Di banyak negara, indeks massa tubuh (IMT) selalu menjadi parameter untuk mengetahui berat badan sehat relatif terhadap tinggi badan seseorang. Nilai lebih tinggi dari IMT normal sering dihubungkan dengan banyak risiko kesehatan; seperti diabetes, hipertensi, masalah sendi, jantung dan hati.

Baru-baru ini, penelitian yang dipresentasikan oleh Ikatan Genetika Manusia Eropa menunjukkan bahwa IMT tinggi bisa menjadi pemicu buruknya kesehatan jantung bahkan pada anak-anak berusia 17 tahun.

Masalah jantung pada anak muda

Baru-baru ini penelitian yang memeriksa efek obesitas pada kesehatan jantung dilakukan oleh tim peneliti di Universitas Bristol. Tim ini memeriksa data dari 14.000 pasien sejak tahun 1990, dan ikut memperhitungkan faktor lingkungan dan genetik.

Dari data ini, peneliti menemukan hubungan kausal antara peningkatan IMT dan lebih tingginya tekanan darah dan indeks massa ventrikel kiri (IMVK). Tekanan darah tinggi menjadi prekursor dan faktor risiko mengembangkan hipertensi, serta menjadi pintu masuk gangguan kardiovaskular.

Ventrikel kiri berperan sebagai pompa utama darah beroksigen dari jantung. Dengan demikian, meningkatnya IMVK bisa mengindikasikan bahwa jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Membesarnya ventrikel kiri merupakan prekursor berbagai masalah jantung seperti hipertensi dan gagal jantung. Selain itu, tim peneliti juga tidak mendeteksi perubahan kecepatan jantung yang berhubungan dengan obesitas.

Poin unik lain dari penelitian ini terletak di metodenya yang mengarahkan ke analisis yang lebih cepat, namun bisa dipercaya untuk sejumlah besar data pasien.

"Penelitian acak terkontrol penting untuk mengetahui sebab dan efek penyakit, metode ini merupakan metode yang mahal, membutuhkan waktu lama dan sulit dilakukan," menurut kepala peneliti, Dr. Wade.

"Teknik genomik modern membuat kita bisa mendeteksi penyebab lebih cepat dan murah, dan banyaknya ketersediaan data genetik berarti kita bisa menyelesaikan batasan penelitian epidemiologi observasional."

Tim berharap bahwa penemuan penelitian ini akan memotivasi masyarakat untuk melawan obesitas bahkan dari usia muda.

Obesitas di Asia

Angka kejadian obesitas sedang meningkat di Asia, dan Malaysia menjadi negara dengan obesitas tertinggi di antara semua negara di benua ini. Di Malaysia, hampir setengah (47,7%) dari total masyarakatnya yang berusia 18 tahun dan di atasnya memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Efeknya jelas terlihat dalam outcome kesehatannya, dengan 30,3% warga Malaysia berusia 18 tahun dan di atasnya menderita hipertensi, 47,7% memiliki kolesterol tinggi dan 17,5% menderita diabetes.

Sementara itu di Singapura, angka kasus obesitas juga terus meningkat, dari 7% di tahun 2004 menjadi 11% di tahun 2010. Meskipun angkanya masih bisa disebut rendah, namun angka yang terus meningkat ini masih menjadi masalah serius.

Faktanya, diestimasikan bahwa satu per tiga dewasa muda di Singapura mengalami diabetes di usia 65 tahun. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, angka obesitas pada anak sekolah meningkat menjadi 12%.

Solusi untuk masalah obesitas

Pemerintah lokal, Singapura dan Malaysia, sudah banyak mengimplementasikan rencana kampanye dan aksi untuk mempromosikan olahraga ke publik dan anak sekolah. Namun, hasil dari program ini masih sangat bervariasi.

Yang mengejutkan, kemungkinan ada solusi efektif untuk melawan obesitas. Menurut sekelompok peneliti, protein miostatin diketahui bisa menghambat fungsi pertumbuhan otot dimana kuantitas tinggi miostatin banyak ditemukan pada individu obesitas dibandingkan individu yang lebih kurus.

Dengan menekan produksi miostatin, peneliti bisa meningkatkan massa otot pada tikus uji. Selain itu, tikus dengan nilai miostatin rendah juga menunjukkan peningkatan fungsi kesehatan dan ginjal.

Jika berhasil diaplikasikan pada manusia, penghambatan miostatin akan memberikan manfaat besar dalam dunia medis di masa depan. Selain berperan sebagai "penyembuh" obesitas, terapi ini juga bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang mengganggu fungsi otot seperti infeksi HIV, kanker, dan koma.

Secara realistis, dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami efek miostatin dan penggunaannya pada manusia. Selain itu, terapi dengan memanfaatkan miostatin bisa menjadi solusi bagi penderita obesitas. MIMS

Bacaan lain:

Kurus tapi gemuk: Orang Asia memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan akibat obesitas meskipun memiliki angka IMT lebih rendah
Bagaimana cara menangani pasien dengan reaksi simpang terapi
5 alasan lain mengapa diet Anda tidak memberi efek sesuai dengan yang diharapkan

Sumber:
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/05/170528161001.htm 
https://www.eshg.org/13.0.html 
https://www.heartfoundation.org.au/your-heart/know-your-risks/healthy-weight/bmi-calculator
http://www.cchrchealth.org/health-calculators/body-mass-index-bmi-adults 
https://www.nst.com.my/news/2016/10/179844/malaysias-fattest-country-asia-so-why-arent-we-spending-our-health
http://www.straitstimes.com/singapore/health/rising-obesity-among-young-set-to-worsen-diabetes-rate 
http://www.straitstimes.com/singapore/obesity-also-rising-in-singapore 
https://www.forbes.com/sites/chentim/2017/05/11/were-one-step-closer-to-an-exercise-pill/#4f88a93f4d9b 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2939400/