Melamun, menurut penelitian psikolog Harvard, terjadi sekitar 47% waktu manusia bangun. Dan, kegiatan ini sering dianggap sebagai bermalas-malasan dan kurang konsentrasi. Namun, berlawanan dengan pemikiran pada umumnya, penelitian menunjukan bahwa melamun sebenarnya merupakan indikator kecerdasan seseorang.

Otak lebih efisien dengan keterampilan pemecahan masalah yang lebih baik

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini oleh Institut Teknologi Georgia, orang-orang yang memiliki otak efisien cenderung lebih sering melamun. Mereka dikatakan memiliki kekuatan otak ekstra untuk melakukan pemikiran acak.

Orang dengan otak efisien dapat keluar dan masuk ke dalam percakapan atau pekerjaan, serta secara alami dapat mengingat kembali tanpa melupakan hal-hal penting. Mereka sebenarnya lebih pintar, ungkap penelitian.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science pada tahun 2012, melamun adalah kunci untuk memecahkan masalah kompleks. Studi tersebut menunjukkan bahwa dengan memberi waktu istirahat atau tugas yang mudah kepada peserta dengan tugas yang sulit, orang yang suka melamun dapat meningkatkan kinerjanya hingga 40%. 

Dan hasil ini dipercaya berhubungan dengan kemampuan imajinasi yang lebih tinggi pada peserta tersebut. Mungkin mereka secara tidak sadar memroses pikiran sambil berkonsentrasi pada tugas lain, sehingga meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah.

Memerbaiki memori kerja, penanda kecerdasan

Selain meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, dalam sebuah penelitian terpisah, yang juga diterbitkan dalam Psychological Science, ditemukan bahwa pola pikir acak berhubungan dengan kemampuan mengingat yang tinggi. Peneliti menemukan bahwa saat menghadapi gangguan, otak berfungsi lebih baik di waktu sedang berpikir acak.

Dalam studi tersebut, peserta diberi tugas sederhana dengan menekan tombol sebagai respon terhadap huruf yang muncul di layar, dan kemudian diuji kemampuan mengingat serangkaian huruf yang digabungkan dengan serangkaian pertanyaan matematika yang mudah. Anehnya, ditemukan bahwa peserta yang lebih sering melamun memiliki kemampuan mengingat serangkaian huruf lebih baik dibandingkan mereka yang lebih jarang melamun.

Peneliti menduga bahwa, saat tugas mudah diberikan, orang yang memiliki kemampuan mengingat yang lebih tinggi, cenderung sering berpikir acak. Kemampuan mengingat yang lebih tinggi ini membuat otak mereka memikirkan hal-hal lain di luar yang sedang mereka lakukan. Otak mereka memiliki kapasitas ekstra hanya untuk sekadar berkonsentrasi pada tangan.

Peneliti percaya bahwa proses mental di balik lamunan mungkin mirip dengan sistem ingatan otak. Memori kerja yang sebelumnya banyak dihubungkan dengan kepintaran. Dengan demikian, mungkin tidak salah untuk mengatakan bahwa orang-orang yang suka melamun sebenarnya lebih pintar, karena mereka memiliki memori kerja lebih baik daripada orang-orang biasa yang jarang melamun.

Aktivasi ekstra jaringan otak pada saat melamun

Scan fMRI otak oleh UBC Mind Wandering Study (Sumber: Kalina Christoff/Science Daily)
Scan fMRI otak oleh UBC Mind Wandering Study (Sumber: Kalina Christoff/Science Daily)

Pada tahun 2009, penelitian yang dilakukan oleh Universitas British Columbia, melaporkan adanya peningkatan aktivasi otak yang terkait dengan pemecahan masalah kompleks saat berpikir acak. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa otak lebih aktif saat melamun dibandingkan dengan saat memfokuskan perhatian pada pekerjaan rutin.

Peneliti menemukan bahwa saat melamun, seseorang secara tidak sadar dapat segera mengalihkan perhatiannya dari tugas yang sedang dikerjakan untuk menyelesaikan masalah penting yang mungkin dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

"Jaringan penghubung" otak, yaitu korteks prefrontal medial, korteks cingulate posterior dan penghubung temporoparietal, yang terkait dengan pekerjaan yang mudah dan aktivitas mental rutin diaktifkan saat melamun. Di sisi lain, "jaringan eksekutif" otak, yaitu korteks prefrontal lateral dan korteks cingulate anterior dorsal, yang terkait dengan pemecahan masalah kompleks juga diaktifkan saat melamun.

"Ini adalah temuan yang mengejutkan, bahwa kedua jaringan otak ini diaktifkan secara paralel," ujar Profesor Kalina Christoff, penulis utama penelitian ini. "Sampai saat ini, para ilmuwan mengira jaringan otak tersebut bekerja hanya ketika salah satunya diaktifkan, yang lainnya dianggap tidak aktif." Ternyata saat ada lebih banyak penghubung yang diaktivasi, itulah saat seseorang mulai melamun. 

Pada tahun 2015, studi lain yang menghubungkan fungsi kognitif dengan pikiran acak yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Dalam penelitian tersebut, dilaporkan bahwa terdapat aktivasi jaringan raksasa saat otak manusia mulai berpikir secara acak.

Partisipan yang menerima stimulus eksternal untuk melamun terbukti memiliki lebih sedikit peningkatan pada kinerja mereka. Dengan demikian, diyakini bahwa "stimulasi eksternal benar-benar meningkatkan kapasitas kognitif subjek", seperti yang dinyatakan oleh Profesor Moshe Bar, bagian dari Pusat Penelitian Multidisplin Otak Universitas Gonda (Goldschmied).

Dengan demikian, melamun sebenarnya tidak seburuk yang dipikirkan. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa otak pelamun memiliki kapasitas efisiensi otak, kemampuan pemecahan masalah dan kerja memori yang lebih baik. Dan, semua ini disebabkan aktivasi jaringan otak yang lebih banyak pada saat melamun. MIMS

Bacaan lain:
Aktivitas otak – Bagaimana otak bekerja
Ternyata otak masih bekerja meskipun tubuh sudah tak bernyawa
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?


Sumber:
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/10/171024112803.htm
http://www.telegraph.co.uk/news/science/9695290/Daydreaming-really-is-the-key-to-solving-complex-problems.html
https://www.smithsonianmag.com/science-nature/the-benefits-of-daydreaming-170189213/
https://www.sciencedaily.com/releases/2009/05/090511180702.htm
http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2967732/Daydreaming-GOOD-boost-brainpower.html
https://www.newyorker.com/tech/frontal-cortex/the-virtues-of-daydreaming