Setiap tahun, sebanyak 200 orang dari 11.000 Suku Fore di Papua Nugini meninggal akibat penyakit aneh disebut 'kuru', dimana para korbannya mulai kehilangan kontrol pada anggota tubuh dan emosi, dan dalam waktu satu tahun menjadi tidak bisa bergerak dan kemudian mati.

Banyak penduduk desa mengangap epidemik ini tampak sebagai efek ilmu hitam.

Penyakit ini pada umumnya menyerang wanita dewasa dan anak-anak berusia delapan tahun dan di bawahnya. Beberapa desa bahkan tidak memiliki lagi penduduk wanita muda disebabkan penyakit ini.

Epidemiknya dimulai saat seorang Suku Fore menderita Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD), gangguan neurologi degeneratif yang mirip dengan kuru, yang tidak bisa diperiksa secara genetik.

Dengan pemeriksaan lebih lanjut oleh peneliti medis, ahli biologi menyimpulkan bahwa penyakit ini berasal dari ritual pesta hari mayat yang mengerikan, dimana manusia mengonsumsi mayat, suatu bentuk rasa cinta dan sedih yang misterius.

Memasak dan mengonsumsi mayat manusia merupakan hal yang lazim di Suku Fore. Para wanita mengelurkan otak, mencampurnya dengan pakis, dan memasaknya dalam bambu. Mereka memakan semua bagian tubuh mayat kecuali kandung empedu.

Salah seorang peneliti medis menjelaskan, "Jika mayat dikubur, tubuh akan dimakan oleh cacing; jika ditempatkan di atas tanah, maka akan dimakan oleh belatung; Suku Fore percaya bahwa mayat ini lebih baik dimakan oleh mereka yang mencintai almarhum daripada hanya dimakan oleh cacing dan serangga."

"Maka, para wanita mendapatkan peran mengonsumsi tubuh mayat dan menyimpannya di tempat yang aman, yaitu dalam tubuh mereka sendiri – menyimpannya, selama beberapa waktu, selama periode upacara yang berbahaya ini," ungkap Shirley Lindenbaum, seorang ahli antropologi medis di Universitas City New York.

In 1962, a local leader in the Eastern Highlands of Papua New Guinea asks Fore men to stop the sorcery that he believes is killing women and children. Photo credit: Shirley Lindenbaum/NPR
In 1962, a local leader in the Eastern Highlands of Papua New Guinea asks Fore men to stop the sorcery that he believes is killing women and children. Photo credit: Shirley Lindenbaum/NPR


Penyakit lumpuh dihubungkan dengan prion yang mungkin membutuhkan waktu beberapa belas tahun untuk menunjukkan efeknya

Peneliti kemudian menemukan agen infeksius yang mengonsumsi pemakan daging manusia – pemecah protein atau prion – sanggup mengganggu protein normal dalam otak sehingga akan melipat secara abnormal. Proses ini disebabkan dua manifestasi polarisasi kesamaan 'jenis' dan 'keganasan' sepsies yang sama, seperti kasus aneh dari Dr Jekyll dan Mr Hyde.

Penyakit prion memiliki bentuk yang berbeda dari epidemik sapi gila, saat seseorang menunjukkan CJD setelah mengonsumsi daging sapi yang terinfeksi penyakit.

Dr Ermias Belay, peneliti penyakit prion dengan CDC, mengatakan ini merupakan satu-satunya cara dimana terdapat "bukti definitif" bahwa manusia bisa menderita penyakit prion setelah mengonsumsi daging terinfeksi dari spesies lain.

Sama mengerikannya, fatalitas Suku Fore belum berhasil menghentikan kegiatan mengonsumsi manusia bahkan di era modern. Sedangkan di zaman modern ini, kanibalisme beralih bentuk menjadi rasa cinta terhadap pengawetan diri sendiri.

Disebut juga sebagai sikap kembali ke alam, wanita modern mulai mengonsumsi plasenta. Mereka rela merogoh uang sebesar USD400 hanya untuk mencuci plasenta mereka, mengeringkan dan menggilingnya menjadi serbuk dalam kapsul.

