Konferensi IAS ke-9, mengenai ilmu pengetahuan HIV, diadakan baru-baru ini di Paris, Perancis dari 23-26 Juli 2017. Konferensi internasional – yang kesembilan kalinya – menyajikan hasil dan penemuan dari beberapa penelitian kunci dalam ranah ilmu pengetahuan mengenai HIV. Berikut empat penemuan terbesar dari konferensi ini.

1. Injeksi: Langkah besar dalam terapi HIV

Dosis harian terapi antiretrovirus mungkin bisa digantikan dan diturunkan menjadi enam dosis dalam satu tahun, hasil penelitian yang dipresentasikan oleh ViiV Healthcare. Revolusi terapi HIV ini mungkin dilakukan dengan memberikan injeksi, yang perlahan dan terus menerus melepaskan obat anti-retrovirus HIV ke dalam aliran darah – tanpa memerlukan intervensi pasien atau tenaga kesehatan.

Sekarang ini penelitian sudah mencapai tahap awal pengembangan, injeksi sudah diuji pada 309 pasien dari 50 pusat kesehatan di Amerika, Kanada, Jerman, Perancis, dan Spanyol. Hingga sekarang, hasil penelitian menunjukkan angka keberhasilan hingga 94% (injeksi setiap delapan minggu). Efek samping yang paling mungkin muncul meliputi diare dan sakit kepala.

Hingga sekarang, tim peneliti berencana untuk memperluas penelitian – untuk melingkupi rentang waktu yang lebih panjang dan ukuran sampel yang lebih besar – sebelum bentuk terapi baru siap untuk digunakan masyarakat umum.

2. Obat kanker mungkin merupakan kunci menyembuhkan HIV

Dalam terobosan terapi terbaru, obat anti-kanker ditemukan memiliki potensi sebagai kunci penyembuh infeksi HIV dengan mengadakan reinvigorasi pada sistem imun. Obat antikanker, lebih spesifiknya lagi imunoterapi, bekerja dengan memanfaatkan sistem imun yang sudah ada, meningkatkan mekanisme aksinya dan menggunakannya untuk melawan sel kanker.

Pada kanker, masalahnya muncul karena sistem imun tidak bisa mengidentifikasi atau menargetkan sel kanker, yang memiliki kemampuan untuk menjadi "tidak terlihat" oleh sistem imun. Ini merupakan kasus yang sama dengan HIV dimana sistem imun tidak mampu mendeteksi HIV laten yang tampak dorman dalam sel tubuh kita.

Selain itu, imunoterapi juga sangat berguna dalam mengobati pasien kanker dalam kondisi sangat parah. Dengan memanfaatkan mekanisme aksi imunoterapi, peneliti mungkin sanggup menciptakan terapi HIV sehingga imunitas tubuh manusia sanggup menargetkan HIV.

Meskipun konsep dan mekanismenya mirip, namun HIV dan kanker merupakan dua penyakit yang sangat berbeda. Dengan demikian, masih banyak yang harus dilakukan peneliti untuk menjawab pertanyaan perbedaan penyakit ini.

3. Kombinasi obat mungkin bisa membantu ribuan pasien pengidap HIV

Kombinasi beberapa obat yang murah berpotensi menyelamatkan nyawa ribuan orang di daerah Sub-Sahara Afrika menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Universitas College London.

Dengan mengombinasikan obat tuberkulosis, antifungi, antiparasit dan antibiotik, serta memberikannya ke anak muda di sekitar Afrika Timur, peneliti berhasil menemukan penurunan angka mortalitas yang signifikan. Meskipun kombinasinya tidak meliputi obat HIV tertentu, namun tujuan terapi adalah untuk menargetkan infeksi yang berhubungan dengan infeksi HIV.

Karena stigma sosial dan kurangnya jangkauan terapi HIV hingga tahap keparahan tertentu, kombinasi obat yang sederhana dan murah ini bisa memberikan efek serupa pada kelompok pengguna terapi. Obat ini cukup untuk mengulur waktu pada pasien HIV baru yang sudah mengalami penurunan sistem imun, namun belum mendapat terapi anti-retrovirus.

Dengan biayanya yang murah dan efektivitas tinggi, WHO sekarang sedang merundingkan untuk mengadopsi terapi baru ini di masa depan.

4. Anak yang dilahirkan dari pengidap HIV, sekarang bisa hidup sehat

Terakhir, anak yang pernah terinfeksi HIV sekarang bisa tumbuh sehat selama sembilan tahun sejak terapi anti-retrovirus. Sejak saat itu, anak ini tetap sehat – tidak menunjukkan tanda infeksi HIV meskipun tidak menggunakan terapi obat apapun.

Dengan hanya sedikit residu virus dalam sistem imun anak, peneliti akhirnya mendeklarasikan sang anak sembuh dari infeksi. Meskipun demikian, masih banyak yang harus dipelajari mengenai kejadian ini, khususnya di daerah Afrika Selatan yang memegang kunci pengobatan bayi baru lahir yang merupakan pengidap HIV.

Hingga sekarang, hanya ada tiga kasus anak-anak yang lahir dari pengidap HIV dan tetap sehat tanpa terapi. "Dengan mempelajari anak ini, kami mungkin bisa meningkatkan pengetahuan kami mengenai bagaimana sistem imun mengontrol replikasi HIV," ungkap Caroline Tiemessen dari National Institute of Communicable Diseases (NICD) di Johannesburg.

Sayangnya, anak-anak lain tidak seberuntung ini dan terapi dengan modalitas serupa belum terbukti efektif untuk menemukan hasil serupa. Dengan mencatat hal ini, peneliti terus bekerja untuk menemukan informasi baru mengenai infeksi HIV pada bayi baru lahir dan anak-anak dan menemukan cara untuk melawan infeksi dengan cara yang lebih efektif. MIMS

Bacaan lain:
Enam negara Asia merupakan kontributor terbesar infeksi HIV – lapor PBB
Meningkatkan harapan hidup pasien pengidap HIV
Satu-dua serangan obat bisa digunakan untuk melawan superbug

Sumber:
http://www.bbc.com/news/health-40703336
http://www.bbc.com/news/health-40700770
https://www.theguardian.com/global-development/2017/jul/24/cocktail-of-drugs-could-prevent-10000-hiv-deaths-a-year-claim-scientists
https://www.theguardian.com/society/2017/jul/24/case-of-healthy-hiv-baby-could-help-others-say-scientists