Sudah tidak ada lagi masa dimana pebisnis harus merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk mengiklankan produk mereka. Media sosial dianggap sebagai pengubah pola permainan di hampir semua hal yang ada. Sebagai salah satu inovasi teknologi terbesar, penjual bisa langsung mencapai target konsumen mereka.

Media sosial juga digunakan sebagai platform 'go-to' yang populer, terutama dalam mengiklankan produk dan pelayanan kesehatan. Baru-baru ini, Instagram menjadi platform terfavorit untuk menjual apapun yang berhubungan dengan kesehatan – termasuk prosedur operasi kosmetik – dan kemungkinan, siapa dokter 'terbaik' di wilayah tersebut.

Iklan operasi plastik yang sangat menarik

Banyak taktik digunakan untuk menciptakan iklan yang menarik dan atraktif bagi konsumen. Instagram merupakan platform yang paling banyak digunakan oleh dokter bedah plastik, terutama untuk mengiklankan jasa mereka.

Jenis iklan yang sering digunakan oleh dokter bedah plastik di Instagram meliputi iklan umum seperti di koran dan juga gambar 'before-after' pasien yang melewati prosedur operasi plastik berbeda.

Jadi, mana yang asli dan palsu?

Pada suatu hari, gambar paling banyak dilihat di Instagram adalah gambar dengan hashtag operasi plastik, seperti #abdominoplasty#breastlift, dan #plasticsurgery. Peneliti memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh mengenai fenomena visual sosial dan medis untuk mengetahui lebih jauh lagi. Mereka menemukan bahwa konsumen kesulitan dalam membedakan antara dokter bedah plastik dengan reputasi baik dan tenaga kesehatan operasi plastik tidak bersertifikasi. Hal ini disebabkan fakta bahwa kebanyakan iklan ini berasal dari dokter tidak bersertifikasi dari negara-negara di luar Amerika.

Di Amerika, penting bagi dokter bedah plastik untuk mendapatkan sertifikat baik dari American Board of Plastic Surgery (ABPS) atau Royal College of Physicians and Surgeons of Canada (RCPSC) agar bisa menjadi bagian dari anggota American Society for Aesthetic Plastic Surgery (ASAPS).

Menurut Dr Clark Schiele, dokter bedah yang berafiliasi dengan Northwestern Medicine, beberapa gambar yang populer di Instagram ini bukan hanya ditujukan untuk prosedur operasi plastik. Gambar ini juga digunakan untuk mempopulerkan hashtag untuk tujuan iklan prosedur berbeda.

"Ini menjadi pemancing dan mengubah apa yang dilihat konsumen yang sedang mencari informasi face-lift; tetapi sebaliknya diarahkan ke informasi mengenai Botox – karena tenaga kesehatan tidak bisa menawarkan prosedur face-lift," jelas Dr Schierle.

Sudah dilaporkan bahwa sekitar 26% gambar Instagram – dalam hal operasi plastik – berupa iklan dari dokter-dokter ginekologi, dermatologi, dokter bedah umum, dokter keluarga, dokter telinga-hidung-tenggorokan, dan dokter gawat darurat. Dokter bedah plastik tidak tersertifikasi yang mengiklankan prosedur operasi plastik seperti ini sering memanfaatkan hashtag Instagram untuk mengiklankan prosedur mereka, apapun spesialisasinya.

Kerugian dokter bedah plastik non-sertifikasi

Sudah banyak konsekuensi negatif dihubungkan dengan praktek dokter non-sertifikasi untuk melakukan prosedur operasi plastik. Di Georgia, dua pasien meninggal saat dokter melakukan prosedur sedot lemak (liposuction).

Di New York, seorang wanita berusia 31 tahun meninggal setelah mendapat suntikan perbesaran pantatnya. Dr Clyde Ishii, presiden ASAPS, menjelaskan, "Konsumen harus mengetahui bahwa operasi kosmetik juga merupakan operasi yang berbahaya – dan mungkin mendapatkan komplikasi."

Karena tidak ada panduan ketat mengenai prosedur operasi plastik dan dokter yang sesuai – dokter bedah oral sebenarnya diperbolehkan secara legal untuk melakukan implan payudara. Peneliti mengakui bahwa ini bukan kesalahan Instagram jika iklannya disalahartikan.

Namun, mereka pikir seharusnya ada luas ruang izin bagi dokter bedah, karena dari 24 organisasi spesialis medis besar yang terhubung dengan American Board of Medical Specialties – hanya satu yang bertugas dalam mengatur dokter bedah plastik.

Dr Samuel Lin, seorang profesor bedah di Fakultas Kedokteran Harvard, mengatakan, "Ada banyak badan organisasi di luar sana – Anda tidak tahu yang mana yang benar, dan yang mana yang salah." Masalah sensor bukan satu-satunya masalah – ada juga pertanyaan mengenai kredensial pengguna.

Untuk sekarang, badan sertifikasi dokter bedah plastik seharusnya memberitahu publik mengenai perbedaan antara dokter bedah plastik tersertifikasi dan dokter 'lain' yang melakukan prosedur operasi plastik.

Menurut peneliti, dokter bedah plastik tersertifikasi dibekali lebih dari enam tahun pengalaman untuk pelatihan; termasuk setidaknya tiga tahun dalam operasi plastik. Tenaga kesehatan dari semua spesialisasi medis, yang mengklaim merupakan seorang dokter bedah plastik, kemungkinan hanya menerima pelatihan atau kelas liposuction, injeksi atau implan payudara.

Tenaga pelayanan harus mengetahui hashtag yang bisa digunakan saat mengiklankan prosedur mereka di media sosial. Setiap tenaga kesehatan memiliki bagian dalam permainan ini untuk memastikan bahwa iklan di platform media sosial tidak memberikan persepsi yang salah ke konsumen.

"Kami ingin melakukannya sendiri karena respek kami terhadap pasien dan sopan santun; tetapi, setidaknya pilihlah kosa kata yang digunakan dan manfaatkan kata-kata tersebut hingga ke tingkatan yang kita merasa nyaman untuk lebih menarik pasien yang dituju," tambah Dr Schierle. MIMS

Bacaan lain:
Dokter: 5 tips menggunakan media sosial
Hal memalukan yang tidak boleh Anda unggah ke media sosial
"Hanya seorang perawat": Catatan hati dunia keperawatan yang sering tidak dihargai

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/08/30/plastic-surgery-instagram-doctors/
https://www.cbsnews.com/news/looking-for-a-plastic-surgeon-on-instagram-beware/
http://www.chicagotribune.com/business/ct-instagram-plastic-surgery-study-0830-biz-20170829-story.html