Banyak wanita dari berbagai belahan dunia ingin melakukan aborsi karena berbagai macam alasan. Diantaranya adalah kesiapan finansial, mental dan adat yang belum memadai, dan sebagian mengalami pelecehan seksual dan mengandung anak yang tidak diinginkan. Salah satu hal yang menggambarkan ini adalah adanya keributan yang terjadi belakangan ini atas larangan total terhadap aborsi oleh parlemen Polandia.

Sebuah studi baru yang dilakukan University of California menunjukkan bahwa perempuan yang melakukan aborsi cenderung lebih yakin akan pilihan tersebut, bahkan lebih yakin dibandingkan dengan pengambilan keputusan perawatan kesehatan lain seperti mastektomi setelah diagnosis kanker payudara, menjalani tes prenatal setelah infertilitas, atau operasi rekonstruksi lutut.

Namun ketika wanita – terutama di Malaysia dan Singapura – melakukan konsultasi pada dokter untuk aborsi, dokter berusaha untuk mencegah mereka atau menyarankan mereka untuk melakukan operasi ilegal yang dilakukan oleh dokter “tanpa ijin praktek”.

Wanita seperti Anne (bukan nama sebenarnya) dan kebanyakan wanita lain berpaling dari dunia medis dan menggunakan internet yang kemudian menemukan bahwa metotreksat merupakan cara paling legal dalam pandangan hukum. Metotreksat digunakan untuk menggugurkan kehamilan ektopik - sementara kehamilan Anne dinyatakan sehat, namun karena putus asa ia akhirnya mencoba menggunakan metotreksat.

"Saya tahu yang saya lakukan berisiko besar, tapi saya merasa begitu tak berdaya, bahkan saya seperti tidak bisa mengendalikan tubuh saya sendiri," katanya. "Saya menangis selama berhari-hari, saya benci situasi itu."

Percobaan aborsi dengan metotreksat ini gagal dan Anne kembali mencari cara lain di internet. Kali ini, Women on Web (WoW) muncul pada browser dan menjadi penyelamat Anne.

Women on Web, penyelamat bagi wanita yang putus asa

'Women on Web' adalah satu-satunya layanan aborsi online yang melakukan konsultasi medis gratis berbasis web dan mengirimkan obat yang dibutuhkan untuk aborsi secara medis pada wanita yang putus asa dan memenuhi syarat aborsi.

Layanan ini didirikan oleh dokter Rebecca Gomperts dari Belanda pada tahun 2005 dan telah membantu lebih dari 200.000 perempuan dari 140 negara melalui konsultasi online. Sekitar 50.000 wanita telah melakukan aborsi medis di rumah. Mereka melayani 10.000 email sehari dalam 17 bahasa dan website ini menarik sekitar satu juta pengunjung setiap bulannya.

Ketika seorang ibu hamil mendaftar untuk layanan ini, mereka diminta untuk menjawab 25 pertanyaan, berdasarkan protokol WHO. Di belakang layar, dokter WoW memiliki cara untuk mengetahui apakah mereka mengungkapkan fakta atau tidak. Meskipun begitu, obat yang mereka tawarkan memiliki persentase komplikasi yang rendah.

Kebijakan WoW menyatakan bahwa mereka tidak akan menolak satu wanita pun, meskipun keseluruhan pelayanan yang mereka berikan hanya berdasarkan dari uang sumbangan. Sekitar 75% wanita yang mencari layanan ini akan membayar jumlah yang disarankan atau sebesar 101 USD,  dengan tujuan mengimbangi biaya para wanita tidak mampu.

Setelah menyelesaikan konsultasi dan memberikan sumbangan, informasi dari wanita tersebut diteruskan ke salah satu dokter, yang akan menulis resep obat untuk aborsi medis: mifepristone dan misoprostol. Resep tersebut dikirim ke mitra WoW di India, dimana obat dibeli dari produsen India dan dikirim pada wanita yang membutuhkan.

