Inflamasi sudah sejak lama dikenal sebagai tanda terjadinya cedera jaringan, misalnya seperti rasa nyeri pada jari, atau penyebaran patogen seperti bakteri atau virus, dimana sistem imun mengumpulkan sistem imunitasnya untuk membentuk mekanisme pertahanan dengan sel darah putih dan memproduksi senyawa kimia tertentu untuk melindungi tubuh manusia.

Selain itu, penelitian biomedis dan klinis dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa, selain mekanisme perlindungan alami, inflamasi memainkan peran penting dalam sistem patologi banyak penyakit infeksius. Lebih spesifiknya lagi, aktivasi mekanisme inflamasi yang tidak diinginkan mungkin merupakan faktor penyebab yang menginduksi perkembangan kondisi patologis berbeda.

Selain itu, inflamasi sudah sejak lama dihubungkan dengan kanker karena sitokin yang diproduksi saat inflamasi kronik bisa menyebabkan pembentukan lingkungan mikro yang kondusif untuk pembentukan tumor atau metastasis.

Penyebab munculnya penyakit Pandangan yang menyebutkan bahwa inflamasi merupakan sebuah sumber – atau setidaknya salah satu penyebab, banyak penyakit – sudah banyak menarik para peneliti dalam dunia saintifik. Salah satu bukti terbaru mengindikasikan bahwa peran penting inflamasi pada penyakit terdapat pada penelitian CANTOS yang dilakukan oleh Novartis.

Percobaan ini dilakukan untuk memeriksa efek canakinumab dalam pencegahan gangguan kardiovaskular tertentu pada pasien yang pernah mengalami serangan jantung sebelumnya dan inflamasi aterosklerosis. Menurut Novartis, sekitar 40% pasien serangan jantung masih memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan kedua, stroke, atau kematian disebabkan risiko tinggi inflamasi aterosklerosis.

Canakinumab bekerja dengan menghambat interleukin 1 beta (IL-1β), yang merupakan sitokin kunci penyebab perkembangan inflamasi aterosklerosis.

Obat ini disebut-sebut memiliki fungsi sebagai "agen pertama dan satu-satunya yang secara selektif menargetkan inflamasi dan menurunkan risiko gangguan kardiovaskular secara signifikan pada pasien yang pernah mengalami serangan jantung sebelumnya dan memiliki peningkatan beban inflamasi kardiovaskular."

Inflamasi dan kanker paru-paru

Penelitian CANTOS juga melaporkan angka penurunan kasus kanker paru-paru di antara mereka yang diacak untuk menerima canakinumab.

Kepala penyelidik penelitian, Dr Paul Ridker, menjelaskan. "Jalur NLRP3 yang kami pelajari, meningkatkan risiko menderita kanker lain, termasuk kanker paru sel besar... Juga telah dibangun hipotesis bahwa inflamasi pada lingkungan mikro tumor memainkan peran dalam pertumbuhan dan metastasis tumor – meskipun, tidak memicu tumor untuk berkembang sendiri."

Meskipun penemuan ini cukup menggembirakan peneliti kesehatan dan dokter onkologi, namun Dr Ridker memperingati bahwa mereka belum mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan hasil penelitian ke algoritma terapi yang sebenarnya.

Jika anti-inflamasi merupakan jawabannya – maka?

Kumpulan bukti penelitian dalam literatur menyebut obat anti-inflamasi sebagai obat untuk segala macam penyakit, karena inflamasi yang tidak terkontrol atau tidak seharusnya mungkin merupakan faktor penyebab penyakit. Meskipun demikian, mekanisme biologis inflamasi sangat kompleks dan tergabung dengan banyak proses fisiologis lain. Akan sulit bagi kami untuk menyelesaikan masalah dengan pendekatan terpaksa – "asal".

Mekanisme inflamasi meliputi berbagai jenis sitokin dan kemokin yang berinteraksi dengan, dan kemudian memengaruhi satu sama lain dalam hubungan dekat pada keseimbangan antara mediator pro- dan anti-inflamasi yang merupakan salah satu mediator penting. Banyak sitokin dan kemokin ini merupakan bagian yang penting untuk fungsi fisiologis manusia. Pendekatan yang langsung menyerang respon inflamasi cenderung akan memicu masalah lain, bukannya mengatasinya.

Sebagaimana yang disebutkan oleh Dr Clay Semenkovich, kepala penelitian endokrinologi, metabolisme dan lipid di Universitas Washington. "Masalahnya adalah jika Anda menghambat inflamasi, maka Anda juga menghambat mekanisme primordial yang kami lindungi dari organisme yang memiliki fungsi mendukung tubuh."

Tidak semua obat anti-inflamasi itu sama

Selain itu, obat anti-inflamasi tidak selalu memberikan efek yang sama. Pola genetik seseorang juga ikut memengaruhi kecepatan dan jumlah konsentrasi yang terabsorpsi, metabolisme dan pengeluaran obat anti-inflamasi dari dalam tubuh; dengan demikian memicu variasi substansial efek obat pada populasi berbeda.

Efek samping merupakan aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Dalam penelitian CANTOS, diketahui bahwa ada beberapa infeksi fatal, yang mungkin disebabkan oleh penekanan sistem imun pasien. Dengan demikian, peneliti tidak bisa meneliti perbedaan signifikan pada keseluruhan mortalitas – kemungkinan karena semakin tingginya jumlah kematian akibat infeksi yang menggagalkan penyelamatan nyawa seseorang melalui pemberian obat.

Selain itu, beberapa peneliti menyatakan bahwa pemberian terapi anti-inflamasi jangka panjang bukannya menyebabkan pulihnya kesehatan, tetapi malah memicu terjadinya efek samping. Dengan demikian, efek obat anti-inflamasi mungkin akan memicu proses pro-inflamasi lain yang menghilangkan efek obat di akhir terapinya.

Tantangan yang ada

Meskipun ada beberapa tantangan untuk menggambarkan secara lengkap mekanisme inflamasi dan efeknya pada perkembangan penyakit, namun perkembangan yang sudah kita capai sekarang ini mengarahkan ke kemungkinan penemuan dan pengembangan obat baru. Hanya waktu yang bisa menunjukkan apa yang akan terjadi di masa depan – saat misteri inflamasi berhasil dipecahkan. MIMS

Bacaan lain:
Obat ajaib anti-inflamasi disebut-sebut bisa mencegah kanker paru-paru dan serangan jantung
Manfaat permen karet untuk kesehatan
3 penyakit paling misterius di dunia

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/08/31/inflammation-research-diseases/ 
https://www.novartis.com/news/media-releases/novartis-phase-iii-study-shows-acz885-canakinumab-reduces-cardiovascular-risk 
https://www.statnews.com/2017/08/27/novartis-inflammation-lung-cancer/ 
https://www.nytimes.com/2017/08/27/science/ilaris-heart-disease-cancer-study.html?mcubz=3 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3608517/