Dengan bantuan teknologi, dunia medis sekarang semakin berkembang maju dengan inovasi baru yang terus menjadi diskusi hangat setiap tahunnya. Inovasi ini merupakan realitas sehingga dunia kesehatan bisa semakin didukung dan mempermudah tenaga kesehatan begitu juga dengan meningkatkan kesehatan publik.

1. 'Nanotransfection': Mengubah sel kulit menjadi pembuluh darah

Ide untuk membuat sel kulit berubah menjadi pembuluh darah dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Swasta Ohio dalam bentuk nanoteknologi yang disebut juga Tissue Nanotransfection (TNT). TNT merupakan chip nanoteknologi kecil dengan diselipkan instruksi biologis di dalamnya.

Teknologi ini ditujukkan saat dokter menggunakan Nanotransfeksi Jaringan untuk menyelamatkan kegagalan organ. Alat ini diaplikasikan pada organ yang gagal dan mengadakan intervensi dengan mengubah sel kulit menjadi sel yang dibutuhkan.

Chip nanoteknologi-lah yang membuatnya bisa menghantarkan instruksi biologis ke sel kulit untuk pemrograman ulang. Melalui sedikit aliran listrik, cargo kemudian mentransmisikan instruksi biologis sehingga sel kulit bisa berubah menjadi sesuatu yang berguna.

Mungkin tampak seperti dalam film, tetapi peneliti menyatakan bahwa teknologi ini akan sangat berguna di tahun depan saat penelitian klinis pada manusia dilakukan.

The idea to make skin cells turn into blood vessels was developed by researchers from the Ohio State University in the form of nanotech called Tissue Nanotransfection (TNT). Photo credit: Nancy Crotti/Medical Device and Diagnostic Industry
The idea to make skin cells turn into blood vessels was developed by researchers from the Ohio State University in the form of nanotech called Tissue Nanotransfection (TNT). Photo credit: Nancy Crotti/Medical Device and Diagnostic Industry


2. Brain Composer: Menciptakan musik dalam kepala

Brain Composer diciptakan menggunakan teknologi otak-komputer, yang juga dikenal sebagai BCI, oleh peneliti dari Universitas Teknologi Graz. Ini merupakan jenis teknologi yang membuat semua orang bisa menciptakan musik hanya dengan memikirkannya.

Brain Composer bekerja melalui BCI, yang membantu memroses fungsi tubuh dengan program yang dikontrol oleh gelombang otak. BCI kurang lebih bekerja dengan membaca gelombang otak dan kemudian, membuat penggunanya bisa mengontrol alat eksternal.

BCI juga bisa mengubah atau membuat fungsi kegiatan harian manusia menjadi lebih baik. Alat ini bisa membuat mereka yang dengan kekurangan melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan tanpa bantuan BCI, misalnya menulis atau mengontrol prostetik.

Untuk membuat Brain Composer menjadi nyata, peneliti sedang bekerja dengan 18 subjek uji, semuanya dihubungkan ke BCI dan software komposisi musik dimasukkan melakukan topi gelombang otak.

Layar di depan mereka, nada dan simbol muncul dan saat subjek uji berkonsentrasi penuh, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Saat terdapat gangguan dalam gelombang otak, BCI bisa menyadari perubahan ini dan menunjukkannya.

Pada Brain Composer, BCI menyadari adanya nada atau simbol yang ingin digunakan subjek uji. Teknologi ini bisa menjadi pembantu pasien paralisis yang ingin melakukan sesuatu dalam kesehariannya.



3. Teknologi AI: Memprediksikan kematian

Ini merupakan rasa ketertarikan umum manusia untuk mengetahui mengenai kehidupan dan kematian. Mungkin di masa depan, manusia bisa mengetahui 'kapan' mereka akan mati. Berkat perkembangan artificial intelligence (AI) yang memiliki bentuk komputer.

Komputer AI bisa memberitahu Anda seberapa lama sisa umur Anda hanya dengan men-scan organ internal. Ide brilian ini didapatkan dari impian anak-anak sekelompok peneliti dari Universitas Adelaide.

Dengan menganalisis gambaran medis, peneliti berhasil memprediksi usia pasien dengan bantuan AI, melalui algoritma 'pembelajar'. Gambar dada dari 48 pasien digunakan dan prediksi dibuat oleh AI, dengan tingkat akurasi sebesar 69%.

Algoritma 'pembelajar' mempelajari cara mengidentifikasi pola yang berguna, mengadakan pemeriksaan dan kemudian membuat prediksi. Dalam penelitian ini, algoritma sudah mengetahui mengenai komplikasi yang ditunjukkan penyakit dan mengevaluasi kesehatan pasien dengan memeriksa organ dalamnya. "Gambar ini digital, terstandarisasi, dan memiliki kualitas sangat tinggi – faktanya, banyak gambar berisi informasi berguna yang tidak bisa dilihat mata," sebut penulis penelitian dan ahli epidemiologi Dr Lyle Palmer, PhD.

Peneliti masih bekerja untuk memasukkan lebih banyak informasi sehingga membuat teknologi ini menjadi lebih akurat. Semakin banyak sampel dan informasi dimasukkan ke dalam algoritma, semakin akurat juga hasil yang didapat. Inilah mengapa peneliti akan menggunakan puluhan ribu gambar dalam penelitian selanjutnya untuk dianalisis. MIMS

Bacaan lain:
Tikus tidak sama dengan manusia: Evaluasi penggunaan hewan uji dalam penelitian klinis
"Operasi kimia" pertama pada embrio berhasil dilakukan oleh peneliti Cina
4 penelitian dan aplikasi sel punca terbaru

Sumber:
https://www.forbes.com/sites/chentim/2017/10/06/5-breakthrough-medical-technologies-so-crazy-they-sound-like-science-fiction/#3634ea3419f5
https://news.osu.edu/news/2017/08/07/regenerative-med-study/
https://www.mddionline.com/%E2%80%98nanotransfection%E2%80%99-turns-animal-skin-blood-vessels-and-brain-cells 
https://www.seeker.com/health/mind/brain-computer-interface-allows-users-to-compose-music-with-only-their-thoughts
https://www.inverse.com/article/36349-music-composed-brain-computer-interface 
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/06/170601124126.htm