Farmasi merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggungjawab dalam memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Sedangkan, farmasis (apoteker) merupakan gelar profesional dengan keahlian di bidang farmasi. Farmasis biasa bertugas di institusi-institusi baik pemerintahan maupun swasta seperti badan pengawas obat/makanan, rumah sakit, industri farmasi, industri obat tradisional, apotek, dan berbagai sarana kesehatan.

Universitas Indonesia merupakan salah satu universitas dengan jurusan farmasi terbaik di Indonesia, dibuktikan dengan nilai akreditasinya dengan nilai A di tahun 2011 hingga sekarang, menurut BAN-PT.

Meskipun demikian, di antara sederetan keunggulan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, dan di antara sederetan dosen yang memiliki gelar Apoteker, terdapat beberapa dosen yang ternyata memilih untuk tidak mengambil gelar apoteker.

Dalam pertanyaan berikut, Rezi Riadhi Syahdi, S. Farm., M. Farm. akan menjelaskan mengenai keputusannya dalam tidak mengejar gelar apoteker dan memutuskan untuk menjadi staf pengajar (dosen) Farmasi Universitas Indonesia di bagian Kimia Farmasi, dengan peminatan pada Kimia Komputasi, khususnya di bidang Molecular Docking dan Virtual Screening.

MIMS: Mengapa Anda memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan Anda sebagai Apoteker?

Rezi: Sebelum memasuki alasan, ada baiknya kita pahami dulu tentang sistem kefarmasian Indonesia yang saya ketahui. Sistem pendidikan dan dunia kesehatan di Indonesia membedakan antara lulusan sarjana farmasi dengan lulusan pendidikan profesinya yang dinamakan apoteker. Menurut Undang-undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan, tenaga kefarmasian dibagi menjadi apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Apoteker adalah seseorang yang sudah melalui tahap pendidikan tambahan termasuk di dalamnya praktik kerja di lapangan (baik di industri, fasilitas kesehatan, dan instansi terkait lainnya) dan sudah disumpah untuk menjalankan tugas kefarmasian dalam memastikan sediaan farmasi bermutu, aman dan berkhasiat untuk pasien. Sarjana farmasi, masuk ke dalam tenaga teknis kefarmasian bersama dengan lulusan sekolah menengah kejuruan farmasi (SMF) dan D3. Tenaga teknis kefarmasian membantu apoteker dalam menjalankan tugas keprofesiannya dan tentu tidak memiliki tanggung jawab yang setinggi apoteker dalam kesehariannya.

Ketika seseorang lulus pendidikan sarjana, terdapat pilihan untuk melanjutkan ke profesi atau ke jenjang magister (baik di bidang farmasi atau lainnya). Seandainya dulu saya masuk farmasi karena ingin berkontribusi di bidang kesehatan secara langsung terjun ke masyarakat, titel sarjana farmasi tentu kurang cukup. Ataupun juga bila saya ingin berkecimpung di dunia industri farmasi, khususnya di bagian tertentu seperti penjaminan mutu atau pemastian mutu dan produksi, maka keprofesian apoteker adalah suatu kebutuhan/kewajiban. Teman-teman yang ingin berkecimpung di dunia farmasi tapi deskripsi pekerjaannya tidak wajib apoteker seperti di bidang business development, marketing, dan sebagainya tentu tidak merasa perlu menjadi apoteker untuk terjun. Bahkan teman-teman bisa memiliki waktu tambahan yang tidak digunakan untuk menempuh apoteker untuk berkreasi di dunia tersebut.

Hal ini terjadi pada saya yang awalnya masuk farmasi karena memang tertarik pada bidang sains, namun yang bisa lebih aplikatif, maka saya memilih farmasi sebagai latar belakang pendidikan sarjana saya.Sembari kuliah, saya sembari kerja memberikan privat atau les kepada siswa SMP dan SMA. Saya pun merasa bahwa saya menikmati mengajarkan orang lain, dan mulai mengerucutkan cita-cita saya menjadi seorang peneliti dan pendidik yakni dosen. Sebelumnya saya sempat berfikir untuk menjadi ilmuwan di bidang farmasi di bawah lembaga penelitian, yang tentunya titel apoteker juga bukan kewajiban.

