Saat terjadi interaksi dengan infeksi virus, patogen bisa tetap menetap dalam tubuh selama periode waktu tertentu. Selain itu, interaksi antara virus penginfeksi dan sistem tubuh manusia merupakan hal yang sangat kompleks dan bisa menyebabkan konsekuensi jangka panjang.

Interaksi virus dan tubuh manusia

Virome manusia - kumpulan virus penginfeksi - diketahui menyisakan "jejak menetap di sistem imun." Virus ini, dengan menginfeksi tubuh manusia, akan mengganggu sistem imun tubuh dan kemudian meninggalkan antibodi tertentu - yang secara spesifik diproduksi untuk melawan virus unik. Peneliti menemukan bahwa antibodi ini akan terus ada dalam tubuh manusia hingga bertahun-tahun setelah infeksi akut, dan menyisakan pola spesifik seperti sidik jari manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti juga menemukan bahwa jejak virus ini bisa diambil dari tulang manusia. Tulang manusia bisa menyimpan dan mengawetkan jejak virus meskipun tubuh terpapar berbagai kondisi ekstrem.

Peneliti dari Universitas Helsinki dan Universitas Edinburgh berhasil mengambil DNA virus dari tulang jasad tentara Perang Dunia II. DNA virus ditemukan berasal dari jenis parvovirus dan pada umumnya tidak ditemukan dalam negara Nordik dimana tulang ditemukan.

Dengan memahami pola distribusi geografi virus selama periode PDII dan profil DNA tentara, tim peneliti menyimpulkan bahwa tentara ini merupakan anggota dari Tentara Merah.

Terbatasnya kecepatan

Kebanyakan tes skrining virus yang dilakukan sekarang hanya berfokus pada deteksi satu patogen saja dalam satu waktu. Ada berbagai metode yang digunakan dokter ahli untuk mendeteksi keberadaan virus. Misalnya memeriksa antibodi komplementer yang melawan infeksi spesifik, tes antigen virus untuk memeriksa antigen unik dari beberapa virus dan tes DNA atau RNA virus untuk memeriksa materi genetik virus.

Namun, semua jenis tes ini sangat terbatas dalam hal kecepatan dan data yang bisa digunakan. Selain itu, pilihan tes juga tergantung pada keputusan klinis dokter penanggung jawab.

Scan virus high-throughput

Prospek scan lengkap virome manusia untuk menyajikan data agar bisa digunakan dokter, sangat menyejukkan hati. Peneliti dari Howard Hughes Medical Institute (HHMI) berhasil mengembangkan scan virus, disebut VirScan - metode yang bisa digunakan untuk identifikasi kecepatan tinggi infeksi virus manusia.

Database ini berisi informasi genetik dari 206 spesies virus dan lebih dari 1.000 strain berbeda. Tim peneliti juga menyebutkan bahwa VirScan memiliki "sensitivitas deteksi tinggi" untuk mendeteksi virus, dan "memiliki tingkat diskriminasi serologi yang sangat baik antar spesies virus".

Biaya tes virus ini sangat mengagumkan. Tim peneliti menyatakan bahwa mereka berhasil menurunkan biaya hingga menjadi $25 per sampel darah - sehingga menjadi pilihan menarik untuk skrining populasi skala-besar untuk serangan virus. Selain itu, VirScan banyak digunakan untuk tujuan penelitian dan tidak tersedia secara komersil.

Prospek di masa depan

Penemuan jejak virus dan perkembangan scan virus yang cepat dan high-throughput bisa mengarahkan ke kemungkinan menarik skrining dan penelitian kesehatan. Meskipun tidak banyak tersedia, namun VirScan bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk meneliti interaksi kompleks antara virome dan sistem imun kami. Dengan harapan dan keyakinan, hal ini bisa digunakan untuk menyeimbangkan perlawanan melawan virus mematikan ini. MIMS

Bacaan lain:
'WanaCrypt0r 2.0' menyerang rumah sakit NHS dan menyebabkan kegawat-daruratan nasional
Tiga kasus baru infeksi Zika muncul di Singapura
Abu vulkanik sebagai sumber wabah penyakit di Uganda
Vaksin zika, untuk pertama kalinya berhasil memasuki penelitian klinis fase 2


Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23778792
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26045439 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26611279
http://www.webmd.com/a-to-z-guides/viral-test#1
http://www.hhmi.org/news/your-viral-infection-history-single-drop-blood