambuhan dan metastasisnya. Dengan harapan data baru ini bisa mendukung munculnya pendekatan baru untuk mengembangkan pilihan terapi baru untuk kanker.

Penelitian mengenai gen dan molekul dianggap sebagai suatu titik tertinggi penelitian medis. Meskipun demikian, penelitian ini selalu terbatas pada ruang penelitian eksperimental yang terbatas dan terbatasanya penelitian kasus.

Dengan adanya data ini, sekarang ada data menjanjikan dimana analisis genetik juga bisa berguna untuk pasien dari sudut pandang klinis. Dengan mengidentifikasi ciri khas genetik untuk sel kanker, tenaga kesehatan sekarang bisa mendeteksi kekambuhan kanker bahkan sebelum gejala klinis muncul.

Hal ini menjadi satu harapan baru untuk menyembuhkan kanker. Selain itu, penemuan ini juga membuka jalot penelitian baru mengenai pemahaman perkembangan kanker dan semakin majunya pilihan terapeutik baru. MIMS

Bacaan lain:
Rokok sehat, mungkinkah?
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?
Operasi robot pertama untuk membuang penyebaran kanker ginjal di jantung
Kolaborasi NTU Singapura dan RIKEN Jepang


Sumber:
https://www.cancer.org/cancer/non-small-cell-lung-cancer/about/key-statistics.html
http://www.cancerresearchuk.org/health-professional/cancer-statistics/statistics-by-cancer-type/lung-cancer
http://www.bbc.com/news/health-39658680
https://www.nature.com/nature/journal/vaap/ncurrent/full/nature22364.html