Tanggung jawab yang diberikan kepada apoteker, tidak menjadi bagian dari pekerjaan saya sehari harinya sehingga saya pun memilih untuk melanjutkan ke program magister tanpa melalui profesi apoteker.

Tanggung jawab apoteker, tidak menjadi bagian dari pekerjaan dosen sehari-harinya
Tanggung jawab apoteker, tidak menjadi bagian dari pekerjaan dosen sehari-harinya

MIMS: Apakah pekerjaan anda yang sekarang cukup memuaskan?

Rezi: Secara umum, pekerjaan yang sekarang saya lakukan cukup memuaskan, minimal untuk dirasakan oleh diri sendiri. Ketika saya pertama kali mengajar mahasiswa, bentuk dan pola pengajaran masih perlu banyak dilihat lagi ke role model yang ada. Berbagai teori tentang psikologi pendidikan pun mewarnai teknik pengajaran saya agar memenuhi luaran pengajaran.

Hal penting yang saya suka dari pekerjaan saya adalah, saya selalu bisa mendapatkan pengetahuan baru, baik dari penelitian sendiri ataupun orang lain, textbook atau teori baru atau bahkan dari mahasiswa sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan selalu membuat kita juga perlu mengupdate diri, apalagi akan ditransfer ke mahasiswa yang memerlukan ilmu yang sesuai dan up-to-date dengan perkembangan di dunia sekitar.

Walaupun begitu ada beberapa hal yang menurut saya bisa lebih dikembangkan untuk perkerjaan dosen. Yang pertama adalah perluasan kesempatan penelitian. Memang, saat ini sudah banyak hibah yang digelontorkan oleh pemerintah, tapi terkadang peneliti terlalu disibukkan oleh hal-hal administratif dan malah terabaikan hal-hal substansial. Seandainya birokrasi penelitian bisa lebih ringkas tentunya akan memudahkan hidup para peneliti, termasuk dosen.

Terkenal ramah dan sangat dekat dengan mahasiswanya
Terkenal ramah dan sangat dekat dengan mahasiswanya

Yang kedua, sistem student centered learning perlu lebih giat dilakukan pada mahasiswa. Proses pencarian oleh mahasiswa menjadikan mereka mandiri dan mampu memilah milih serta proses brainstorming atau bahkan problem solving di"paksa" untuk berjalan. Para pengajar memiliki peran penting dalam proses klarifikasi dan mengarahkan jawaban mereka. Namun perlu menghindari memberi jawaban langsung atau memberikan materi yang plek semua bahan dikasih namun belum tentu dibaca juga oleh mahasiswa. Dibaca saja belum tentu apalagi dipahami?

MIMS: Apa saran Anda untuk para Sarjana Farmasi baru (termasuk mahasiswa Anda)?

Rezi: Farmasi adalah program studi yang memiliki keunikan. Banyak sekali mahasiswa yang merasa lelah, stres, atau bahkan putus asa melalui semua ini. Tapi percayalah peribahasa "rumput tetangga terlihat lebih hijau", semua program pasti memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri, termasuk beban tugas dan stres.

Artinya kita perlu siapkan kekuatan baik mental dan fisik dalam menghadapi kuliah. Anak farmasi kok sakit.

Hal yang penting kedua adalah temukan passion sesegera mungkin. Saya melihat banyak mahasiswa farmasi yang belum memiliki passion terhadap bidangnya. Percayalah bila kita mengerjakan sesuatu yang kita memiliki passion, tidak akan terasa berat. Passion tersebut juga bisa menentukan langkah strategis kita ke depannya. Termasuk menjawab pertanyaan "Apakah melanjutkan apoteker atau tidak" yang diajukan ke diri sendiri selama menjalani perkuliahan.

Cintailah dunia yang akan kau tekuni karena hasil tidak akan mendustakan proses
Cintailah dunia yang akan kau tekuni karena hasil tidak akan mendustakan proses

Cintailah dunia yang akan kau tekuni, berbuat sebaik-baiknya, dan hasil tidak akan mendustakan proses. MIMS

Bacaan lain:

Apoteker spesialis: Apakah diperlukan?
Apakah apoteker komunitas akan segera punah?
6 tips apoteker bisa menjadi lebih unggul dari yang lainnya

Sumber:
http://www.farmasi.ui.ac.id/sample-page-2/akreditasi/akreditasi-program-studi-sarjana/
http://staff.ui.ac.id/rezi.riadhi31