Peningkatan kasus tuberkulosis (TB) resisten obat merupakan masalah utama dari semua sistem medis di dunia karena tingginya risiko kematian akibat TB. Sebelumnya, kondisi ini muncul akibat tidak cukupnya terapi yang diberikan dokter dan peneliti belum menemukan penyelesaiannya.

Penelitian terbaru dilakukan untuk menjawab masalah ini. Penelitian dilakukan oleh tiga aliansi peneliti dari US Centers for Disease Control and Prevention, Albert Einstein College of Medicine di New York, dan Universitas KwaZulu-Natal di Afrika Selatan.

TB resisten obat merupakan hal yang bermasalah karena penyakit terus menyebar. Bakteri ditularkan dari pasien terinfeksi bisa tetap hidup selama berjam-jam di bawah kondisi yang sesuai, menginfeksi yang lain yang menghirupnya.

Transmisi orang-ke-orang dari TB resisten obat merupakan masalahnya

Peneliti meliputi analisis ratusan kasus yang dilakukan di Afrika Selatan, dan menyimpulkan bahwa sekitar tujuh dari sepuluh kasus TB resisten obat bisa dihubungkan dengan transmisi manusia-ke-manusia.

Penelitian ini menimbulkan implikasi penting mengenai bagaimana sistem medis di seluruh dunia memberi terapi TB.

Di antara 400 pasien penderita TB resisten obat, 69% tidak pernah mendapat terapi untuk TB sebelumnya, menunjukkan bahwa infeksi TB diperoleh dari individu lain, melalui kontak manusia ke manusia, yang membawa TB resisten obat.

Konsensus sebelumnya menunjukkan bahwa TB resisten obat berkembang akibat terapi sebagian atau tidak selesai, sehingga bakteri bisa menciptakan imunitas terhadap terapi yang ada.

Penulis lain Dr. Neel R. Gandhi, di Emory University's Rollins School of Public Health di Atlanta, mengatakan, "Selama beberapa tahun, ada anggapan bahwa strain TB resisten obat tidak bisa ditransmisikan secara efisien sebagai stran TB biasa."

Peneliti yang memiliki spesialisasi dalam penyakit infeksi di Vanderbilt University Medical Center, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, profesor William Schaffner, menambahkan bahwa penelitian baru ini telah "membuatnya tertarik akan hasilnya."

Fenomena global tanpa tanda penurunan

TB resisten banyak-obat - didefinisikan resisten terhadap setidaknya empat obat - merupakan fenomena yang telah memengaruhi 105 negara di seluruh dunia. 

Bahkan di negara dengan sistem kesehatan maju sekalipun seperti Singapura, TB masih menjadi masalah utama, meskipun bukan jenis resisten. Meskipun memiliki prevalensi rendah, ada kasus TB resisten obat sebelum akhir tahun yang menyebar di sebuah perumahan. Ini merupakan tanda bahwa data epidemiologi yang mengelilingi resistensi obat masih belum jelas, bahwa kasus ini baru disadari ahli kesehatan setelah berlangsung selama berbulan-bulan.

Di Singapura, kejadian TB resisten obat masih rendah, kurang dari 1% kasus sejak 2013. Di tahun 2015, semua bentuk TB memengaruhi 38,4 per 100.000 populasi, menurut data yang disediakan oleh Menteri Kesehatan.

Di Malaysia, TB resisten obat (kasus baru dan kambuhan) memengaruhi 4,6% semua kasus TB, dengan angka kejadian 89 per 100.000 populasi untuk semua bentuk TB.

Minggu ini di India, Hakim Agung memerintahkan pemerintah agar memberikan obat harian ke jutaan pasien TB yang hanya menerima dosis satu kali seminggu. Perintah ini diberikan setelah ada demo aktivis yang menyatakan bahwa banyak nyawa akan terancam jika dosis harian tidak diberikan.

Seorang aktivis, Raman Kakkar mengatakan, "Kelalaian pemerintah untuk mengubah ke dosis baru menyebabkan kambuhnya penyakit pada banyak pasien dan bahkan menyebabkan terjadinya infeksi yang resisten obat."

Pemerintah India mengatakan mereka akan mengubah ke dosis baru setelah stok obat yang ada habis, yang diestimasikan akan terjadi sembilan bulan lagi.

Risiko kembali ke tahun tiga puluhan

Dr Gandhi menyesalkan "kebanyakan cenderung memiliki estimasi minimum," dan menambahkan bahwa TB merupakan epidemik yang sudah diketahui ada sejak beberapa dekade lalu, tetapi epidemi terapi dan usaha melawan TB masih jarang dilakukan.

Ia menyampaikan suramnya prospek di masa depan, dengan menyatakan bahwa jika tidak ada peningkatan usaha untuk mencegah penyebaran TB, dengan epidemik yang ada sekarang, manusia memiliki risiko "kembali ke masa 1930an dan 1940an". Era dimana karena kekurangan pengetahuan medis mengenai transmisi dan penyembuhan TB, penderita TB dikirim ke sanatorium untuk mencegah penyebaran penyakit.

Angka mortalitas pasien yang didiagnosis terinfeksi strain resisten obat suram, dan berada di angka antara 50% hingga 80%. Individu bisa sangat berbahaya bahkan di masa sebelum mereka mengetahui mereka membawa TB resisten-obat, dan beberapa mungkin mencoba menginvasi orang lain, misalnya seorang pria di Singapura ditemukan bersalah karena tiga kali menghindari karantina. MIMS

Bacaan lain:
Terapi TB: 3 alasan mengapa banyak pasien gagal patuh
Menghadapi krisis penggunaan obat
Evolusi dunia medis dari masa ke masa
Eksperimen pada manusia: Sebuah pelajaran dari perjalanan sejarah