Sudah dua puluh tahun bekerja sebagai eksekutif sebuah perusahaan obat besar, Greg Mayes, terkejut betapa sulitnya membuat percaya firma usaha pusat dan investor swasta untuk membiayai bisnis medis barunya.

Perusahaan Mayes menjanjikan bentuk terapi epilepsi baru. Karena melihat anaknya menderita penyakit ini, Mayes menyadari tidak ada obat yang bisa menghentikan kejang, secara ideal. Dibutuhkan waktu lama agar dapat memberikan efek, membuat penggunanya merasa ngantuk dan tidak bisa lanjut bekerja, atau mekanisme pemberiannya cukup memalukan dan sulit.

Terapi ini disebut Staccato alprazolam, yang mengombinasikan dua produk yang sudah disetujui. Pertama adalah bentuk generik dari benzodiazepin dan yang kedua adalah inhaler yang sudah disetujui pada tahun 2012 dan merupakan penghantar obat antipsikotik.

Staccato, Mayes’ epilepsy inhaler to prevent seizures. Photo credit: Engage Therapeutics
Staccato, Mayes’ epilepsy inhaler to prevent seizures. Photo credit: Engage Therapeutics


Sulitnya masuk ke pasar medis

Meskipun sudah berbekal cukup pengetahuan mengenai pasar, motivasi diri, komitmen kuat (ia akhirnya meninggalkan pekerjaannya untuk berfokus pada bisnisnya sendiri) dan penelitian yang meningkatkan efikasi obat, namun ia masih harus meyakinkan investor. Ia membutuhkan $21 juta untuk mengantar proyeknya masuk ke penelitian klinis tahap dua untuk mendapat persetujuan FDA.

Namun ada banyak kekhawatiran yang dirasakan investor. Mereka takut obat ini bisa memicu masalah pernapasan atau risiko yang terlibat dalam penelitian yang rumit.

Penolakan seperti ini sering ia hadapi.

Thomas Goetz, pendiri Iodine, website yang menawarkan informasi medis untuk membantu konsumen menemukan harga terbaik obatnya, menghadapi kekecewaan yang sama. Meskipun sudah menaiki gelombang bisnis teknologi media yang berharap mengubah industri kesehatan di tahun 2013, namun laba atas investasi cukup mengecewakan.

Maka mengapa gagal itu baik? 

Mark Findeis co-launched a biotech called Satori Pharmaceuticals Inc. in 2002 in Cambridge, Massachusetts. The company raised $47 million before closing in 2013. Photo credit: Amy Nordrum/International Business Times.
Mark Findeis co-launched a biotech called Satori Pharmaceuticals Inc. in 2002 in Cambridge, Massachusetts. The company raised $47 million before closing in 2013. Photo credit: Amy Nordrum/International Business Times.


Goetz beruntung karena meskipun bisnis barunya tidak cukup mengubah permainan pasar, seperti mimpinya, namun perusahaannya masih berdiri hingga sekarang. Bagi Mark Findeis, ini bukan masalahnya.

Findeis merupakan kepala penelitian selama delapan tahun, bagi Satori, perusahaan yang mencari cara untuk mengembangkan terapi Alzheimer dengan ekstrak tanaman, yang menurunkan kadar peptida beta-amiloid otak. Produksi peptida ini diketahui merupakan penyebab Alzheimer. Sayangnya, selama penelitian, monyet yang menggunakan obat mengalami gangguan fungsi kelenjar adrenal.

Meskipun demikian, dalam industri ini, kegagalan merupakan satu tahap mendekati keberhasilan.

"Saya pikir bagian penting dari kegagalan adalah, ini merupakan bagian dari proses destruksi kreatif yang hidup dan sangat menantang dalam industri ini," kata Bernard Munos, seorang analis dan konsultan bioteknologi di InnoThink Research for Biomedical Innovation. "Pada dasarnya hal ini seperti memindahkan sumber, baik itu merupakan sumber finansial atau asset atau orang-orang yang pernah gagal, untuk kesempatan yang lebih menjanjikan."

"Jika mereka melakukan penelitian yang benar, maka tidak akan ada stigma," ungkap Munos. "Faktanya, kemungkinan akan menarik simpati karena mereka menarik keluar anggota tubuh, dan mereka mewujudkan ide mereka yang sangat menarik. Mungkin tidak berhasil di lab tetapi setidaknya mereka memiliki keberanian untuk melakukannya."

Bagi Mayes, masih ada harapan. Meskipun terombang-ambing oleh investor besar, namun sekarang ia sudah memiliki dua firma pusat besar, tiga yang lebih kecil, dan sekitar 12 individu berada di belakangnya. Ia sekarang hanya membutuhkan sisa uang $4 juta.

Sistem bisnis baru di Asia

Dalam dekade terakhir sudah banyak bisnis baru di bidang medis dan bioteknologi yang mulai tumbuh. Dr Carl Forth, Chief Executive Officer and Founder Aslan Pharma menjelaskan, "Asia Pasifik merupakan daerah dinamis dengan kesempatan tumbuh untuk bisnis."

"Spesifik dalam sektor kesehatan, tren demografi seperti populasi yang menua, semakin meningkatnya penyakit kronis dan insiden pertumbuhan penyakit non-komunikabel, bersama dengan tekanan dan permintaan untuk outcome kesehatan yang berbasis nilai, meningkatkan kebutuhan akan inovasi yang lebih baik," ungkapnya.

Sesuai dengan hal ini, tahun lalu, Malaysia mengambil langkah untung mendukung bisnis medis baru dan memberikan pinjaman sebesar USD23 juta untuk proyek ini. Di negara lain, ada sejumlah perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi dan daftar periksa secara online, seperti di OurHealthMate di Singapura dan MeetDoctor di Indonesia.

Perusahaan menarik dan revolusioner lain juga semakin banyak ditemui, misalnya saja EndoMaster di Singapura, yang menciptakan sistem operasi bedah dengan bantuan robot, dan Clearbridge Biomedics, yang mengembangkan alat medis yang memperbaiki diagnosis kanker. MIMS

Bacaan lain:
Memilih terapi alternatif meningkatkan risiko kematian menjadi dua kali lipat, ungkap penelitian
Bisnis "sewa rahim" berkembang pesat di Laos, setelah bisnis ibu sewaan dilarang di negeri tetangga
Algoritma yang menyederhanakan hubungan antara investor dan teknologi kesehatan

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/08/17/biopharma-executive-fund-epilepsy/
https://www.inc.com/magazine/201706/thomas-goetz/healthcare-disruption-never-happened.html
http://www.ibtimes.com/fallout-what-happens-when-biotech-companies-fail-2148850
http://www.genengnews.com/the-lists/top-eight-asia-biopharma-clusters-2017/77900935
https://www.techinasia.com/15-top-funded-healthcare-startups-southeast-asia
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:u6WH_bNFCm4J:www.biospectrumasia.com/article/pdf/9244+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=uk&client=safari