Sebuah kajian dari American Journal of Obstetrics and Gynaecology melaporkan bahwa beberapa wanita mengonsumsi potongan plasenta mentah, langsung setelah melahirkan, sedangkan yang lainnya memilih untuk membekukan organ ini untuk konsumsi di lain waktu.

Tren plasenta – dipromosikan oleh Alicia Silverstone, January Jones dan Kardashians – menyebutkan bahwa mengonsumsi plasenta setelah melahirkan bisa mengatasi perubahan hormonal wanita.

Plasenta merupakan 'produk sisa' dengan beragam risiko kesehatan 

Mothers are taking the placenta home as it is hailed as a
Mothers are taking the placenta home as it is hailed as a "superfood" for its reduced risk of postpartum depression and increased energy though doctors say the benefits remain unknown.


Meskipun demikian, para dokter mengatakan wanita yang mengonsumsi plasenta mereka sedang melakukan kanibalisme untuk manfaat yang belum terbukti, dan bisa jadi mematikan.

Meskipun dianggap sebagai "superfood" yang mewah, namun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memeringati para ibu mengenai bahaya placentophagy. Kematian bayi baru lahir di Oregon berhubungan dengan pil plasenta ibunya yang terkontaminasi.

Penelitian lain menunjukkan adanya kandungan cadmium, metal berat yang ditemukan dalam sejumlah kecil tetapi bisa terdeteksi dalam pil plasenta.

"Mengonsumsi plasenta sudah banyak dipromosikan ke wanita setelah melahirkan untuk manfaat fisik dan psikologis, meskipun belum ada bukti saintifik yang membuktikan hal ini," lapor CDC.

Dr Alex Farr, dari Universitas Medis Vienna, dan koleganya meragukan tidak adanya kandungan nutrisi atau hormon dalam plasenta yang mungkin bisa memberikan manfaat kepada ibu manusia.

"Wanita kulit putih kelas menengah hingga atas dengan pendapatan dan pendidikan relatif tinggi merupakan konsumen plasenta terbanyak," ungkap Dr Farr.

"Kemungkinan ini disebabkan fakta bahwa para wanita inilah yang memiliki akses dan sering mengikuti tren (setengah) mode dan seringkali lebih memilih obat esoterik dan alternatif."

Seorang ibu di Singapura, Roshni Mahtani, mengatakan, "Jika sudah cukup untuk bsia merawat anak kita, maka mengapa kita tidak bisa mengonsumsinya untuk diri kita sendiri?"

"Dari sisi medis, plasenta merupakan produk sisa," kata Dr Farr.

"Salah satu masalah yang ada adalah bahwa hormon bioaktif seperti estradiol, estrogen, mungkin bisa diselamatkan dalam proses enkapsulasi. Namun efek hormonal mungkin, secara teoritis, bisa menurunkan risiko depresi paska-melahirkan, mereka juga bisa meningkatkan risiko stroke atau serangan jantung disebabkan pembekuan darah," jelasnya, menambahkan bahwa hal ini masih tidak diketahui apakah asupan hormon tambahan ini benar-benar bisa menyebabkan kerusakan.

Bagi Dr Farr, semuanya tergantung pada semua individu mengenai apakah ia lebih memilih mengonsumsi jaringan manusia berbeda dan menganggapnya sebagai kanibalisme atau tidak.

"Dari perspektif medis, plasenta membawa genom fetus dan dengan demikian merupakan milik sang bayi." MIMS

Bacaan lain:
Apa yang akan terjadi pada tubuh manusia setelah meninggal?
Mengapa menerima organ dari orang yang sudah meninggal bisa menimbulkan kanker
Dipenjara seumur hidup: Perawat Jerman diduga sudah membunuh setidaknya 84 orang dalam ICU

Sumber:
http://www.npr.org/sections/thesalt/2016/09/06/482952588/when-people-ate-people-a-strange-disease-emerged
http://nationalpost.com/health/placenta-pills-eating-it-is-risky-and-bordering-on-cannibalism-doctors-say
http://www.ibtimes.com/eating-human-placenta-postpartum-bad-you-2600643