Sejak abad ke-21, kanker diketahui sudah membayang-bayangi kehidupan manusia, meskipun sebenarnya kanker pertama kali ditemukan sejak abad ke-20.

Kanker memiliki sejarah panjang. Menurut Asosiasi Kanker Amerika, kanker sudah ada bahkan sejak tahun 3000 sebelum masehi. Edwin Smith Papyrus mencatat delapan tumor, atau ulkus, di payudara saat zaman prehistori.

Di masa itu, kanker disebut merupakan penyakit "tanpa obat".

Kanker mulai masuk dalam pendidikan kedokteran saat masa Yunani Kuno; Hippokratus yang dikenal sebagai bapak pengobatanlah yang memperkenalkan penyakit ini.

Revolusi saintifik dan medis, di awal abad ke 15 hingga 19, hanya berhasil menetapkan tingkat keparahan dan mempercepat ke pemahaman bahwa kanker itu nyata adanya.

Kemudian di abad ke-21, dunia medis akhirnya berhasil menemukan kedalaman dan kompleksitas penyakit, dan publik mulai mengetahui efek dan merasa ketakutan akan penyakitnya.

Kanker merupakan penyakit yang disebabkan mutasi. Sel, ketika telah termutasi, tidak dapat membelah diri. Dan kemudian akan mati. Kondisi inilah yang menyebabkan kanker muncul.

Kondisi ini bisa terjadi secara spontan dan di semua organ tubuh. Jika tidak diterapi, sel kanker akan terus membelah diri dan membentuk massa sel yang dikenal sebagai tumor. Dalam tahap parah, sel kanker bisa masuk ke sirkulasi dan membentuk koloni ke jaringan lain yang disebut sebagai metastasis.

Sepemahaman kami, pemahaman penyakit telah banyak berkembang seiring berjalannya waktu. Berikut beberapa pilihan yang ada untuk terapi penyakit ini.

Pendekatan kanker konvensional

Pendekatan terapi penyakit dibagi menjadi tiga terapi: operasi bedah, untuk membuang lesi; radiasi, untuk membersihkan daerah di sekitar tumor; dan kemoterapi, untuk membunuh sel kanker dalam sirkulasi.

Dalam beberapa kasus, khususnya kanker payudara, terapi hormon digunakan untuk mengentikan tumor atau mencegah kekambuhan tumor.

Pada Mei 2016, artikel dalam New York Times berjudul The Improvisational Oncologist, Dr. Siddhartha Mukherjee, MD, PhD, dokter spesialis dan peneliti kanker, dan Asisten Profesor di Universitas Kolumbia, menulis:

"Kanker, [...] bisa memiliki banyak bentuk variasi. Seperti wajah, seperti sidik jari - semua kanker bisa dibedakan berdasarkan penandanya: bentuknya berdasarkan genome."

Banyaknya heterogenitas merupakan kelebihan kanker dan kami tidak bisa menghentikannya.

Semakin manusia berusaha membuka kedok heterogenitas kanker, manusia sekarang sudah memahami bahwa kanker merupakan penyakit tunggal; dan terapi konvensional tidak lagi efisien untuk terapi penyakit ini.

The CRISPR-enabled attack on the protein to combat cancer might work.
The CRISPR-enabled attack on the protein to combat cancer might work.


Dalam artikel yang sama, Dr. Mukherjee mengklaim bahwa sains harus mulai menyesuaikan diri dengan fakta ini. Namun, intervensi modern pada kanker tidak terlalu berfokus pada masalah genetik, dan dengan demikian kurang juga perhatiannya ke heterogenitas sel kanker. Dalam hal ini, dokter bisa menyalurkan masalah heterogenitas seiring dengan menjaga spesifisitas yang cukup.

Imunoterapi dan kronoterapi: memanfaatkan tubuh manusia

Salah satu intervensi modern adalah imunoterapi, yang memanfaatkan sistem imun tubuh pasien untuk melawan sel kanker. Mudahnya, antigen spesifik ke tumor digunakan untuk membuat antibodi yang spesifik mencari dan menghancurkan sel kanker.

