Di Inggris, satu dari tiga wanita setidaknya pernah melakukan aborsi satu kali sepanjang hidupnya. Di Amerika, 45% pasien aborsi pernah melakukannya lebih dari satu kali. Namun, aborsi terus mendapat stigma dari publik, dan hal ini sangat memengaruhi wanita di seluruh dunia.

Untuk mengatasi masalah ini, peneliti dari Social and Public Health Sciences Unit di Universitas Glasgow di Skotlandia baru-baru ini melakukan penelitian pada wanita di Skotlandia yang melakukan lebih dari satu kali aborsi. Mereka juga mencaritahu batsan yang dihadapi para wanita ini di pelayanan kesehatan.

Bulan lalu, di Amerika, Institut Guttmacher juga melakukan penelitian untuk mengetahui mengapa beberapa wanita melakukan lebih dari satu kali aborsi. Kedua penelitian menemukan hal yang serupa.

Trends in abortion in the US, from 1973 to 2014. Photo credit: Guttmacher Institute
Trends in abortion in the US, from 1973 to 2014. Photo credit: Guttmacher Institute


Beberapa kali aborsi: Apakah memang kesalahan wanita?

Para wanita seringkali kesulitan mendapat kontrasepsi yang sesuai. Hal ini merupakan salah satu masalah, mengingat beban kontrasepsi sangat dirasakan oleh para wanita dan efek sampingnya bisa jadi mengganggu.

Menurut penelitian Glasgow, lebih seringnya, para wanita yang melakukan beberapa kali aborsi sebenarnya sudah menggunakan kontrasepsi; tetapi, untuk alasan apapun, gagal mengontrol kehamilannya. Misalnya saja kontrasepsi langsung seperti pil atau kondom. Meskipun para wanita ini bisa saja memilih metode jangka panjang seperti implan kontrasepsi atau alat intrauterin – namun alternatif tersebut juga bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

Para wanita juga mungkin mengalami kekerasan oleh pasangan mereka dimana para pria menolak menggunakan kondom atau bentuk kontrasepsi apapun. Ada juga wanita yang memilih melakukan aborsi karena takut melahirkan anak di bawah kondisi yang tidak memungkinkan atau hubungan yang tidak jelas dengan pasangannya. Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa wanita yang sedang menjalani hubungan dengan pria pelaku kekerasan seringkali merasa tertekan, termanipulasi atau dipaksa untuk mengaborsi kehamilannya.

Faktor lain seperti kondisi keuangan, aspirasi karir, edukasi, jumlah anak yang sudah dimiliki dan tidak memiliki rumah sendiri juga merupakan alasan untuk para wanita ini melakukan aborsi.

Women often struggle with finding the right contraception.
Women often struggle with finding the right contraception.


Stigma yang membuat para wanita malu

National Network of Abortion Funds di Amerika melakukan wawancara dengan beberapa wanita yang pernah melakukan beberapa kali aborsi. Mereka menemukan bahwa stigma yang mereka hadapi membuat mereka malu, tidak berharga dan tidak berdaya. Terutama pada wanita berkulit hitam, mengingat mereka juga perlu menghadapi rasisme dan pembatasan akses ke pelayanan kesehatan.

Peneliti Guttmacher menemukan bahwa 54% wanita berkulit hitam dalam penelitian dilaporkan pernah melakukan beberapa kali aborsi – jumlah yang lebih tinggi daripada wanita berkulit putih atau keturunan Amerika Latin.

"Ada stigma di komunitas kulit hitam mengenai menjadi ibu tunggal, menjadi mama Bayi," ungkap Kenya, seorang petugas klinik aborsi di Texas.

"Saya mulai mempertanyakan diri saya mengapa saya tidak bisa mengungkapkan ke orang lain bahwa saya pernah melakukan beberapa kali aborsi. Mungkin ini bisa membuat orang lain merasa tidak bersalah atas keputusannya atau tidak merasa dihakimi. Tidak ada yang membuat malu. Melakukan beberapa kali aborsi merupakan hal yang perlu dilakukan, dan banyak wanita yang melakukannya," tambahnya.

"Penurunan statistik atau dikeluarkan dari polemik moral. Masalah ini masih taboo, mengingat banyak orang, merasa banyak masalah yang bisa muncul jika mereka membagikan cerita aborsi," tutur Felicity Morse, seorang wanita yang pernah melakukan dua kali aborsi.

I’ve had two abortions. I’ve lived with shame for five years, now I have finally let go,” Morse said. Photo credit: iNews
I’ve had two abortions. I’ve lived with shame for five years, now I have finally let go,” Morse said. Photo credit: iNews


Industri kesehatan juga harus menghentikan stigmatisasi

"Rasa takut membuat saya tidak bisa membela diri saya atau meminta apa yang saya perlukan saat memeriksakan diri ke dokter. Saya harap saya tahu (diminta, atau diberitahu) bahwa ini (spiral kontrasepsi) merupakan suatu pilihan – dan bukan hanya diberikan untuk para wanita yang pernah melahirkan," ungkap Morse.

Faktanya, beberapa wanita diminta untuk membeli pil aborsi secara ilegal di internet untuk mencegah penghakiman untuk kembali ke klinik aborsi. Banyak dalam penelitian Glasgow mengakui pernah mengalami reaksi negatif ini dari tenaga kesehatan.

Penulis penelitian Guttmacher juga mencatat bahwa, "kemampuan mengakses perawatan aborsi saat dibutuhkan – jika lebih dari satu kali – harus diprioritisasi" khususnya karena tidak ada outcome kesehatan negatif yang diketahui disebabkan oleh lebih dari satu kali aborsi.

Menjaga akses pelayanan kesehatan, berapa kalipun wanita melakukan aborsi merupakan hal yang dibutuhkan, ungkap mereka, dan merupakan hal yang paling penting demi kesehatan mental dan fisik mereka.

"Tidak ada wanita yang boleh dianggap tidak bertanggung jawab, ceroboh, atau gagal akibat melakukan lebih dari satu kali aborsi," jelas Carrie Purcell, kepala penulis penelitian Glasgow. MIMS

Bacaan lain:
PBB: Hapuskan hukum anti-aborsi di dunia
Internet dijadikan 'jalan pintas' oleh para wanita yang membutuhkan aborsi: Akibat pandangan negatif masyarakat
Euthanasia pada bayi: Perlukah dilegalkan?

Sumber:
https://theconversation.com/attitudes-to-women-who-have-more-than-one-abortion-need-to-change-85707 
http://www.lifenews.com/2017/10/18/activist-defends-women-having-multiple-abortions-ok-to-get-rid-of-pregnancies-they-dont-want/ 
https://inews.co.uk/opinion/comment/ive-two-abortions-i-want-know-shame/ 
https://rewire.news/article/2017/09/13/people-multiple-abortions-stigmatizing-counterproductive/