Rapid diagnostic test (RDT) merupakan salah satu kemajuan terapi malaria dalam sepuluh tahun terakhir ini. Resep obat malaria yang tidak dibutuhkan sudah menjadi tren yang tertinggal, dan menghasilkan terapi yang lebih sesuai dan efisien. Meskipun demikian, hal ini juga menyebabkan semakin tingginya penggunaan antibiotik.

Manfaat dan kerugian RDT pada penyebaran malaria

World Health Organization (WHO) sangat mendukung tes malaria di tahun 2010, agar dilakukan pada 91 negara di benua Afrika. Dukungan ini merupakan bagian dari cara untuk menurunkan penggunaan berlebih obat antimalaria, yang bisa menyebabkan resistensi obat malaria. Sekarang, lebih dari 300 juta RDT dilakukan setiap tahunnya.

Pemeriksaan RDT hanya membutuhkan satu tetes darah dan pengguna bisa langsung memperoleh hasil dalam periode waktu 15 menit. Metode ini sangat berguna untuk mendeteksi keberadaan parasit malaria dalam darah manusia. Dan sangat berguna di daerah terpencil dimana akses pelayanan tes mikroskopik sangat terbatas.

Hanya pasien dengan hasil pemeriksaan positif diberikan obat malaria. Dengan demikian, metode ini bisa menurunkan kasus kesalahan diagnosis dan resep. Pasien yang mengalami demam tanpa terinfeksi malaria akan diberikan obat alternatif, bukan obat malaria.

Meskipun demikian, penelitian menemukan bahwa jumlah pasien penerima antibiotik menjadi semakin banyak. Lebih mengkhawatirkan lagi, antibiotik juga diracik meskipun pasien tidak diperiksa status infeksi bakterinya.

"Hal ini cukup mengejutkan, tetapi kami belum mengetahui alasannya," ungkap Dr Heidi Hopkins, seorang ahli diagnosis malaria di Fakultas Higienitas dan Pengobatan Tropis London, yang juga merupakan salah satu penulis penelitian.

Mengapa pasien malaria diberikan antibiotik bukannya obat antimalaria?

Penelitian, yang dipublikasikan dalam The American Journal of Tropic Medicine and Hygiene, menemukan antara 40%-80% pasien tidak terbukti terinfeksi malaria saat diberikan antibiotik, namun mayoritas pasien mengalami infeksi virus yang tidak bisa diobati dengan antibiotik.

Istirahat cukup, cairan dan obat pereda demam biasanya merupakan pilihan terapi terbaik. Namun, pasien dan tenaga kesehatan seringkali merasa metode ini tidak cukup.

Antibiotik diberikan ke pasien sebagai pencegahan jika infeksi terjadi karena bakteri. Kemungkinan karena terbatasnya akses pemeriksaan kompleks di beberapa daerah terpencil.

"Kami tidak bisa menyalahkan mereka," kata Dr Hopkins. "Beberapa pasien ini merupakan seorang ibu yang membawa anak-anak mereka sejauh 20 kilometer dengan motor atau minibus. Anda bisa sepenuhnya memahami mengapa tenaga kesehatan enggan mengirim pulang pasien hanya dengan belaian kepala dan menyarankan mereka untuk mengonsumsi paracetamol dan banyak minum air putih."

Mengatasi masalah kesehatan dunia

Resistensi antibiotik diakselerasikan dengan kesalahan penggunaan dan penggunaan antibiotik berlebihan. Hal ini merupakan tantangan serius dan melawan resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia.

Beberapa jenis spesies bakteri yang menyebabkan infeksi kulit, meningitis, infeksi menular seksual dan infeksi seluran pernapasan seperti pneumonia, sudah menjadi resisten terhadap antibiotik, sehingga menjadi sulit disembuhkan.

Penelitian sebelumnya sudah melaporkan adanya penurunan 60% dari seluruh angka kematian disebabkan malaria di tahun 2000, berkat efektivitas obat malaria. Terapi kombinasi artemisin sudah banyak memberikan manfaat dalam menurunkan angka kematian disebabkan malaria di dunia.

Meskipun demikian, para ahli juga memperingati bahwa hal ini bisa menjadi ancaman jika resistensi kombinasi artemisin semakin menyebar di seluruh benua Afrika, lokasi kasus infeksi malaria terbesar di dunia.

Penelitian "menggambarkan masalah mengapa mengobati pasien yang datang ke klinik dengan keluhan demam masih menjadi tantangan kompleks" di daerah terpencil, kata Patricia F. Walker, Presiden American Society of Tropical Medicine and Hygiene.

"Teknologi sendiri tidak cukup untuk menyelesaikan masalah kesehatan kompleks; komunitas dan penyedia edukasi, begitu juga dengan perubahan sistem kesehatan, harus dilakukan secara bersamaan untuk meningkatkan outcome pasien," tambahnya. MIMS

Bacaan lain:

Hubungan antibiotik dengan perubahan tingkah laku
Dokter tidak memperhitungkan biaya saat meresepkan obat atau tes kesehatan
Semakin memburuknya kasus resistensi antibiotik di Indonesia

Sumber:
https://www.eurekalert.org/pub_releases/2017-08/b-slm080117.php
https://www.nytimes.com/2017/08/07/health/rapid-malaria-tests.html
https://www.newscientist.com/article/2143109/
http://www.who.int/malaria/areas/diagnosis/rapid-diagnostic-tests/en/
https://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm092810.htm
http://allafrica.com/stories/201708070990.html