Aborsi menjadi topik perbincangan di Malaysia

WHO memperkirakan bahwa setidaknya terdapat 22 juta praktek aborsi yang tidak aman,bahkan mungkin ilegal di seluruh dunia setiap tahunnya, “(praktek aborsi) dilakukan oleh individu tanpa keterampilan khusus yang memenuhi syarat, atau di lingkungan yang tidak memenuhi standar medis minimum, atau keduanya," menurut laporan 2006. 97% dari praktek aborsi ini terjadi di negara-negara berkembang, dan menurut penelitian, seorang wanita meninggal setiap delapan menit akibat aborsi yang tidak aman dan ilegal.

Di Malaysia, praktek aborsi dinyatakan ilegal kecuali apabila si ibu memiliki risiko fisik atau mental yang mengancam jiwa jika kehamilan tersebut dilanjutkan. Tapi bagaimana pihak berwenang dan penyedia layanan aborsi ini menanggapi nilai-nilai dari kepercayaan pribadi atau agama dari wanita tersebut dalam memberikan ijin pada mereka untuk melakukan aborsi?

Stereotip masyarakat menilai bahwa mereka yang mencari cara untuk aborsi hanyalah bentuk pelepasan  tanggung jawab dari wanita lajang yang telah melakukan hubungan seksual pranikah tanpa proteksi. Namun, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh WHO dan Institut Guttmacher, 73% wanita yang mencari layanan praktik aborsi adalah wanita yang sudah menikah. Stigma negatif masyarakat juga muncul terhadap wanita muda yang masih lajang  jika mereka mencari atau menggunakan alat kontrasepsi.

Sayangnya, banyak gadis remaja dan wanita muda di Malaysia yang terpaksa hamil dan menikah untuk menghindari stigma social tersebut. Beberapa diantaranya mencoba menyembunyikan kehamilan mereka dengan membuang bayi yang tidak diinginkan itu di ruang publik seperti toilet umum, tempat pembuangan sampah dan tempat parkir. Pada tahun 2015, sudah ada 105 kasus pembuangan bayi yang tercatat dan mungkin ada lebih banyak kasus yang tidak dilaporkan di daerah pedesaan.  

Aborsi lebih aman dibandingkan dengan kolonoskopi

Masyarakat perlu mengubah asumsi bahwa semua aborsi tidak aman, berbahaya dan hanya dapat dilakukan pada kehamilan trimester pertama. Penelitian telah menemukan bahwa metode "kombinasi" penggunaan mifepristone dan misoprostol merupakan prosedur yang aman dan efektif untuk aborsi hingga 63 hari.

Telah dinyatakan bahwa pada praktiknya aborsi lebih aman dibandingkan dengan kolonoskopi, dimana terdapat kurang dari satu dari 100,000 wanita yang meninggal karena praktik aborsi medis, sedangkan jumlah korban yg meninggal karena kolonoskopi bekisar antara 3 sampai 30 dari 1,000 orang yang menjalaninya. Pengonsumsian dari kombinasi kedua obat ini secara akurat memiliki tingkat efektivitas hingga 95%.

Hal yang paling dibutuhkan adalah sebuah ‘perjuangan’ untuk menemukan seorang praktisi medis yang berkualitas dan bertanggung jawab. Sedangkan, tantangan yang sesungguhnya adalah untuk melewati hukum di Malaysia agar wanita Malaysia dapat mendapatkan layanan praktek aborsi secara legal dan terbuka.

Untuk saat ini, WoW adalah satu-satunya pilihan yang tersedia namun menurut Gomperts, "Layanan WoW masih terbatas dan belum bisa menjangkau wanita yang tidak memiliki akses ke internet atau buta huruf. Hal ini yang menyebabkan kami tidak pernah berhenti berjuang untuk melegalkan aborsi, karena pada akhirnya hal inilah yang akan membuat perbedaan signifikan bagi semua wanita, bukan hanya bagi wanita yang cukup beruntung untuk menemukan layanan online." MIMS

Bacaan lain:
PBB: Hapuskan hukum anti-aborsi di dunia
Euthanasia pada bayi: Perlukah dilegalkan?
Mengapa ada pasien yang berbohong?
5 bencana dalam dunia medis dan pengobatan