Prevalensi diabetes telah dihubungkan dengan beberapa faktor, antara lain genetik dan gaya hidup. Para ahli menyatakan bahwa perilaku tidur merupakan salah satu faktor gaya hidup yang dapat berkontribusi pada onset dan kejadian diabetes. 

Gangguan tidur dapat menyebabkan diabetes

Sebuah studi mengenai tidur optimal dan kontrol diabetes yang dipublikasikan di tahun 2015 menunjuk ke bukti terbaru yang menduga bahwa kebiasaan tidur yang tidak seimbang berpotensi mempercepat onset diabetes. 

Studi yang dilakukan oleh Teresa Arora dan Shahrad Taher ini juga menemukan bahwa kebiasaan tidur yang tidak seimbang dapat menghambat kontrol glukosa dan sensitivitas insulin pada pasien yang sudah didiagnosis diabetes sebelumnya. 

Tidak tidur pada malam hari dapat meningkatkan risiko diabetes

Studi lain yang dilakukan pada tahun 2015 juga meneliti perbedaan antara chronotype, yaitu siklus tidur-bangun alamiah, pada malam dan pagi hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang tidak tidur pada malam hari lebih cenderung menderita diabetes, gangguan metabolisme tubuh dan sarkopenia dibandingkan orang yang bangun sangat pagi, walaupun jumlah durasi waktu tidur mereka sama.

Salah satu penulis studi tersebut, Nan Hee Kim dari Korea University College of Medicine, menjelaskan bahwa hal ini dapat diakibatkan oleh kecenderungan orang-orang yang tidak tidur pada malam hari untuk memiliki kualitas tidur yang lebih buruk dan perilaku hidup yang tidak sehat, antara lain merokok, makan saat larut malam, dan gaya hidup dengan aktivitas fisik minimal.

Sementara penemuan dari studi yang lebih baru menunjukkan bahwa penderita diabetes yang tidak tidur pada malam hari dilaporkan memiliki lebih banyak gejala depresi dibandingkan orang yang tidur dan bangun lebih awal, bagaimanapun kualitas tidur mereka. 

Peneliti utama dari studi tersebut, yaitu Sirimon Reutrakul, seorang profesor dari Mahidol University Faculty of Medicine, mengatakan bahwa penemuan tersebut mendukung adanya asosiasi antara regulasi sirkadian dan fungsi psikologis pada penderita diabetes tipe 2. 

Pekerja malam memiliki kontrol glikemi yang lebih buruk

Reutrakul juga memimpin studi lain yang menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 memiliki kontrol glukosa darah lebih buruk saat bekerja di malam hari. Kontrol glikemi peserta penelitian ditentukan berdasarkan nilai hemoglobin A1C terbaru pada rekam medis mereka. 

Menurut studi tersebut, pekerja malam yang berpatisipasi dalam studi memiliki nilai rata-rata hemoglobin A1C sebesar 8,2%, sementara pekerja siang memiliki nilai 7,6%, dan individu yang tidak bekerja 7,5%. 

Selain itu, pekerja malam juga cenderung memiliki durasi tidur lebih pendek, konsumsi kalori lebih tinggi, dan indeks massa tubuh (IMT) lebih tinggi dibandingkan dua kelompok lain. 

Durasi tidur juga memengaruhi kemunculan diabetes

Hubungan antara durasi tidur dan prevalensi diabetes juga diteliti dalam survey cross-sectional lain, yang dilakukan pada 16.000 individu berusia 18 hingga 75 tahun di Xuzhou, China. Survey ini dilakukan oleh Rachel Leproult bersama dengan tiga peneliti lainnya. 

Hasil dari studi tahun 2015 menunjukkan bahwa prevalensi diabetes lebih tinggi pada orang yang tidur selama 6 jam atau kurang, yaitu 7,2% dibandingkan dengan orang yang tidur selama 6 sampai 8 jam yaitu 5,1%, dan orang yang tidur selama 8 jam atau lebih, yaitu 6%.  Hasil ini tidak bergantung pada faktor-faktor lain seperti usia, obesitas, riwayat diabetes dalam keluarga, konsumsi alkohol, perilaku merokok, aktivitas fisik, dan penyakit lain. 

Secara keseluruhan, penemuan-penemuan yang dipaparkan di atas menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran publik terhadap pentingnya durasi tidur yang optimal dan kebiasaan makan sehat. Selain itu, perlu juga dilakukan edukasi terhadap individu mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berhubungan dengan risiko dan perkembangan diabetes. 

Intervensi sederhana seperti perpanjangan durasi tidur menunjukkan dampak positif terhadap sensitivitas insulin sehingga tenaga kesehatan profesional diharapkan dapat bersikap responsif agar dapat menangani pasien diabetes dengan baik, demikian juga halnya terhadap populasi kelompok yang berisiko terkena diabetes. MIMS

Bacaan lain:
Diabetes tipe 3c tampaknya 'lebih umum' daripada yang dibayangkan
3 penemuan baru untuk terapi diabetes
Terapi gen bisa menurunkan beban penderita diabetes

Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4674464/
https://www.sciencedaily.com/releases/2015/04/150401132738.htm
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/04/170403140602.htm
https://www.eurekalert.org/pub_releases/2017-04/tes-dci040117.php
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4402666/