Seiring dengan berbagai kemajuan yang ada, dunia kesehatan juga diharapkan mampu mengikuti perkembangan yang ada. Misalnya, saat resep mulai diketik di layar komputer, bukan ditulis manual seperti dulu lagi.

Bagi dokter yang berusia 84 tahun, Anna Konopka, berpartisipasi dalam sistem wajib baru New Hampshire untuk melaporkan resep opioid, dalam upaya menurunkan angka overdosis, tampak mustahil. Karena tidak bisa menggunakan komputer, ia akhirnya merelakan izin prakteknya – untuk menghindari penangguhan dari New Hampshire Board of Medicine.

Kantor Konopka sederhana, hanya terdiri dari tiga ruangan tanpa sentuhan teknologi modern. Tanpa komputer, hanya perangkat telepon dan mesin faks yang tersedia. Ia menyimpan catatan pasiennya, semua tulisan tangan, di lemari arsip tanpa bantuan resepsionis atau perawat.

Kemampuan menguasai teknologi informasi saat ini telah menghalangi pekerjaan Dr Anna Konopka, walaupun kemampuan pencatatan, peresepan dan pengambilan keputusan medisnya cukup mumpuni.

Menggunakan catatan manual

Dr Anna Konopka, 84, berkantor di New London. Sumber: Cheryl Senter/STAT
Dr Anna Konopka, 84, berkantor di New London. Sumber: Cheryl Senter/STAT

Meskipun pengetahuan tentang teknologi informasinya sangat minim, dokter veteran tersebut telah memiliki banyak langganan pasien di kota pedesaan New London yang memiliki 4.000 orang penduduk.

Ia adalah seorang dokter hebat yang tidak akan meninggalkan pasiennya, dan menurut pasiennya, yang kebanyakan tidak memiliki asuransi, ia akan merawat siapa saja walaupun hanya dibayar USD50.

Konopka tidak akan pernah gentar melawan apapun, kecuali belajar komputer.

Karena ingin mendapatkan kembali izin prakteknya, dokter tangguh ini berkata, "Saya tidak kesal terhadap apapun. Sistem hukum adalah permainan. Kamu bergerak. Mereka bergerak. Penuh dengan trik dan gerakan yang berbeda."

"Saya adalah seorang pejuang. Karena itu, selama saya berjuang, saya punya harapan," tambahnya.

Beberapa pasien Konopka belum berpaling ke dokter lain, bahkan 30 orang di antaranya menulis surat ke pengadilan untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

Cheryl Hodgdon, pelatih anjing berusia 56 tahun dari Croydon, yang berkonsultasi dengan Konopka sebulan sekali, berkata, "Dia berbeda. Dia sendirian. Dia tidak diatur rumah sakit manapun; dia juga akan meluangkan sebanyak apapun waktu yang dibutuhkan."

Bahaya "obat elektronik" dalam dunia kesehatan

Bagi dokter yang bergairah, praktek kesehatan memerlukan lebih dari sekadar mengikuti perkembangan teknologi informasi. Konsep "obat elektronik" adalah ide buruk bagi Konopka yang merasa bahwa dengan menggunakan rekaman digital, perawatan pasien telah disabotase.

"Anda menggunakan sistem ini, atau tidak menggunakannya," katanya. "Seperti komunisme: Jika Anda berada di luar sistem, Anda akan dianggap musuh ... Saya mempraktekkan seni medis tradisional. Mereka mengelola pasien dan saya merawat pasien. Saya tidak akan kompromi."

Bertekad untuk tidak pensiun, Konopka menduga bahwa usianya juga yang menjadi alasan munculnya tindakan disiplin dari dewan direksi. "Mereka berpikir saya terlalu tua untuk melakukan praktek dokter," katanya. "Tapi saya tidak ingin pensiun. Tidak masalah berapapun usia saya: saya bisa bekerja sekarang hingga 10 tahun ke depan."

Tak pelak, Konopka menjadi perdebatan terkait bagaimana cara terbaik untuk memastikan bahwa dokter veteran memberi perawatan paling mutakhir.

Konopka sedang melakukan pembelaan di pengadilan pada 3 November 2017. Sumber: Geoff Forester/STAT
Konopka sedang melakukan pembelaan di pengadilan pada 3 November 2017. Sumber: Geoff Forester/STAT

"Ini adalah salah satu pertanyaan besar di bidang pendidikan kedokteran: Apa yang harus dimiliki dokter yang lebih tua untuk menunjukkan bahwa pelayanan praktek kesehatan yang diberikan selalu terjaga?" Kata Dr Anupam Jena, seorang ahli ekonomi kesehatan di Harvard dan seorang dokter di Rumah Sakit Umum Massachusetts.

Interaksi langsung antara dokter dan pasien

Dalam sebuah dengar pendapat di UK General Medical Council (GMC) pada tahun 2007, Dr Satya Das yang telah berpraktek selama 45 tahun, disalahkan karena tidak dapat menggunakan komputer sehingga ia gagal menyimpan catatan pasien dan resep dengan tepat.

"Saya tidak suka komputer, saya tidak mengerti pengoperasian komputer dan saya tersesat," katanya.

Namun, pakar kesehatan lain berpendapat bahwa – dengan banyaknya fungsi teknologi – penggunaan teknologi akan membantu dalam menghasilkan pemindaian cepat dan akurat, laporan lab, tagihan dan penelitian.

Dalam sebuah penelitian oleh Universitas California, San Francisco, para peneliti menganalisis data interaksi dokter-pasien antara tahun 2011 dan 2013.

Dokter yang menghabiskan lebih sedikit waktu menggunakan komputer dilaporkan mendapat tingkat kepuasan pasien sangat baik atau sebesar 80% dibandingkan dengan mereka yang sangat bergantung pada komputer. Para peneliti mencatat bahwa dengan penggunaan teknologi informasi, ada hubungan yang berkurang.

Jadi, seiring dengan banyaknya fungsi dunia digital, hubungan antara usia dan kemampuan menggunakan komputer menjadi tidak jelas. Apakah kekuatan komputer akan menggantikan sentuhan manusiawi dalam praktek kesehatan?

Bagi mereka yang tertinggal oleh arus teknologi, apakah mereka tidak mempunyai kesempatan untuk tetap berpraktek, terlepas seberapa bergairah dan kompetennya mereka? MIMS

Bacaan lain:

Perlukah dokter belajar pemrograman?
Lupa minum obat? — Kotak obat pintar ternyata tidak terlalu berguna
Dokter tidak memperhitungkan biaya saat meresepkan obat atau tes kesehatan

Sumber:
https://www.bloomberg.com/view/articles/2017-12-05/what-a-technophobe-doctor-shows-about-future-of-work
https://www.statnews.com/2017/11/21/elderly-doctor-license/
https://www.statnews.com/2017/11/27/doctor-new-hampshire-license-computer/
https://www.peoplespharmacy.com/2015/12/03/patients-want-doctors-to-look-at-them-not-the-computer-screen/
http://www.echo-news.co.uk/news/local_news/2199315.I___m_a_good_doctor__I_just_can_t_use_a_computer/