Kemajuan saintifik, secara spesifik ditemukan pada teknologi DNA rekombinan. Obat yang sangat efektif dan tanpa efek samping merusak.

Menggunakan sistem tubuh manusia merupakan pendekatan efektif untuk terapi kanker.

Salah satu terobosan baru, yang sering diabaikan adalah pendekatan terapi dengan kronobiologi, atau meneliti ritme biologis alami. Dalam kasus ini, ranah spesifik yang ada adalah mempertanyakan kronobiologi manusia dan fenomena ritme jantung manusia.

Dalam beberapa tahun belakangan, melalui kerja keras dan dedikasi sejumlah kecil peneliti klinis, peneliti menemukan rahasia molekular dari jam jantung manusia. Yang, beberapa gen, molekul, dan mekanismenya terjadi dalam siklus tidur-bangun normal manusia.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Francis Lévi, ia menunjukkan bahwa harmonisasi pemberian obat kemoterapi dengan jam jantung manusia bisa meningkatkan efikasi dan menurunkan toksisitasnya.

Lévi menyebutnya sebagai kronoterapi. Intinya adalah efikasi dan toksisitas obat dipengaruhi oleh ritme biologis yang berada dalam proses biologis manusia. Menggunakan model matematika, peneliti seperti Lévi bisa memprediksi waktu terbaik pemberian obat.

Lévi menentang penggunaan obat kemoterapi, karena rasio toksisitas dan efikasinya. Melalui kronoterapi, dokter bisa mendispensikan obat dosis tinggi, sehingga memaksimalkan efikasi dan meminimalkan toksisitas. Setidaknya, hipotesis yang Lévi dan ahli kronobiologi lain bisa dibuktikan.

Mungkin beberapa perkembangan sains terbaru berhasil membuka kedok hubungan antara kanker dan jam tubuh manusia.

cancer_DNA

Penelitian oleh Masri et al, menunjukkan bahwa tumor di paru-paru bisa mengganggu ritem internal tubuh dari metabolisme lipid di hati. Menggunakan profil transcriptomik dan metabolomik tikus, mereka bisa menunjukkan ekspresi gen liver tikus dengan tumor paru.

Dalam penelitian yang sama, peneliti juga mengidentifikasi ada perlambatan gen dan molekul, serta mekanisme di dalamnya. Akhirnya, mereka juga menemukan bahwa, perusakan tumor hati dan paru bisa mengubah nilai serum glukosa.

Peneliti kemudian menunjukkan bahwa ini merupakan salah satu mekanisme kanker agar bisa bertahan hidup.

Menariknya, penelitian lain, oleh Puram et al., menunjukkan bahwa, kebalikan dengan hukum konvensional, yang mengimplikasikan gangguan ritme jantung normal dalam risiko tumor, beberapa sel punca leukemia dari leukemia myeloid tergantung pada sistem waktu internal yang normal dan bekerja.

Sekarang ini, peneliti sudah mengetahui seberapa kompleks penyakit kanker ini. Dengan demikian, mereka bisa mengembangkan terapi baru dan terapi yang lebih baik.

Selain itu, inilah apa yang harus dihadapi terapi modern. Tenaga kesehatan sekarang harus belajar bagaimana cara mengoperasikan terapi terstruktur, terkadang kaku, paradigma, dan praktek medis, sambil, pada waktu yang sama mencari cara kreatif untuk mengatasi kompleksitas kanker.

Secara keseluruhan, Dr. Mukherjee menulis dalam artikel New York Times, "kami mencoba memeriksa sikap dan temperamen penyakit, dengan demikian kami bisa merencanakan respon terapi yang sangat mendetail. Pola pikir istimewa dari setiap kankerlah yang kami coba tangkap." MIMS

Bacaan lain:
Kalender Hari Besar Kesehatan
Stigmata - Mitos atau Fakta Medis?
Dokter: Bagaimana Anda dapat membicarakan mengenai kematian ke pasien
FDA mengeluarkan standar medis untuk pengujian laboratorium di industri