Pada 11 November 1926, Marian Cleeves lahir dari pasangan dokter dan sarjana ilmu klasik di Glendale, California. Tak ada yang tahu bahwa ia akan menjadi Dr. Marian Diamond, tokoh penting dalam ilmu neurologi modern.

Marian Diamond adalah pelopor dalam bidang penelitian ilmu saraf. Termasuk otak yang mampu berkembang bahkan di usia tua.

Sebagai ilmuwan saraf yang berdedikasi, Dr. Diamond menghabiskan setengah abad mengajar dan meneliti hingga tahun 2014 bertepatan saat ia pensiun diusia 87. Tanggal 25 Juli 2017, ia wafat pada usia ke-90, meninggalkan empat orang anak.

Wanita dengan kotak topi

Marian Diamond dijuluki sebagai "wanita dengan kotak topi" di Universitas California (UC) Berkeley. Dalam kotak topi bermotif bunga yang dibawanya, terdapat benda ‘suci’ paling penting untuk kelas anatomi, yaitu otak manusia yang diawetkan.

Dr. Diamond in 2010, holds a preserved brain and her signature flowered hat bag. Photo credit: Elena Zhukova
Dr. Diamond in 2010, holds a preserved brain and her signature flowered hat bag. Photo credit: Elena Zhukova

Seperti banyak wanita yang mencoba memasuki bidang penelitian yang didominasi pria di masa lalu, Marian Diamond tidak luput dari diskriminasi gender. Ia mengalami ketidakadilan saat menerbitkan salah satu artikel besar pertamanya.

Meskipun menjadi pemrakarsa dan kontributor utama proyek ini, seorang rekan prianya menyindir Marian Diamond bahwa wanita jarang terlibat dalam hal seperti ini. Awalnya kontribusi Dr. Diamond terhadap proyek tersebut nampak kecil. Namun karena tidak terima terhadap ketimpangan tersebut, alhasil namanya bisa tercantum di urutan pertama pada proyek tersebut.

Dr. Diamond terus mengubah tradisi dengan menlanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa pascasarjana wanita pertama dari departemen anatomi UC- Berkeley dimana ia menerima gelar masternya pada tahun 1949 dan gelar doktor pada tahun 1953. Di tahun 1955, dia menjadi pengajar ilmu pengetahuan wanita pertama di Universitas Cornell. Lima tahun kemudian, dia kembali ke UC-Berkeley dimana ia tinggal hingga akhirnya pensiun.

Terobosan baru dalam ilmu saraf tradisional

Pada tahun 1964, Dr. Diamond menerbitkan sebuah makalah inovatif bersama tiga rekannya. Saat itu, terjadi perdebatan antara alam dan pendidikan. Gen masih diyakini berperan penting dalam pembentukan otak. Robert Knight, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf UC-Berkeley, menyatakan, "Gagasan bahwa otak dapat berubah berdasarkan kondisi dan stimulasi lingkungan terasa konyol."

Temuan Dr. Diamond membuktikan bahwa banyak peneliti yang salah. Ia mengembangkan teori plastisitas otak.

The human brain is capable of development even at old age, pioneering neuroscientist Dr. Marian Diamond answered the ongoing debate on nature versus nurture. Photo credit: Luna Productions
The human brain is capable of development even at old age, pioneering neuroscientist Dr. Marian Diamond answered the ongoing debate on nature versus nurture. Photo credit: Luna Productions

Berlawanan dengan keyakinan awal bahwa otak bersifat statis dan merupakan organ yang tidak berubah serta justru menurun fungsinya seiring pertambahan usia, percobaan Marian Diamond menggunakan tikus membuktikan bahwa perkembangan otak dapat dipengaruhi oleh pengalaman hidup seseorang pada usia berapa pun. Terdapat lima faktor yang mempengaruhi, yaitu pola makan, olahraga, tantangan, hal baru dan yang paling mengejutkan – cinta.

Dalam penelitian ini, Marian Diamond membandingkan tikus percobaan dalam kondisi "kaya" dan "miskin". Tikus dalam kondisi "kaya" memiliki teman dan mainan. Spesimen ini memiliki korteks serebral yang lebih besar daripada spesimen dalam kondisi "miskin". Namun, karena banyak tikus yang mati karena usia tua, Dr Diamond mendapati kesulitan memperoleh spesimen yang cukup untuk mempelajari efek lingkungan pada otak berusia tua.

Ia kemudian mengeluarkan tikus dan menyentuhnya, yang dianggap sebagai "cinta". Dengan lingkungan yang baru ini, Marian Diamond membuat mereka hidup hingga 900 hari dan melanjutkan penelitian ini dengan otak berusia tua. Tikus ini mengalami perkembangan otak yang lebih baik.

Setelah meneliti pengaruh cinta tersebut, Dr. Diamond menjadi gencar menyerukan agar membubuhi cinta ke dalam setiap aspek kehidupan kita.

Dengan menunjukkan bahwa otak dapat berubah sesuai kondisi lingkungan, penelitian kontroversial Dr. Diamond mempengaruhi pola pendidikan orang tua dalam mengasuh anak untuk mencapai potensi optimalnya. Kata-katanya tentang "gunakan atau lupakan" yang tercetus dari laboratorium mengingatkan manusia bahwa mereka memiliki kendali atas fungsi otaknya sendiri.

Penemuan di otak Albert Einstein

Pada tahun 1984, Marian Diamond sekali lagi mengejutkan dunia. Ia meminta untuk meneliti otak ahli fisika terkenal Albert Einstein yang diawetkan.

Tiga tahun kemudian, ia akhirnya menerima empat irisan otak Einstein. Apa yang ia temukan di bawah mikroskop merubah kepercayaan dalam ilmu saraf – sel glial (sel pendukung dalam neuron) ditemukan dalam proporsi yang lebih besar di otak Einstein daripada manusia rata-rata.

Sebelum penelitian itu dilakukan, sel glial dianggap tidak terlalu penting. Namun sekarang, sel glial diyakini memainkan peran penting dalam proses kognitif dan masih diteliti hingga saat ini.

Terlepas dari wafatnya Marian Diamond baru-baru ini, karyanya masih terus memberikan inspirasi bagi setiap orang. Di YouTube, video kelas anatomi Dr. Diamond telah dilihat lebih dari 1 juta kali.

Untuk memperingati kontribusinya kepada dunia, sebuah film dokumenter yang membutuhkan tujuh tahun kerja keras dirilis dengan judul “My Love Affair with the Brain: The Life and Science of Dr. Marian Diamond”. MIMS

Bacaan lain:
Kim Noble: Wanita dengan 100 kepribadian berbeda
Mengapa banyak wanita mulai memasuki dunia medis?
Apakah dokter benar-benar mendengarkan keluhan pasien wanita?


Sumber:
https://www.theguardian.com/us-news/2017/jul/30/marian-diamond-neuroscientist-dead-albert-einstein-brain 
https://www.washingtonpost.com/local/obituaries/marian-diamond-neuroscientist-who-gave-new-meaning-to-use-it-or-lose-it-dies-at-90/2017/07/30/ff10060c-752a-11e7-8f39-eeb7d3a2d304_story.html?utm_term=.29c70ea386c9
http://www.sfexaminer.com/marian-diamonds-love-brain-infectious/
https://www.youtube.com/watch?v=TOTeyXQ2_fg 
http://lunaproductions.com/press-mylab/