Humor disukai semua orang. Inilah mengapa orang-orang di dunia mengagumi Mr Bean dan komedian Russell Peters. Tetapi apakah humor hanya bisa dikonsumsi sebagai hiburan semata?

Di tanggal 14 Maret 1951 silam, Albert Einstein merayakan ulang tahunnya yang ke-72 dan saat fotografer memintanya untuk senyum, ia malah menjulurkan lidahnya – yang pada akhirnya menjadi fotonya yang paling khas. Hal ini mungkin cukup mengejutkan, karena seorang genius ternyata juga memiliki selera humor anak-anak. Meskipun demikian Einstein mengatakan bahwa humor banyak memperkuat kepintarannya.

Sejak saat itu, banyak peneliti menghubungkan humor dengan kemampuan berpikir dan berakal di tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, tertawa merupakan obat terbaik, tetapi apakah bisa disama artikan dengan memiliki kemampuan inteligensi tinggi?

Jika hal ini dibuktikan benar, perlukah kita semua berhenti membaca buku, bagan dan gambar, kemudian memutuskan untuk menjadi seorang komedian, membuat orang tertawa untuk mencapai kesuksesan?

Tertawa menstimulasi pola pikir kreatif

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa orang yang lucu seringkali membuat orang lain tertawa, dan mereka, juga, lebih sering tertawa sendiri. Ahli neurobiologi menunjukkan bahwa tertawa memicu perubahan di otak, yang mungkin bisa menjadi tanda hubungan antara humor dan inteligensia.

Menurut ahli neurologi, status emosi positif, seperti kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan, meningkatkan produksi dopamin di otak. Hal ini kemudian memicu bagian di otak yang beperan dalam kegiatan belajar, dengan demikian meningkatkan kreativitas dan fleksibilitas.

Individuals who enjoy dark humour, portrayed higher IQ levels compared to those who did not, according to researchers in Austria.
Individuals who enjoy dark humour, portrayed higher IQ levels compared to those who did not, according to researchers in Austria.


Baru-baru ini, peneliti di Austria menemukan bahwa individu yang menikmati humor gelap, cenderung memiliki IQ lebih tinggi dibanding yang tidak.

Dipimpin oleh Ulrike Willinger di Universitas Medis di Vienna, penelitian ini memeriksa 156 orang dewasa, yang terdiri dari jumlah pria dan wanita yang sama dari berbagai latar belakang, dengan rata-rata usia 33 tahun. Mereka diminta untuk memberikan nilai kepada kartun berdasarkan kesulitan untuk memahami lawakan, vulgaritas, semengejutkan apa bagian punch line-nya, dan semenarik apa topiknya.

Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang menikmati humor hitam ditemukan lebih pintar, memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dan tidak terlalu agresif. Di sisi lain, mereka yang tidak menyukai kartun gelap cenderung memiliki tingkat inteligensi lebih rendah dan lebih agresif dan rentan terhadap perubahan suasana hati.

Hal ini mengarahkan kepada kesimpulan bahwa pemrosesan dan memproduksi humor membutuhkan kemampuan kognitif dan emosi.

Hubungan antara humor dan inteligensi sudah ada sejak tahun 90an

Penelitian membangun skeptisme, tetapi penelitian awal mendukung hubungan antara humor dan inteligensia.

Di tahun 1990, ahli biologi A. Michael Johnson membuktikan adanya bukti pada hubungan antara kemampuan perseptual dan motorik dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Partisipan mereka berhasil memberi nilai pada 32 lawakan untuk tingkat kelucuan dan menyelesaikan 14 rotasi masalah mental secara visual.

Mereka yang memiliki waktu rotasi lebih cepat memberikan nilai lawakan sebagai lebih lucu, dan hasil ini membuktikan adanya hubungan antara kemampuan menyelesaikan masalah dengan tingkat humor.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas New Mexico, membandungkan sekelompok komedian dan 400 mahasiswa dalam prosedur kreatif. Penemuan ini menemukan bahwa komedian tidak hanya menghasilkan ide lebih banyak dan lucu dibandingkan yang dibuat oleh siswa, tetapi juga memiliki nilai lebih tinggi pada tes inteligensia verbal, ayng pada umumnya berhubungan dengan kemampuan inteligensia.

Humor bisa menentukan kesuksesan

Humour enhances our well-being.
Humour enhances our well-being.

Di samping itu semua, bukti menunjukkan bahwa humor bisa memperbaiki kehidupan kita; dengan menenangkan dan melepaskan tensi, meningkatkan kepercayaan diri, kompetensi dan status.

Seorang yang lucu ditemukan bisa berkomunikasi secara lebih efektif, dan merupakan seorang pemimpin yang baik. Penelitian dari organisasi positif menyatakan bahwa tempat kerja yang lebih menyenangkan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, dan tingkat kelelahan yang lebih rendah.

Kemampuan seorang yang lucu melihat humor membuat mereka mendapat lebih banyak keuntungan, menurut peneliti di Universitas Stanfod, dipimpin oleh Dr Allan Reiss, seorang ahli neurosains dan psikiatrik anak. Ia juga menyatakan bahwa orang yang lucu lebih ulet dalam menangani situasi yang membuat stres dan sulit.

Dalam hal kegiatan belajar, penelitian menunjukkan bahwa pelajaran yang diberikan berdasarkan humor lebih menarik dan saat siswa menyukai pelajaran, kemampuan mereka, keahlian dan kegiatan mengingat kembali menjadi lebih mudah dilakukan.

Jadi mungkin, menjadi seorang dengan tingkat humor tinggi mungkin merupakan satu hal pintar yang bisa Anda pertahankan. MIMS

Bacaan lain:

Hoax Star Wars membuat empat jurnal saintifik tampak seperti lelucon
Hal memalukan yang tidak boleh Anda unggah ke media sosial
Profesi tenaga kesehatan: Alternatif dari buku medis untuk bacaan ringan

Sumber:
https://theconversation.com/funny-people-are-more-intelligent-than-their-po-faced-peers-84709
http://www.businessinsider.my/being-funny-is-associated-with-having-above-average-intelligence-2015-11/?r=US&IR=T
http://www.lifehack.org/378304/there-any-link-between-humor-and-intelligence
http://www.abroadintheyard.com/sense-of-humour-of-10-historical-figures/ 
http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/black-humour-jokes-sign-intelligence-aggression-a7551841.html 
https://www.opencolleges.edu.au/informed/features/intelligence-humour-are-smart-people-funnier/