Peneliti baru-baru ini menemukan bahwa infeksi bakteri pada wanita hamil merupakan penyebab banyak keguguran dan kematian bayi, hal ini seharusnya dapat dicegah jika tersedia vaksin yang dapat menghentikan penyebaran bakteri ini.

Disampaikan dalam American Society of Tropical Medicine and Hygiene Annual Meeting di Baltimore, penelitian yang melibatkan partisipan lebih dari 100 peneliti di seluruh dunia mendokumentasikan temuan mereka dalam serangkaian 11 makalah penelitian.

Temuan ini dibagikan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases dan ini juga merupakan studi pertama yang memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana infeksi Streptokokus Grup B (SGB) memengaruhi kejadian keguguran dan kematian bayi. Menurut penelitian ini,  sebanyak 21,7 juta wanita hamil membawa bakteri ini.

Apa itu SGB? Bagaimana bakteri tersebut memengaruhi janin dan bayi?


Infeksi Streptokokus Grup B (SGB) tidak menginfeksi semua wanita hamil. SGB hidup di saluran usus lebih dari sepertiga semua orang dewasa. Sulit bagi wanita untuk mengetahui bahwa terdapat SGB dalam sistem pencernaan atau saluran vagina bagian bawah karena infeksi ini tidak menunjukkan gejala yang jelas.

Jika terdapat bakteri pada wanita hamil, maka janin yang dikandung juga bisa terinfeksi melalui cairan amnion. Infeksi terjadi saat bayi lahir melewati saluran vagina. SGB menyerang bayi dan janin karena sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga tidak cukup kuat untuk melawan dan mencegah bakteri untuk membelah diri.

Efek SGB sangat mematikan karena telah ditemukan dapat menyebabkan meningitis dan septikemia. Bagi bayi yang bertahan dari infeksi ini, ada kemungkinan mengalami beberapa masalah, termasuk masalah penglihatan permanen dan pendengaran, atau cerebral palsy.

Melalui temuan penelitian ini yang dipimpin oleh para peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, mereka menyadari betapa besar masalah SGB ini. Dilaporkan bahwa dari 410.000 kasus SGB setiap tahun, terdapat 147.000 kejadian keguguran dan kematian bayi di seluruh dunia.

Dilaporkan kejadian SGB tertinggi terdapat di Afrika

Dari semua kasus SGB di seluruh dunia, dilaporkan bahwa Afrika, walaupun hanya memiliki 13% dari populasi dunia, Sebagian besar kasus SGB terjadi disana dengan sebanyak 65% kejadian keguguran dan kematian bayi, serta 54% kasus infeksi. Negara lain yang terkena dampak adalah India, Cina, Nigeria, Amerika Serikat dan Indonesia.

"Beban terhadap infeksi SGB kurang dihargai, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," Shabir Madhi, salah satu penulis dari  Universitas Wits di Afrika Selatan mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation. Tingkat infeksi pada wanita hamil di Afrika, yang berkisar sekitar 25% sampai 35%, lebih tinggi daripada negara lain dan tidak diketahui alasannya, tambahnya.

Peneliti memperingatkan bahwa jika vaksin tidak dibuat secepatnya, akan ada lebih banyak kasus kematian atau bayi dengan masalah kesehatan serius. Sejauh ini, dilaporkan bahwa beberapa vaksin sedang dalam pengembangan untuk membantu mengatasi situasi mematikan ini. Para ilmuwan masih menguji vaksin tersebut, untuk memastikan 100% dapat melawan infeksi tersebut.

Kepentingan mendesak untuk menyelesaikan masalah ini

Johan Vekemans, petugas medis dari Initiative for Vaccine Research di World Health Organisation (WHO), mengatakan "Perkiraan beban penyakit menyoroti pentingnya pencegahan infeksi pada masa perinatal. Saat ini penting untuk mempercepat kegiatan pengembangan vaksin SGB. Kemungkinan secara kelayakan teknis diperkirakan tinggi."

Menurut Joy Lawn, profesor Kesehatan Maternal, Reproduksi dan Kesehatan Anak di London School of Hygiene and Tropical Medicine, pendekatan ini bukanlah solusi yang tepat untuk masalah ini. "Saat ini antibiotik diperkirakan dapat mencegah sebanyak 29.000 kasus penyakit SGB stadium awal per tahun, dan hampir semua kasus tersebut terjadi di lingkungan berpenghasilan tinggi."

Menjelaskan lebih lanjut, ia menambahkan "Namun, pendekatan ini mungkin sulit dilakukan di lingkungan berpenghasilan rendah di mana banyak proses kelahiran dilakukan di rumah, dan kapasitas laboratorium untuk skrining SGB terbatas."

Ada 60 negara yang menggunakan kebijakan penggunaan antibiotik pada masa kehamilan untuk mencegah penyakit SGB tidak diteruskan ke bayi yang baru lahir. Dari negara-negara tersebut, hanya 35 negara yang memiliki kebijakan untuk menguji setiap wanita hamil sehingga dapat diketahui jika terdapat tanda-tanda infeksi SGB. Sisanya, sebanyak 25 negara hanya memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi SGB pada wanita yang memiliki faktor risiko klinis.

Implementasi kebijakan ini berbeda di seluruh dunia. Namun, sejauh penggunaan antibiotik, Joy Lawn berpikir bahwa "memberi antibiotik kepada 21,7 juta wanita dapat berkontribusi terhadap resistensi antimikroba - sebuah krisis kesehatan global yang utama". Anna Seale, wakil pimpinan dan Asosiasi Profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine juga berpendapat bahwa antibiotik seharusnya tidak menjadi satu-satunya solusi.

Johan Vekemans menegaskan kembali kebutuhan untuk "mempercepat kegiatan pengembangan vaksin SGB". Dia mengatakan, "Pekeejaan yang sedang berlangsung untuk memperkuat program imunisasi maternal yang ada. Langkah selanjutnya mencakup evaluasi menyeluruh tentang efektivitas biaya. Kami akan bekerja sama dengan Profesor Lawn dan yang lainnya dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, serta mitra global untuk memimpin kegiatan ini." MIMS

Bacaan lain:
Obat penghilang rasa sakit mungkin merupakan penyebab ADHD
Rahim buatan untuk masa depan masalah fertilitas dan perawatan neonatus
Kualitas vs. Kuantitas: Apakah jumlah telur bisa digunakan sebagai penanda kesuburan seorang wanita?

Sumber:
http://www.channelnewsasia.com/news/health/bacterial-infection-blamed-for-nearly-150-000-stillbirths-baby-9381898
http://news.trust.org/item/20171106165039-iv3d5?utm_source=OCHA+ROSEA+Master+List&utm_campaign=67b879afd8-SEA_MEDIA_SWEEP_2017_+07_11&utm_medium=email&utm_term=0_319edf26b8-67b879afd8-52864657
https://academic.oup.com/cid/issue/65/suppl_2#379721-4589584
https://www.lshtm.ac.uk/newsevents/news/2017/group-b-streptococcus-infection-causes-estimated-150000-preventable