Alat peregulasi jantung, defibrilator kardioverter implan (ICD), merupakan primadona penelitian di Asia beru-baru ini. Penemuan dari penelitian baru ini dipresentasikan selama Kongres Kardiologi Asia Pasifik ke-21, di Suntec Convention Center baru-baru ini.

Hanya sedikit warga Singapura yang mau menggunakan alat ICD

ICD merupakan alat kecil, yang dimasukkan ke bawah kulit, untuk memonitor, meregulasi kecepatan jantung pasien. Dengan demikian, alat ini bisa digunakan untuk mencegah kematian jantung mendadak. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa tidak banyak pasien jantung di Singapura yang memilih untuk menggunakan implan – meskipun mereka membutuhkannya.

Kasarnya dua per tiga dari 1.066 pasien di Singapura ditemukan memenuhi syarat untuk alat ICD tetapi hanya 9,4% yang mau menggunakannya.

"Singapura merupakan satu negara dengan pemenuhan syarat ICD tertinggi di Asia, setelah India dan Indonesia," komentar Professor Carolyn Lam, konsultan senior di departemen kardiologi di Pusat Jantung Nasional Singapura (NHCS). Alat ICD ini sudah tersedia di Singapura selama sekitar 10 tahun.

Penelitian dilakukan di 11 bagian negara Asia, yaitu Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Cina, India, Hong Kong, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Penelitian ini dimulai pada 2012 dan rata-rata usia partisipan yang digunakan adalah subjek berusia 60 tahun.

Edukasi penting untuk menyelesaikan faktor penyebab tidak digunakannya ICD

Professor Lam mempublikasikan penelitian terpisah di tahun 2013 yang mencatat beberapa faktor yang mungkin mencegah pasien menggunakan implan.

"Kemungkinan karena rendahnya pemahaman pasien mengenai alat ini dan keterbatasan budaya yang menyebabkan pasien menolak ada benda asing dimasukkan ke dalam tubuh, yang memicu pentingnya edukasi pasien," katanya. Beberapa juga percaya bahwa mereka mungkin tidak bisa mendapat manfaat dari alat ini karena usia tua.

Yang menarik, biaya tidak disebutkan sebagai faktor utama. Bahkan pada pasien yang disubsidi NHCS, biaya alat ini adalah SGD3.883 di tahun 2016. Pasien masih bisa mengonsumsi obat mereka untuk mengobati penyakit jantung jika mereka memutuskan untuk tidak menggunakan ICD.

Professor Lam juga menggarisbawahi bahwa hanya dokter yang bisa memberikan saran mengenai ICD ke pasien. Ia mengatakan bahwa edukasi merupakan hal penting untuk mempromosikan penggunaan implan.

Professor Lam memimpin penelitian terbaru dan tim peneliti juga menemukan bahwa kematian jantung mendadak berhasil diturunkan hingga 66% dengan penggunaan implan ICD. Selain itu, risiko kematian keseluruhan pasien bisa diturunkan menjadi 29% – faktor sekunder pada masalah jantung atau alasan kesehatan lain.

Dari negara yang diteliti, Jepang dicatat memiliki angka penggunaan ICD tertinggi dengan angka 52,5%. Nilai ini diperolej berdasarkan hanya 305 pasien yang memenuhi syarat untuk alat ini. Hong Kong berada di peringkat kedua dengan angka penggunaan 21,2% dari 19 partisipan yang memenuhi syarat. Cina juga berhasil, dari 229 pasien, mencapai angka penggunaan 17,9%.

Secara keseluruhan, disimpulkan bahwa hanya 12% dari partisipan yang memenuhi syarat yang mau menggunakan alat ini.

Singapura masih memiliki manajemen terapi penyakit kardiovaskular yang baik

Berbicara di upacara pembukaan kongres kardiologi, Menteri Kesehatan Gan Kim Yong mengatakan Singapura memiliki kemajuan cukup baik dalam manajemen pasien penyakit jantung. Meskipun demikian, ia mengatakan masyarakat harus terus bertanggung jawab akan kesehatan dirinya sendiri.

"Antara tahun 2000 dan 2015, angka mortalitas prematur untuk penyakit jantung iskemi dan stroke berhasil menurun hingga setengahnya," katanya.

"Namun, masih ada tantangan besar yang menghadang. Di tahun 2015, sekitar satu dari tiga kematian banyak dihubungkan dengan penyakit kardiovaskular," tambahnya. Gan menjelaskan bahwa Menteri Kesehatan mengeluarkan kampanye 'War on Diabetes' tahun lalu karena tingginya hubungan antara penyakit jantung dan diabetes. MIMS

Bacaan lain:
6 alat yang mengubah dunia kesehatan
Alat baru untuk penderita penyakit Parkinson
Mengevaluasi efikasi alat menitoring kesehatan di rumah

Sumber:
http://www.straitstimes.com/singapore/health/low-take-up-of-heart-regulating-implant-in-singapore-asian-study
http://www.straitstimes.com/singapore/health/heart-device-slashes-death-risk-but-few-opt-for-it-study
https://medicalxpress.com/news/2017-07-registry-early-onset-heart-failure.html
http://www.straitstimes.com/singapore/health/continue-fight-against-cardiovascular-diseases-gan