Demam berdarah, atau dikenal sebagai flu tulang, ditularkan oleh nyamuk pembawa virus dengue. Demam berdarah merupakan salah satu penyakit mematikan yang seringkali mulai menunjukkan gejala setelah masa inkubasi empat hingga sepuluh hari. Gejalanya ditandai dengan demam tinggi, sakit kepala akut, mual, nyeri pada tubuh dan ruam. World Health Organisation (WHO) memperkirakan sebanyak 390 juta infeksi demam berdarah terjadi setiap tahun dan jumlah tersebut terus meningkat. Pada kasus parah demam berdarah, pasien mungkin mengalami perdarahan dan gagal organ yang dapat menyebabkan syok dan kematian.

Di tahun 2016, dilaporkan ada sebanyak 204.171 kasus demam berdarah di Indonesia. Oleh karena itu, perlu suatu upaya pencegahan penyakit yang ditularkan vektor nyamuk – demam berdarah. Jika pengendalian nyamuk dapat dilakukan dengan baik, maka morbiditas, mortalitas, disabilitas dan kerugian ekonomi akibat penyakit ini juga dapat ditekan. Namun, baru-baru ini para ilmuwan menemukan bahwa pencegahan mungkin tidak lagi cukup untuk mengendalikan demam berdarah, terutama bagi orang yang terinfeksi virus dengue untuk kedua kalinya.

Antibodi-dependent enhancement (ADE)

Virus dengue ditransmisikan oleh nyamuk wanita, Aedes aegypti
Virus dengue ditransmisikan oleh nyamuk wanita, Aedes aegypti

Jurnal Science baru-baru ini menerbitkan penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan Amerika dan Nikaragua, dan ditemukan bahwa kasus parah demam berdarah (DBD) bisa terjadi akibat Antibodi-dependent enhancement, atau ADE.

Dalam penelitian tersebut, 6.600 anak penderita DBD dipantau selama 12 tahun di Nikaragua. Para peneliti mengambil sampel darah anak-anak tersebut setiap tahun yang kemudian dianalisis jumlah dengue-binding antibody-nya. Hasilnya mengejutkan: anak-anak yang terinfeksi untuk kedua kalinya ditemukan cenderung menderita DBD parah saat antibodi dalam darah mereka teridentifikasi dalam jumlah tertentu.

Tiga pendekatan statistik berbeda digunakan untuk menguji mengapa anak-anak ini terinfeksi DBD parah pada kasus infeksi kedua mereka. Eva Harris, ketua peneliti  dari University of California, mengatakan, "Uniknya bukan hanya menemukan bahwa ada titer antibodi spesifik yang merupakan penanda penyakit parah, namun ketiga metode tersebut menghasilkan titer dengan kisaran nilai yang sama persis." Temuan ini menunjukkan bahwa anak-anak dengan tingkat antibodi menengah, 7,64 kali lebih rentan terjangkit DBD atau Sindrom Syok Dengue (SSD). Di sisi lain, anak-anak dengan tingkat antibodi tinggi atau rendah tidak terpengaruh penyakit ini.

Diperlukan penelitian lebih lanjut

Harris mencatat bahwa salah satu masalah utama penelitian sebelumnya adalah jumlah Antibody-dependent enhancement (ADE) diukur dari banyaknya virus dalam tabung reaksi, namun "tidak jelas bagaimana eksperimen ini berkorelasi dengan demam berdarah yang dialami manusia.

Nikos Vasilakis, seorang profesor patologi di University of Texas Medical Branch, memuji penelitian yang mendemonstrasikan ADE pada manusia (in vivo).

"Penelitian ini, yang dilakukannya, menunjukkan kisaran konsentrasi antibodi yang sempit, untuk pertama kalinya, ... benar-benar menghasilkan peningkatan risiko penyakit secara in vivo," kata Vasilakis.

Meskipun sudah ada banyak fakta dalam penelitian sebelumnya, namun masih banyak yang tidak yakin dan menuntut buktian tambahan.

Antibodi dengue memicu infeksi mengancam jiwa pada manusia
Antibodi dengue memicu infeksi mengancam jiwa pada manusia

Timothy Endy, seorang peneliti demam berdarah dari University of New York Upstate Medical University, menyoroti fakta bahwa penelitian Harris gagal membedakan antibodi yang mengikat dan menetralkan atau jenis serotipe berbeda. Ia mengklaim bahwa menghubungkan ADE dengan konsentrasi antibodi dengue tertentu dianggap terlalu "sederhana" dan "ADE masih merupakan teori awal yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya."

Namun, pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini mungkin berguna untuk uji coba vaksin dan penilaian untuk virus dengue dan Zika. Pakar vaksin dari WHO menyarankan agar vaksin – Dengvaxia – hanya diberikan pada anak-anak yang telah terinfeksi demam berdarah setidaknya sekali di daerah dengan kasus demam berdarah yang tinggi. MIMS

Bacaan lain:
10 obat paling penting sepanjang sejarah
Hematohidrosis, penyebab darah “terus-menerus” mengalir
Sejarah warfarin: Dari pembunuh ternak hingga racun tikus hingga obat paling dibutuhkan oleh manusia

Sumber:
http://www.depkes.go.id/article/view/17082500003/kerugian-ekonomi-akibat-penyakit-tular-vektor-hampir-capai-rp-2-triliun.html
https://www.statnews.com/2017/11/02/dengue-second-infection/
http://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2017/11/02/561138767/scientists-solve-50-year-old-mystery-about-breakbone-fever
https://www.thestar.com.my/metro/metro-news/2017/10/11/disturbing-rise-in-numbers-over-half-of-reported-dengue-cases-in-the-country-this-year-recorded-in-s/
http://www.sciencemag.org/news/2017/11/dengue-antibodies-might-trigger-life-threatening-infections
http://science.sciencemag.org/content/early/2017/11/01/science.aan6836.full
http://www.who.int/immunization/policy/sage/en/